close
FeaturedKomunitas

Cerita Soal Pangan Kelompok Waria Pasundan di Masa Pandemi Covid-19

Untitled2
Foto ilustrasi: Jimmy Jaker Gotong Royong

Siapa yang tak senang dapat bingkisan?

Sejumlah dermawan turun dari mobil, memberi kardus bingkisan yang katanya bantuan sembako untuk orang-orang yang ada di jalanan Kota Bandung tengah malam menjelang sahur di awal Ramadan. Beberapa waria, turut dikenal dengan sebutan transpuan (transgender perempuan), juga menerima bingkisan itu. Sebagian dari mereka memang biasa bekerja hingga larut dan berjalan pulang tengah malam.

Siapapun yang menerimanya akan membuka dengan rasa syukur.

Tapi sundal! Isi dalam kardus bingkisan itu bukan beras, gula, mi instan, atau bahan makanan lainnya, melainkan sampah dan batu.

Waktu itu di Bandung diberlakukan pembatasan sosial berskala besar untuk menekan laju penularan covid-19. Warga diperintahkan untuk diam di rumah saja, batas kota dijaga supaya warga luar tidak masuk, kalaupun ingin lewat batas harus dilengkapi surat tugas serta berbagai protokol kesehatan, aktivitas bisnis juga ditutup.

Sejak 22 April 2020, Kota Bandung sepi dari aktivitas warga di luar belanja bahan pangan. Banyak yang tidak tidak keluar rumah untuk mencari nafkah. Mereka melakukannya lantaran antara larangan pemerintah atau takut tertular virus korona.

Di saat seperti ini, warga yang mencari makan di luar rumah tentu berharap bantuan pemerintah entah dalam bentuk uang tunai maupun bahan pangan. Tak terkecuali waria. Kelompok ini banyak yang bekerja di sektor informal. Sebutlah salon atau mengamen. Mereka rentan kelaparan sebagaimana dengan para pekerja seni yang tempat-tempat mereka biasa manggung ditutup.

Ada juga waria yang tergabung dalam organisasi, kebanyakan untuk penanggulangan HIV-AIDS seperti Yayasan Srikandi Pasundan yang banyak berkegiatan di Bandung dan Jawa Barat. Di antara mereka, beberapa terbiasa bekerja dengan dinas sosial setempat.

Medio April 2020, Luvhi Pamungkas (48) ketua Yayasan Srikandi Pasundan pernah menanyakan soal bantuan sosial (bansos) ke pejabat Dinsos Kota Bandung yang biasa bekerja dengan yayasannya. Pejabat dinas itu menyuruh Luvhi membuat proposal dana bantuan, padahal waktu itu Keputusan Menteri Sosial RI untuk bantuan sosial tunai dan sembako untuk menangani dampak wabah covid-19 baru ditandatangani.

“Itu bedanya apa sama proposal program? Bansos untuk covid mah kan buat semua yang kena dampak korona. Kami jadi males (tanya-tanya lebih lanjut soal bantuan sosial),” keluh Luvhi.

Tadinya di kelompok pertemanan Luvhi, mereka rajin saling bertanya soal bantuan sosial untuk mengatasi dampak wabah. Tapi hampir semua menjawab tidak menerima.

Seperti harapan kepada dermawan yang membagikan bingkisan di tengah malam untuk “panjat sosial”, harapan kepada pemerintah sama mengecewakannya.

Untungnya Luvhi dan kawan-kawan tidak hanya bergaul dengan pemerintah, dalam hal ini dinsos, atau berpangku tangan pada bantuan dermawan. Saat salon ditutup dan mengamen tidak bisa diandalkan untuk cari makan, Luvhi dan teman-teman saling bertukar gagasan untuk mengatasi persoalan perut mereka. Salah dua gagasan itu adalah beternak lele dan bercocok tanam untuk sekadar makan.

Untuk bertahan hidup, pangan adalah koentji!

Dapur Umum Caringin

Ide berkebun dan beternak mereka dapatkan dari Jaringan Kerja Gotong Royong. Jaringan ini dibentuk akhir Maret 2020 ketika warga dibuat bingung dengan ulah pemerintah mengatasi pandemi covid-19.

“Awalnya kita diajak Bang Harold dari LBH Bandung untuk gabung di jaker (jaringan kerja) itu,” ungkap Luvhi. “Kami pun main-main ke sekretariat LBH. Di sana kami lihat pembibitan sayur dan dapur umum,” lanjutnya.

Setelah melihat dan berbincang langsung dengan para pegiat di jaringan kerja itu, Luvhi dan teman-temannya di Srikandi Pasundan mengadakan rapat. Mereka berniat mengubah kegiatan Program Peduli yang sedang mereka laksanakan bersama PKBI Jawa Barat. Program itu memang ditujukan bagi waria di sejumlah kota Jawa Barat untuk kesehatan reproduksi.

Pengajuan perubahan program pun disetujui. Yang mereka lakukan pertama kali adalah membuat dapur umum.

