close
Picture2
Ilustrasi: WikiHow and Birds, Bees, & the STDs

Hai Rumah Cemara,

Nama saya Wenny, 24 tahun. Saya menikah akhir tahun lalu. Beruntung saya sempat melangsungkan resepsi pernikahan sebelum wabah korona.

Saya dan suami memang rencananya menunda punya momongan karena kantor saya bekerja belum mengizinkan sampai tiga tahun ke depan. Saya jadinya minum pil KB atas saran teman. Tapi setelah sebulan, sering muncul bercak darah padahal saya sedang tidak datang bulan. Belum lagi suasana hati saya tidak karuan seperti sedang menstruasi.  

Teman saya itu kemudian menyarankan supaya suami saya yang lebih berperan, yaitu pakai kondom. Tapi dia tidak mau. Sampai hampir dua minggu terakhir saya sering merasa perih dan panas tiap buang air kecil.

Saya ke dokter dua hari lalu. Dokter mengambil cairan serviks, anus, dan tenggorokan saya dengan cara mengusap, mirip seperti swab untuk covid-19 yang sering terlihat di televisi. Pengusapan cairan-cairan itu katanya untuk diuji di laboratorium.

Dokter juga menyatakan, kemungkinan saya terinfeksi bakteri Neisseria gonorrhoeae penyebab gonore atau sering disebut penyakit kencing nanah. Dugaan itu didasarkan pada temuan cairan kehijauan di vagina sebelum pemeriksaan laboratorium tadi menunjukkan hasilnya.

Saya lalu disuntik antibiotik dan diresepkan obat untuk diminum sampai habis. Sebelum pulang, dokter meminta agar suami saya juga ikut diperiksa  dan segera melakukan pengobatan yang sama.

Katanya lagi, sebelum pemeriksaan dan pengobatan gonore dilakukan bersama, saya dan suami sebaiknya nggak berhubungan intim dulu karena penyakit ini menular. Tapi dokter juga bilang, kalau memang harus berhubungan intim, suami diwajibkan pakai kondom.

Pertanyaan saya, gimana cara kasih tahu ke suami supaya ia ikut diperiksa?

Sebelum ke dokter, saya sudah minta izin ke suami untuk memeriksakan kondisi organ reproduksi saya ke klinik di kantor. Tapi, apa dia bakal bisa menerima kalau ternyata istrinya terinfeksi penyakit kelamin?

Pertanyaan selanjutnya, gimana meminta suami untuk tidak berhubungan intim dulu sebelum dia diperiksa juga ya? Lalu, gimana caranya minta dia supaya mau pakai kondom?

Kalau benar penyakit ini menular lewat hubungan kelamin, kenapa suami saya tidak mengeluhkan apapun?

Terima kasih atas perhatian dan jawabannya!

Salam,

Wenny – Bekasi

Jawaban

Salam sejahtera Bu Wenny,

Saya akan mencoba mengurai satu per satu kegalauan Ibu.

Apakah pernyataan Ibu soal saran teman agar suami yang lebih bertanggung jawab secara reproduktif dengan pakai kondom berhubungan dengan penundaan kehamilan?

Jika ya, tentu saja hal ini memang perlu dibicarakan antara suami-istri agar diperoleh kesepakatan dan keberhasilan program penundaan kehamilan serta pilihan kontrasepsi yang akan digunakan.

Untuk diketahui, terdapat lebih dari 30 jenis bakteri, virus, dan parasit atau disebut patogen, agen biologis penyebab penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Delapan patogen bertanggung jawab atas kejadian infeksi menular seksual (IMS) terbanyak hingga saat ini. Dari delapan infeksi patogen itu, empat di antaranya sudah dapat disembuhkan, yakni sifilis, gonore, klamidia, dan trikomoniasis.

Empat lainnya adalah infeksi virus, yakni hepatitis B, herpes simplex (HSV), HIV, dan human papillomavirus (HPV). Gejala atau penyakit akibat infeksi virus dapat dikurangi atau diubah melalui pengobatan.   

IMS menyebar terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom secara vaginal, anal, maupun oral. Beberapa IMS juga dapat ditularkan melalui sarana nonseksual seperti melalui darah atau produk darah. Banyak IMS – termasuk sifilis, hepatitis B, HIV, klamidia, gonore, herpes, dan HPV – juga dapat ditularkan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan.

Langkah Ibu memeriksakan diri ke dokter karena keluhan yang dirasakan merupakan langkah yang tepat dan harus diapresiasi empat jempol.

Pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter yang ibu datangi juga memang sangat tepat dengan mengambil cairan-cairan tadi untuk diperiksa laboratorium kandungan bakteri/ kuman dan disesuaikan dengan aktivitas seksual ibu dan suami. Saya rasa, Ibu dan suami perlu juga memeriksakan darah untuk mengetahui infeksi bakteri, parasit, atau virus jenis yang tidak dapat diperoleh dari pemeriksaan cairan vagina.

Hasil pemeriksaan tersebut akan menunjukkan jenis bakteri/ parasit yang meginfeksi dan menentukan jenis pengobatan terbaik yang dapat diberikan.

Pengobatan IMS hendaknya tidak dilakukan sendiri karena tiap obat memiliki efektivitas yang berbeda. Ini juga untuk menghindari adanya resistansi antimikroba IMS, terutama gonore, terhadap antibiotik. Resistansi antimikroba terhadap antibiotik telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir dan mengurangi pilihan pengobatan. Berdasarkan penelitian, gonore menjadi organisme yang resistan terhadap berbagai obat yang sebelumnya diigunakan.   

Pada umumnya banyak orang hanya mengenal antibiotik. Antibiotik hanyalah bagian dari antimikroba. Mikroba melingkupi di dalamnya berbagai organisme yaitu virus, bakteri (bios/ biotik), jamur, protozoa ataupun parasit. Oleh karena itu, antimikroba merupakan obat yang penting untuk mengobati infeksi pada manusia dan hewan yang diakibatkan oleh organisme jahat mikroba yang menyerang tubuh.

Pengobatan dan perubahan perilaku bersama pasangan perlu dilakukan saat seseorang dalam pasangan terinfeksi penyakit kelamin. Hal ini dilakukan supaya fenomena “bola pingpong”, yakni penularan terjadi bolak-balik saat yang satu sudah sembuh tapi pasangannya masih terinfeksi tidak terjadi.

Keterbukaan dan saling mendukung dalam pengobatan IMS merupakan langkah dan tindakan yang perlu dilakukan supaya pengobatannya tuntas.

Kondisi penyakit akibat infeksi kelamin ini dapat dijelaskan kepada pasangan secara langsung atau dengan bantuan tenaga kesehatan seperti perawat, konselor, atau dokter di klinik yang telah Ibu kunjungi sebelumnya.

Demikian jawaban dari saya.

Salam sehat selalu!

Hendro SpDLP

The author Hendro SpDLP

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.