close
FeaturedKomunitas

Ambil Obat ARV Saat Wabah Korona

oia

13 April 2020. Matahari sudah terang menembus kamar saya. Seperti biasa saat alarm handphone berbunyi pukul 6:30 yang langsung saya cek adalah tulisan “Ambil ARV”. Hah, ARV? Oh ya, saya adalah orang dengan HIV-AIDS. Orang biasa menyebutnya ODHA atau ODHIV. Sudah 17 tahun lebih saya didiagnosis terinfeksi HIV. Lalu, ARV atau antiretroviral ini adalah obat yang saya konsumsi sudah hampir sepuluh tahun ini.

Karena masih lumayan pagi, saya tidak buru-buru beranjak dari tempat tidur. Saya sempatkan setengah jam bermalas-malasan untuk memeriksa handphone dan membaca berita di salah satu portal berita utama langganan saya. Di sana tertera berita ada 4.575 kasus Covid-19 di Indonesia. Hmm ternyata masih saja bertambah setiap harinya.

Lepas santai membaca berita, merapikan ranjang, mandi, dan menikmati minuman pagi, waktu menunjukan pukul 7:50 WIB. Saya periksa kartu berobat  bulanan saya dan bergegas turun ke ke garasi, mengeluarkan motor dan langsung tancap gas menuju Klinik Teratai di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung.

Dalam perjalanan ke rumah sakit, suasana komplek rumah cukup lengang, padahal sebelum ada pandemi corona kawasan ini sering dipadati berbagai kendaraan. Jalan Perintis Sarijadi memang merupakan jalan utama di kompleks perumahan ini.

Lepas dari Jalan Perintis, saya menuju Jalan Surya Sumantri yang terkenal  sebagai daerah kampus dan Jalan Pasteur sebagai jalan utama keluar tol. Saya dapati suasana serupa. Lengang dan terasa lebih segar, karena mungkin polusi kendaraan juga berkurang. Saya bisa memacu kendaraan stabil pada 60 hingga 70 km/ jam, meski tidak harus kebut-kebutan juga.

Di ujung Jalan Pasteur, persis di lampu merah Sukajadi, antrian kendaraan hanya dua baris mobil. Jarak 7 kilometer yang biasa saya tempuh 30 menit, sekarang bisa saya tempuh kurang dari 15 menit.

Singkat cerita, sampai di kompleks Gedung RS Hasan Sadikin, saya langsung menuju Klinik Teratai.  Saya temui pemandangan yang tidak biasa. Suasana klinik yang lebih sepi. Jumlah kursi di luar klinik jadi lebih banyak dan pada setiap 2 kursi ada tanda silang. Saya tahu, tujuannya agar tamu duduk sedikit berjauhan untuk menghindari penularan virus corona. Physical distancing istilahnya.

Saya bergegas menuju ruang pendaftaran. Namun tiba-tiba saya tertahan oleh teman Pendamping Sebaya. Ia memberikan kartu berobat saya, karena saya tidak diperbolehkan masuk sendiri untuk mendaftar.

“Itu aturan klinik saat ini, untuk mengurangi kontak dalam upaya pencegahan korona,” ujarnya.

Wah, lagi-lagi gara-gara korona nih. Seperti diketahui, RS Hasan Sadikin memang menjadi RS rujukan utama bagi pasien korona di Jawa Barat.

Selain saya tidak bisa mendaftar sendiri, saya pun kemungkinan tidak akan mendapat konsultasi dokter seperti biasanya. Saat ini kabarnya para dokter di klinik ini sedang membantu unit lain untuk menangani pasien korona. Jika tidak membutuhkan penanganan serius, saya hanya bisa melakukan pengambilan obat ARV. Saya mengerti dan maklum dengan situasi seperti saat ini.

Sembari menunggu obar ARV, berbincang dengan petugas Pendamping Sebaya tadi. Baiklah, saya jelaskan dulu apa dan bagaimana itu petugas Pendamping Sebaya.

Pendamping Sebaya adalah petugas yang membantu mendampingi ODHIV dalam mengakses layanan kesehatannya, termasuk juga mengoordinasikan layanan-layanan kesehatan yang dibutuhkan. Ini dilakukan karena banyak ODHIV yang kurang paham dengan alur layanan yang harus dia tuju jika terjadi sesuatu. Jadi fungsi petugas ini cukup penting bagi ODHIV, terutama yang baru mengakses layanan kesehatan. Apalagi ODHIV mungkin akan seumur hidup mengakses layanan di rumah sakit sehingga harus paham dengan seluk beluknya.

Kembali ke perbincangan saya dengan petugas pendamping tadi. Saya menanyakan bagaimana mekanisme kerja mereka selama pandemi korona ini. Ia menjelaskan bahwa tugasnya pun sekarang sudah mulai dibatasi. Sehari ia ke klinik dan hari berikutnya work from home (WFH) dalam memantau klien-kliennya. Belum jelas sampai kapan hal ini akan dilakukan. Mungkin sampai pandemi ini hilang.

Setengah jam berlalu, saya pun dipanggil petugas farmasi. Itu adalah panggilan saya untuk mendapatkan obat. Lepas menyelesaikan administrasi di farmasi, obat ARV bulanan sayapun sudah di tangan. Saya bersyukur di tengah pandemi begini masih diberi kesehatan, masih mendapatkan obat yang saya butuhkan sehingga saya tetap bugar dan produktif sebagai ODHIV.

Saya berterima kasih pada siapapun di sana, yang tetap bekerja keras membantu kelancaran pengobatan kami, orang dengan HIV. Kami bisa tetap mengonsumsi obat ARV ini. Saya yakin alam semesta akan membalas kebaikan dan kerja keras kalian. Hatur nuhun.

Nio

The author Nio

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.