close
Scottish singer Annie Lennox speaks abou
Annie Lennox di acara penerimaan Royal Scottish Geographical Society’s Livingstone Medal untuk aktivisme HIV-AIDS (Foto: Leon Neal/AFP/Getty Images)

Suatu hari di tahun 1985. Elton John membolak-balik halaman sebuah majalah. Matanya tertuju pada lembar yang mengisahkan Ryan White, remaja 14 tahun asal Amerika yang didiagnosis mengidap HIV. Kehidupan remaja asal Indiana ini membuatnya terharu. Dikucilkan dalam pergaulan hingga diusir dari sekolah tidak membuat Ryan berhenti memperjuangkan sebuah kehidupan ‘normal’. Saat itu, informasi tentang HIV-AIDS memang masih sangat terbatas.

Dalam bukunya, Love Is the Cure: On Life, Loss and the End of AIDS, Elton John, sang bintang musik pop, menggambarkan bullying, kekerasan, dan diskriminasi yang dialami Ryan White dan keluarganya. Ia menulis, saat keluarga Ryan makan di restoran, piring bekas makannya dibuang. Orang tua pacarnya juga melarang Ryan menemui anaknya lagi. Ban mobil ibunya juga digembosi orang. Bahkan sebuah peluru pernah ditembakkan ke rumah mereka. Tidak hanya itu. Koran lokal yang mendukung hak-hak Ryan untuk tetap bersekolah juga mendapat teror, termasuk ancaman pembunuhan reporternya.

Di buku itu, Elton juga menulis bahwa keluarga Ryan White adalah penganut Kristen yang taat. Namun setelah kondisi Ryan diketahui publik, jemaat gereja tempat mereka beribadah sangat ketakutan tertular HIV. Ryan dan keluarganya diminta hanya duduk di barisan depan atau belakang. Tidak ada pula yang berani menggunakan toilet jika dia baru dari sana.

Drama semacam itu menggerakkan nurani seorang Elton John. Ia mengundang keluarga White menonton konsernya. Lebih jauh, Oktober 1986, ia mengatur sebuah tur dan pesta pribadi untuk keluarga Ryan ke Disneyland. Elton ingin memberi Ryan sebuah petualangan keren, naik mobil limosin, pesawat, dan menginap di hotel mewah. Elton seakan ingin sejenak melepaskan Ryan dari kesulitan dan rasa sakitnya. Persahabatan mereka makin erat selama bertahun-tahun.

Kesehatan Ryan White memburuk pada 1990. Elton John mendampingi sahabatnya itu saat tutup usia pada 8 April 1990. Dalam pemakaman yang mengharukan, Elton membawakan Skyline Pigeon, sebuah lagu balada dari albumnya yang pertama, Empty Sky, yang dirilis pada 1969. Skyline Pigeon yang kembali dibawakannya saat pemakaman Ryan White kemudian dikenang sebagai salah satu lagu yang bertemakan HIV-AIDS.

Perjalanan hidup Ryan White juga menggerakkan hati bintang musik lainnya. Ya, dia adalah Michael Jackson, The King of Pop. Mirip dengan Elton, ia juga menjadi sahabat yang sangat dekat dengan Ryan White di masa hidupnya.

Michael mengagumi Ryan yang tidak pernah membicarakan penyakitnya dan tidak minta dikasihani. Dalam sebuah percakapan telepon dengan ibu Ryan, Michael pernah berjanji pada Ryan akan memasukkan dirinya dalam salah satu video clip-nya. Namun hal itu tidak terjadi karena Ryan meninggal lebih dulu. Michael tetap menunaikan niatnya dengan membuat sebuah video clip lagu Gone Too Soon, yang dipersembahkan untuk Ryan White, sahabat yang dicintainya.

Gone Too Soon dikenal dunia sebagai salah satu lagu untuk mengenang Ryan White, seorang remaja yang berjuang semasa hidupnya melawan HIV-AIDS.

HIV-AIDS memang telah menggerakkan banyak bintang musik dunia untuk menggalang kepedulian masyarakat. Suara yang sering mereka perdengarkan adalah pentingnya menghilangkan stigma alias cap buruk terhadap orang dengan HIV-AIDS. Suara protes juga sering mereka kemukakan pada para pemimpin dunia yang terkesan diam di tengah meluasnya penyebaran virus ini.

Annie Lennox, vokalis band Eurythmics asal Inggris, pada April 2010 pernah mencuri perhatian dunia dengan penampilannya yang mengenakan kaus bertuliskan “HIV Positive”. Saat itu, ia tampil di layar melalui siaran satelit dalam acara amal Idol Gives Back. T-shirt itu tampak provokatif dan dipergunjingkan banyak penggemarnya. Apakah ia menyandang HIV juga?

“Saya dapat memberi tahu Anda kabar baiknya. Saya tidak HIV positif, tapi ada banyak orang yang terinfeksi. Faktanya, ada 22 juta orang di Sub-Sahara Afrika yang positif HIV,” Lennox menjelaskan dalam salah satu tayangan YouTube. “Dan saya mengenakan t-shirt ini sebagai solidaritas pada mereka, karena sangat sulit bagi yang HIV positif untuk bersikap terbuka tentang statusnya.”

Sebelumnya, Lennox memang telah bertahun-tahun dikenal aktif berkampanye untuk meningkatkan kesadaran tentang HIV/AIDS, terutama di Afrika. SING adalah nama kampanyenya. Bagi Lennox, apa yang perlu dilakukan adalah membuat penyakit ini dipandang ‘normal’, sehingga sama saja dengan penyakit lainnya. Tidak ada stigma di sana.

Ada banyak lagi kisah para penyanyi yang tergerak melakukan sesuatu lewat lagunya untuk meningkatkan kepedulian terhadap HIV-AIDS. Kita dapat menyebut Madonna dalam lagunya In this Life, TLC dalam Waterfalls, atau Pet Shop Boys dalam Being Boring yang konon menjadi semacam elegi atas kematian sahabatnya yang meninggal karena AIDS.

Bagaimana di Indonesia? Ya, kita dapat menyebut lagu Usah Kau Lara Sendiri yang dibawakan Katon Bagaskara dan Ruth Sahanaya sebagai contohnya. Lagu ini sebenarnya telah dirilis cukup lama dan merupakan bagian dari proyek kemanusiaan peduli HIV-AIDS yang dinamakan Act Against AIDS Asia 1995.

Selain itu, tentu kita semua setuju menyebut Lilin-Lilin Kecil yang dipopulerkan Chrisye sebagai lagu yang relevan dengan HIV-AIDS. Pada acara Malam Renungan AIDS Nusantara 1996 di Jakarta, James F. Sundah, sang pencipta lagu ini bahkan pernah tampil membawakan sendiri lagunya itu.

[AdSense-A]

Tri Irwanda

The author Tri Irwanda

Praktisi komunikasi. Mulai menekuni isu HIV dan AIDS ketika bekerja di KPA Provinsi Jawa Barat. Punya kebiasaan mendengarkan lagu The Who, “Baba O’Riley”, saat memulai hari dengan secangkir kopi.

1 Comment

  1. Salam kenal Kang Tri! Tulis juga dong kisah-kisah selebritis dunia dan Indonesia pengidap HIV dan hingga kini masih memelihara kesehatannya sehingga tetap berkiprah dengan profesinya. Dengan wawasan Kang Tri di bidang HIV-AIDS, saya yakin Kang Tri tahu banyak tentang mereka. Satu-satunya seleb yang saya tahu kena HIV hanya Earvin “Magic” Johnson, mantan playmaker LA Lakers.
    Terima kasih!

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.