Ya, sebagian anggota Srikandi Pasundan memang gemar memasak. Kediaman Fiona (44), yang sekaligus menjadi salon kecantikan di daerah Caringin, pun disulap jadi dapur umum.

Tak hanya serius memasak, mereka tak main-main soal kemasan.

Kemasan makanan di Dapur Umum Caringin (Foto: Fiona)

Banyak dapur umum di masa pandemi ini mengemas masakannya hanya dibungkus kertas untuk dibagi-bagikan ke mereka yang dianggap membutuhkan. Tapi Fiona dan teman-temannya tidak demikian. Mereka juga membagikan hasil olahan dapurnya ke kelompok rentan kelaparan seperti korban PHK yang banyak terjadi pada warga sekitar, tapi kemasannya lebih apik.

Di dekat kediaman Fiona, setidaknya 25 waria berprofesi sebagai pengamen. Mereka indekos di Kelurahan Caringin, Bandung Kulon. Merekalah yang kerap bekerja untuk dapur umum ini di masa krisis ini.

Waktu ditanya, kenapa tidak sekalian bertanam dan beternak? Luvhi menjawab, karena memasak di dapur umum lebih bisa menggantikan kegiatan mengamen yang biasa dilakukan teman-temannya di sana.

“Bayangkan, mereka ngekos ramai-ramai. Satu tempat kos enggak diisi satu orang, bisa dua sampai empat orang. Lahan di tempat kos kan enggak luas!” terang Luvhi.

Luvhi menambahkan, mereka ada di tempat indekos hanya untuk tidur. Selebihnya, mereka biasa ada di luar entah di pasar atau jalanan untuk ngamen. Jadi dapur umum di tempat Fiona sangat berarti untuk menggantikan kegiatan mereka di luar tempat indekos.

Di dapur umum, mereka tidak hanya memasak. Kegiatan mereka berkisar dari belanja bahan, mengemas makanan, hingga membagi-bagikan masakan mereka ke orang-orang yang membutuhkan seperti yang bisa disaksikan di tayangan ini.

Dapur Umum Caringin, begitu biasa disebut, pertama kali beroperasi saat bulan Ramadan. Fiona dan teman-temannya masak untuk hidangan buka puasa. Setelah lebaran, dapur umum ini beroperasi tiap hari Minggu untuk makan siang terutama buat para korban PHK di sekitar.

Fiona mengaku, saat ini dapur umumnya hanya beroperasi dua minggu sekali karena setiap dua minggu sekali pula ia pulang ke kampungnya di Garut untuk urusan lain setelah Jawa Barat mengakhiri pembatasan sosial berskala besar akhir Juni. Sebagai informasi, Fiona juga punya kebun sayuran di sana. Tapi bahan makanan untuk Dapur Umum Caringin tidak dipasok dari sana.

“Selain itu juga, sekarang kan teman-teman waria di Caringin udah bisa mulai ngamen lagi. Jadi mereka sebenarnya udah pada kembali punya kegiatan masing-masing. Tapi saya bilang ke teman-teman sih untuk menaikkan porsi dari lima puluh jadi seratus porsi setiap dapur umum dibuka,” sambung Fiona.

Alasan Fiona untuk menaikkan porsi produksi dapur umumnya adalah, biarpun keadaan udah berangsur pulih, tapi banyak korban PHK yang masih butuh bantuan pangan di sekitar Dapur Umum Caringin. “Lagi pula sekarang kan sudah tidak tiap minggu,” ujarnya.

Kebun sayuran Fiona di Garut, Jawa Barat (Foto: Fiona)

Sebagai stimulan, awalnya Dapur Umum Caringin dipasok dana dari Jaringan Kerja Gotong Royong untuk bahan-bahan masakannya. Kini kegiatan dapur ini didanai dari patungan Fiona dan teman-teman transpuan lainnya di samping dana program yayasan. Bahkan, mereka sudah memikirkan untuk mengomersialkan hasil dapurnya dalam bentuk bisnis katering.

Pertanian dan Peternakan Kota

Dalam catatan ini, selain Fiona, ada nama lain yang juga menjadi tokoh. Dia adalah Farah (41). Waria yang bekerja sebagai petugas lapangan untuk menemui waria lain agar sadar akan kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV ini punya inisiatif lebih untuk beternak dan bercocok tanam.

Farah juga indekos. Kalau Fiona dan dapur umumnya berada di belahan barat Kota Bandung, tempat indekos Farah di belahan timurnya, tepatnya di Binong, Kecamatan Batununggal. Kebetulan juga pondokannya punya pekarangan cukup untuk budi daya ikan dan kangkung dalam ember.

Selama pembatasan sosial berskala besar yang ditetapkan Pemkot Bandung sejak 22 April lalu, Farah pun membatasi kegiatan lapangannya. Farah biasanya seharian berkeliling kota menemui transpuan dan kelompok lainnya untuk menerangkan soal pentingnya kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV. Dengan kegiatan lapangan yang terbatas itulah, Farah punya waktu untuk menanam kangkung sekaligus beternak lele di ember.

