close
FeaturedLayanan

Benarkah Overdosis Ganja Tidak Sebabkan Kematian?

The-First-Ever-Death-From-Cannabis-Overdose-1024×656
Ilustrasi: Zenpype.com

Badan Narkotika Nasional (BNN) memperkirakan terdapat 1,7 jutaan penduduk Indonesia yang mengonsumsi ganja pada 2017. Ini merupakan narkoba yang paling banyak konsumennya di Indonesia.

Kenapa ganja yang paling banyak dikonsumsi?

Pertanyaan itu dilontarkan Kabid Litbang Pusdatin BNN, Endang Mulyani pada acara Dialog Nasional Pengurangan Dampak Buruk Konsumsi Narkoba, 3-6 Maret 2019 lalu di Jakarta.

Seorang teman lama dari Banten yang duduk di sebelah saya spontan menjawab, “Karena ganja tidak berbahaya!”

Sebuah jawaban asal, karena saya tahu dia suka ngisap ganja. Padahal ada sejumlah alasan kenapa ganja sangat populer di Indonesia. Antara lain, riwayat keberadaan tanaman itu sendiri di tanah air.

Menurut perkiraan BNN dalam laporan surveinya yang dipaparkan dalam dialog nasional itu, sabu dikonsumsi 851 ribuan orang sedangkan konsumsi obat sakit kepala secara berlebihan dilakukan 616 ribuan penduduk Indonesia. Keduanya berturut-turut menjadi narkoba populer kedua dan ketiga setelah ganja.

Saya jadi teringat meme berikut ini,

Saya yakin meme itu juga menghampiri layar ponsel pegiat advokasi kebijakan serta konsumen ganja di seluruh jagat, termasuk teman saya dari Banten tadi.

Sebagai insan yang dikaruniai akal, saya bertanya-tanya, ini data kematian tahunan di mana dan kapan? Dalam meme tidak disebutkan sumber datanya. Saya menduga itu daftar penyebab kematian tahunan di Amerika Serikat (AS).

Ali H. Mokdad dkk. dalam “Actual Causes of Death in the United States, 2000” yang dipublikasikan Journal of the American Medical Association, 10 Maret 2004, menguraikan penyebab kematian aktual di AS pada 1990 dan 2000 dalam sebuah tabel. Kematian akibat tembakau dan konsumsi alkohol pada tahun 2000 angkanya sama dengan di meme. Dalam tabel itu tertera juga kematian akibat diet dan olahraga yang buruk serta kecelakaan kendaraan bermotor. Tapi angkanya berbeda dengan yang di meme.

Common Sense for Drug Policy (CSDP), sebuah organisasi nirlaba untuk reformasi kebijakan narkoba, menayangkan daftar penyebab kematian di AS dalam situs webnya. Selain dari laporan pemerintah AS, daftar tersebut juga menggunakan data dari laporan Mokdad dkk. Di tayangan inilah, ganja disebut tidak menyumbang kematian di AS sampai 2016.

Seperti Rumah Cemara yang selalu menjaga kredibilitas informasi di situs webnya, CSDP pun saya rasa demikian. Mereka tidak melakukan klaim sepihak bahwa kelebihan konsumsi ganja belum pernah menjadi penyebab kematian di negaranya. Buktinya, dalam laporan “Kematian akibat Overdosis Narkoba Nasional, 1999-2017”, ganja juga tidak disebut-sebut sebagai penyebab kematian akibat kelebihan dosis narkoba. Laporan itu dibuat oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.

Seakan tidak puas membandingkan dengan kacang, para pembuat meme juga membandingkan jumlah kematian akibat ganja dengan keracunan air minum!

Sebagai aktivis pembaruan kebijakan narkoba, saya setuju dengan uraian data di atas karena sesuai dengan beberapa literatur. Tapi sekali lagi, sebagai insan yang menjunjung tinggi kaidah ilmiah, saya harus membuktikan klaim itu. Ilmuwan bisa salah, tapi tidak boleh berbohong dan asal klaim!

