close
pahlawan
Ilustrasi pahlawan nasional (Gambar: Zona Referensi)

Bukankah semua yang hidup akan mati dan kembali pada Illahi?

Oleh: Yunanda T.C. <yunanda_tc@yahoo.co.id>

Suzana Murni, pendiri Spiritia berkata: ‘Sy tidak kehilangan martabat sy sbg manusia hanya krn sy HIV (+), sy bangga atas diri saya sendiri, atas usaha sy menghadapi hidup sebaik kemampuan sy. Sy sayang pada diri sy sendiri. Dan tidak perlu ada rasa malu atau bersalah yg mengikat langkah sy. Dan bagi sy meninggal krn HIV bukan berarti sy lbh hina drpd yang meninggal krn sakit jantung, kanker atau yg lainnya”.

Lalu, kalau begitu apa berbedaan antara orang yg HIV (+) dg (-)?, Samsu Budiman dr Yayasan Kuldesak menjawab hanya terbatas pada kepemilikan virus dan tidak. Hanya krn anda mengkonsumsi Lamifudine dan Evafirene sedangkan aku Paracetamol dan Ibuprofen. Hanya krn anda perlu periksa CD4 dan VL sedangkan aku periksa kadar gula darah dan kolesterol.

Di hadapan Tuhan pun kita memiliki nilai martabat yang sama. Tuhan tidak pernah melihat sakit kita apa tapi usaha apa yg telah kita lakukan untuk menemui kesembuhan. Belum tentu juga orang yg HIV (+) memiliki martabat yang lebih rendah drpd lainnya. Bukankah Preman yang tobat menjadi Kyai lebih lbh baik, drpd Kyai yg pensiun kemudian menjadi preman? Kadang masa lalu yang buruk, bisa membuat masa depan lebih baik, kata Umar Bin Khatab. Setiap orang suci pasti punya masa lalu, dan setiap pendosa pasti punya masa depan, jadi seburuk apapun masa lalumu, yakinlah masa depanmu akan suci.

Lalu kenapa Tuhan memilihkanmu penyakit itu? Arthur Ashe, HIV (+) dan seorang pemenang Wimbledon, kejuaran tenis dunia berkata: di dunia ini ada 50juta orang yg ingin bermain tenis, di antaranya ada 5juta orang yg benar-benar bisa belajar tenis. di antara itu ada 500rb orang di antaranya ada yg bermain menjadi profesional. Kurang dari 50rb orang bermain di arena. mungkin 5rb di antaranya berhasil mencapai turnament grand slam. hanya 50 orang yg berhasil sampai wimbledon, 4 orang masuk semi final dan 2 orang berlaga di final. ketika sy mengangkat trofy Wimbledon sy tidak pernah bertanya kpd Tuhan mengapa sy yg terpilih. Jadi ketika skrng sy dalam kesakitan, tdk seharusnya juga sy bertanya kepada Tuhan mengapa sy yg terpilih.

Nelson Mandala berkata: Seseorang pemberani bukanlah orang yang tidak punya rasa takut, tetapi dia yang bisa menaklukan ketakutan itu. Wahai sahabatku, tetaplah menjadi kuat, tetaplah menjadi survivor, tetaplah menjadi penyintas, hingga suatu saat obat penyembuh HIV di temukan. Buatlah anak cucumu bangga kepadamu. Jadikanlah diri kalian sebagai bagian dari sejarah untuk kemajuan dunia. Jadikanlah diri kalian sebagai pahlawan, bagi kalian sendiri dan dunia. Jadikanlah diri kalian seperti Suzana Murni, Freddy Mercury, Ji Wallce, Magic Johnson. Kenapa? Because you are a Hero.

Redaksi

The author Redaksi

Tim pengelola media dan data Rumah Cemara

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.