close
download
Gambar: Todocolección

Kata-kata tersebut mungkin menimbulkan pertanyaan, “Apakah ketiganya berhubungan?”

Untuk mengulasnya, saya akan mulai dari megalodon.

Ya. Film The Meg produksi Warner Bros. Pictures yang rilis 2018 lalu menampilkan karakter hiu raksasa dikenal sebagai megalodon. Kata megalodon berasal dari bahasa Yunani Kuno, μέγας (dibaca megas) yang berarti besar atau agung dan ὀδόν (dibaca odon) yang berarti gigi. Megalodon adalah spesies hiu yang hidup sekitar 1,5 juta tahun yang lalu dan telah punah.

Kata-kata lain yang berawalan mega seperti megalodon, umumnya menggambarkan sesuatu yang sangat besar. Misalnya megabit yang berarti satu juta bit, ukuran jumlah data. Megalodon berarti gigi yang sangat besar. Tapi, dalam bahasa Indonesia, “mega” berarti awan.

Orang-orang yang bersinggungan dengan obat-obatan di Indonesia, khususnya generasi 90-an ke bawah, sebagian mengenal Mogadon. Jenama nitrazepam 5 mg ini diproduksi oleh Roche, perusahaan farmasi Swiss yang juga beroperasi di Indonesia.

Beberapa orang kadang salah sebut Mogadon menjadi “megadon”. Tentu saja, Mogadon tidak ada hubungannya dengan sesuatu yang besar atau mega. Apalagi megalodon, hiu raksasa. Apa hubungannya sama obat?

Kini, Mogadon sudah tidak dipasarkan di Indonesia. Walaupun demikian, nitrazepam 5 mg sampai hari ini tetap diresepkan untuk mengatasi gangguan cemas dan insomnia dengan jenama Dumolid.

Kalau Mogadon tidak ada hubungannya dengan megalodon, bagaimana dengan metadon?

Perbedaan keduanya terletak pada khasiat yang berhubungan dengan cara kerja zat-zat tersebut di otak.

Nitrazepam yang dipasarkan dengan jenama Mogadon dan Dumolid adalah obat tidur (hypnotic) jenis benzodiazepine. Selain mengatasi kecemasan dan susah tidur, nitrazepam juga berkhasiat menenangkan, membuat lupa (amnestic), dan antikejang karena merupakan relaksan otot. Obat ini juga digunakan untuk ayan.

Seperti clonazepam (Riklona), diazepam (Valisanbe), atau alprazolam (Xanax, Zypras) yang merupakan obat jenis benzodiazepine, nitrazepam bekerja pada reseptor benzodiazepine di otak berkaitan dengan neurotransmiter dan hormon bernama GABA. Salah satu partikel otak ini berperan dalam menginduksi kantuk, relaksasi otot, pengendalian cemas dan kejang, serta memperlambat kerja sistem saraf pusat.

Di lain pihak, metadon adalah opioid (produk turunan opium) sintetis. Zat ini bekerja pada reseptor opioid di otak yang menghasilkan efek mirip morfin, yakni pereda nyeri. Morfin yang diproduksi tubuh secara alami dikenal sebagai endorfin, berasal dari kata “endo” yang berarti internal atau di dalam dan “morfin” yang berarti mematirasakan, diambil dari nama Dewa Yunani Kuno, Morpheus yang diasosiasikan dengan tidur dan mimpi.

Opioid sintetis selain metadon di antaranya tramadol dan fentanyl.

Selain sebagai pereda nyeri, obat-obatan jenis opioid juga berkhasiat untuk mengobati diare dan meredakan batuk. Sejumlah literatur kedokteran menyebutkan kalau tramadol efektif untuk mengatasi ejakulasi prematur.

Di Indonesia, metadon diperkenalkan dalam terapi untuk menggantikan konsumsi heroin (juga produk turunan opium) yang banyak dilakukan dengan cara suntik sehingga menyebabkan lonjakan kasus HIV pada 2000-an awal. Metadon cair diminum setiap hari agar para pecandu tidak lagi mengonsumsi heroin atau putau.

Di samping mencegah penyuntikan narkoba yang berisiko menularkan virus darah, terapi metadon juga membuat konsumen opioid hidup lebih produktif. Dibandingkan putau yang efeknya hanya bertahan hingga empat jam, efek metadon bisa bertahan hingga 36 jam. Seorang pasien hanya butuh mengonsumsi narkoba sehari sekali sehingga sisa waktunya bisa dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan produktif.

Mutu dan harga jual metadon terjamin karena sejak 2008, Pemerintah RI memfasilitasi produksi dan layanan terapi metadon hingga di tingkat puskesmas.

Ini berbeda dengan putau yang harga jualnya ditentukan sesuka hati pengedarnya karena merupakan komoditas pasar gelap. Mutunya pun tidak terjamin. Kalau kebetulan mendapat putau yang bagus, konsumen berisiko mengalami overdosis. Tapi kalau mendapat yang mutunya rendah, konsumsi harus dilakukan berkali-kali sehingga menghabiskan lebih banyak uang. Bahkan ada saja konsumen yang akhirnya melakukan kejahatan demi memenuhi kebutuhan narkobanya.

Semoga penjelasan ini bermanfaat menambah wawasan tentang narkoba, khususnya yang sering disebut oleh khalayak di Indonesia. Juga, semoga artikel ini bisa mempertegas perbedaan di antara metadon, Mogadon, dan megalodon.

Patri Handoyo

The author Patri Handoyo

Pencinta kopi dan perpaduan benzo-opioid. Menekuni kesenian selama hayat masih dikandung badan. Peneliti partikelir serta kontributor di beberapa kelompok advokasi dan pendidikan alternatif.

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.