Dua profesional medis yang saya kenal pun saya mintai penjelasan ilmiah kenapa overdosis ganja tidak pernah dilaporkan menyebabkan kematian. Seorang di antaranya sambil tertawa bilang, di Indonesia susah buat cari datanya. Ia pun membagi sebuah tautan situs jurnal kesehatan.

Ternyata tautan itu adalah subbab mengenai kecelakaan dan kematian dari sebuah laporan berjudul “The Health Effects of Cannabis and Cannabinoids: The Current State of Evidence and Recommendations for Research”. Di subbab ini ada setidaknya empat bagian pembahasan, yakni Semua Penyebab Kematian, Kecelakaan Kerja, Kecelakaan Kendaraan Bermotor, dan Cedera serta Kematian akibat Overdosis Ganja. Laporan ini mengulas kajian-kajian tentang ganja yang pernah dilaporkan.

Menariknya, studi itu memuat kesimpulan yang sama untuk tiga bagian pembahasan yakni tidak ada cukup bukti untuk mendukung atau membantah hubungan statistik antara konsumsi ganja dengan semua penyebab kematian, kecelakaan kerja, serta kematian akibat overdosis. Namun terdapat bukti substansial untuk peningkatan risiko kecelakaan kendaraan bermotor. Lalu, terdapat bukti moderat terhadap peningkatan risiko cedera overdosis, termasuk gangguan pernapasan pada anak-anak di wilayah AS yang memperkenankan konsumsi ganja.

Jadi jumlah kematian yang nihil akibat konsumsi berlebih ganja memang bukan isapan jempol belaka. Kajian-kajian ilmiah, setidaknya hingga 2017, tidak menemukan cukup bukti untuk mendukung atau membantah hubungan statistik antara konsumsi ganja dan kematian karena overdosis zat tanaman ini. Meski demikian, peningkatan risiko cedera saat bekerja, berkendara, dan konsumsi tidak disengaja oleh anak-anak perlu mendapat perhatian.

Konsumsi secara tidak disengaja oleh anak-anak, terutama pada bahan olahan ganja menjadi makanan seperti kue, telah menyebabkan gagal napas dan koma sebagaimana dilaporkan dalam kajian di jurnal tersebut.

Ada satu kematian yang dilaporkan pada 2015. Seorang remaja tewas di Colorado, AS. Analisis jasadnya menemukan kandungan THC (delta-9-tetrahydrocannabinol) dalam darahnya karena telah memakan kue dengan kandungan 65 mg zat psikoaktif ganja itu. Namun penyebab kematiannya adalah trauma karena lompat dari balkon di lantai empat sebuah bangunan (Hancock-Allen dkk., 2015).

Saya pegiat advokasi kebijakan narkoba, tapi saya tidak menyembah tanaman ganja dan tanaman berkhasiat psikoaktif lainnya seperti opium atau koka. Saya berpandangan, tanaman-tanaman tersebut tidak sempurna. Pasti ada saja kekurangannya. Tapi tetap, saya takjub dengan apa yang disampaikan berbagai literatur ilmiah tentang ganja, terutama soal kematian akibat kelebihan konsumsinya. Saya jadi sangat penasaran, kenapa kelebihan THC tidak bikin mati?

Untuk keperluan tulisan ini, saya mencari-cari literatur yang menggunakan bahasa paling sederhana. Sehingga, walaupun ilmiah, awam bisa memahaminya.

Dalam Weed: The User’s Guide, David Schmader menulis, bahkan aspirin bisa membunuhmu kalau dikonsumsi terlalu banyak. Tapi, lanjutnya, dosis mematikan ganja membutuhkan konsumsi 1.500 pound atau 680,38 kg tanaman itu dalam lima belas menit. Ini mustahil dilakukan manusia, sekalipun itu Snoop Dogg, rapper yang terkenal doyan nyimeng.

Gambar berikut mengilustrasikan jumlah ganja yang perlu dikonsumsi untuk bisa mati,

Foto: Twitter Melia Russel @meliarobin

Menurut The National Cancer Institute, alasan kenapa konsumsi ganja berlebihan tidak menyebabkan kematian, karena reseptor ganja tidak ditemukan di bagian batang otak yang mengendalikan napas. Kebanyakan kematian akibat overdosis obat terjadi karena kombinasi sedasi dan menurunnya fungsi pernapasan.

Tidak seperti reseptor opioid yang terletak di batang otak, reseptor ganja terletak di seluruh tubuh dan tidak mengganggu fungsi vital seperti bernapas. Reseptor ini terutama terletak di pusat dan pinggir-pinggir (perifer) sistem saraf serta sejumlah organ termasuk lever dan kelenjar timus, berfungsi sebagai tempat produksi sel yang dibutuhkan dalam sistem kekebalan tubuh. Karenanya, kelebihan konsumsi ganja tidak dapat menyebabkan kekurangan oksigen dalam tubuh.

Bagaimanapun, karena reseptor ganja terletak di pusat sistem saraf, konsumsi ganja menyebabkan tekanan darah rendah dan hilangnya ingatan jangka pendek, percepatan detak jantung, berkurangnya kemampuan motorik, dan efek samping lain yang menghalangi kinerja tubuh dalam banyak kegiatan.

Kemampuan fisik dan penilaian yang terganggu akibat THC bisa saja membuat konsumen ganja merasa berada pada situasi yang tidak aman.

Satu hal lagi, berbeda dengan mengisap asap yang langsung diserap pembuluh darah di sistem pernapasan, makan makanan mengandung ganja perlu waktu lebih lama melalui proses cerna sampai THC berada dalam darah. Kandungan THC yang tinggi mengakibatkan kecemasan berlebih sampai paranoid, mual dan pusing, serta tidak mampu menggerakkan tubuh dengan benar.

Untuk itu dalam bukunya, Schmader merekomendasikan para konsumen supaya mengatakan pada diri sendiri kalau dirinya tidak berada dalam bahaya yang sesungguhnya.

Minumlah air secukupnya supaya tetap terhidrasi. Makanlah camilan untuk meningkatkan gula darah, dianjurkan yang siap makan supaya tidak perlu memasak dan menyalakan kompor yang dalam kondisi ini bisa meningkatkan risiko kecelakaan dan menyebabkan cedera. Bernapaslah dalam-dalam dan teratur. Tetap tenang. Pada akhirnya efek tidak menyenangkan itu akan berakhir cepat atau lambat – penderitaan itu hanya berlangsung beberapa jam. Ajaklah orang yang bisa dipercaya untuk menemani.

Dikutip dari laman Greencamp.com, pertolongan pertama buat orang yang kebanyakan konsumsi ganja adalah sari lemon yang ditaburi merica (pepper lemonade). Lemon membantu untuk tetap terhidrasi dan mengatasi sindrom mulut kering. Sedangkan merica mengandung senyawa yang mampu menghilangkan efek samping THC.

Kalau masih merasa dalam bahaya, cari tahu tentang apa yang terjadi pada Maureen Dowd yang kebanyakan makan coklat mengandung THC saat mengunjungi Colorado. “Ketik kata kunci ‘Maureen Dowd Colorado’ di mesin pencari yang terpasang di gawaimu!” tulis Schmader di bukunya. Atau kita akan bahas soal pengalamannya itu di lain waktu!

Patri Handoyo

The author Patri Handoyo

Pencinta kopi dan perpaduan benzo-opioid. Menekuni kesenian selama hayat masih dikandung badan. Peneliti partikelir serta kontributor di beberapa kelompok advokasi dan pendidikan alternatif.

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.