Akhir Mei, Farah cukup berbangga hati untuk memamerkan hasil pembibitan lele dan kangkungnya di media komunikasi kelompok transpuan yang tergabung di Yayasan Srikandi Pasundan. Saling berbagi gambar atau video di media komunikasi kelompok rupanya membuat anggota-anggotanya termotivasi untuk belajar melakukan hal yang sama.

Gagasan yang ditanamkan Luvhi dan Jaringan Kerja Gotong Royong adalah bagaimana agar bisa mendapatkan pangan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki. Pemilihan istilah ketahanan, kemandirian, atau kedaulatan pangan tidak terlalu mereka pusingkan. Yang penting kelompok rentan kelaparan bisa tetap makan. Syukur-syukur semuanya dari hasil kebun atau peternakan sendiri.

Lele yang diternak Farah di tempat indekosnya (Foto: Farah)

Farah tidak main-main dengan budi daya lele sekaligus kangkung dalam ember. Dalam waktu satu bulanan, ia bisa melipatgandakan jumlah ember yang dijadikan media bertanam dan beternak. Ia menempatkan ember-embernya itu di halaman rumah indekosnya. Tentu dengan seizin sang empunya pondokan.

Berkat unggahan foto-foto Farah di media komunikasi kelompoknya, Luvhi bercerita kini setidaknya kegiatan budi daya hewan dan tanaman pangan dilakukan di tujuh daerah. Ketujuhnya adalah tempat-tempat Program Peduli dilaksanakan bersama PKBI Jawa Barat, yakni Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Bandung, Kuningan, Ciamis, dan Banjar.

Kecuali di Kuningan, teman-teman Luvhi melakukan budi daya sebagaimana yang Farah lakukan, yakni di pekarangan tempat indekosnya.

“Teman saya di Kuningan itu kebetulan tinggal di rumah sendiri yang pekarangannya luas. Jadi dia leluasa untuk berkebun,” begitu Luvhi menjelaskan alasan kenapa Kuningan jadi pengecualian.

Dalam satu kesempatan wawancara, Luvhi juga menerangkan soal penyebaran budi daya hewan dan tanaman pangan di tujuh daerah tadi. Pascalebaran 2020, sebuah lokakarya soal ketahanan pangan di masa pandemi korona mereka gelar. Lokakarya yang diselenggarakan secara virtual itu diikuti seluruh jaringan kerja Program Peduli Yayasan Srikandi Pasundan.

Ajang Interaksi dengan Warga

Transpuan kerap jadi korban olok-olok bahkan kekerasan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Saat berkeliling pasar atau permukiman, berada di tempat-tempat makan kaki lima atau persimpangan jalan, hinaan sering dilontarkan kepada mereka.

Seperti pada kelompok terpinggirkan lain, dari waktu ke waktu istilah bagi kelompok ini juga mengalami eufimisme alias penghalusan istilah. Pada 1968, “wadam” diperkenalkan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Istilah itu menggantikan kata “banci” atau “bencong” yang bercitra negatif. Satu tahun setelah Ali Sadikin memperkenalkan istilah itu, terbentuklah Himpunan Wadam Djakarta.

Pemakaian istilah “wadam” pun mengalami penghalusan istilah pada 1980-an menjadi “waria” yang merupakan akronim wanita dalam tubuh pria. Kini, istilah “transpuan” banyak digunakan oleh aktivis gender.

Istilah boleh diperhalus, tapi tidak dengan perlakuan sebagian orang terhadap kelompok ini dari waktu ke waktu. Transpuan tetap mereka anggap hina, menyalahi kodrat, dan lain sebagainya. Awal April lalu seorang waria di Cilincing, Jakarta Utara bahkan dibakar hidup-hidup hingga tewas karena dituduh mencuri.

Perlakuan seperti itu bisa saja menimpa siapapun yang dituduh pencuri. Sama halnya dengan penerima bingkisan berisi sampah. Tapi tidak bisa dimungkiri, waria banyak mengalami perlakuan tidak beradab.

Sebagai gambaran, LBH Masyarakat pada 2017 mendokumentasikan stigma dan diskriminasi yang dialami oleh kelompok LGBT dalam berita-berita daring di berbagai wilayah Indonesia. Dalam laporan itu, kelompok transgender paling banyak menjadi korban stigma, diskriminasi, dan kekerasan, yakni 715 korban, disusul dengan homoseksual pria sebanyak 225 korban, dan lesbian 29 korban.

Menanam, beternak, dan membuat dapur umum yang dipraktikkan kelompok transpuan di Yayasan Srikandi Pasundan selama pandemi membuka ruang interaksi dengan warga sekitar. Setidaknya itu yang dirasakan Luvhi dan teman-temannya di sejumlah daerah Jawa Barat.

Luvhi dan teman-teman sadar kalau mereka dikucilkan. Jangankan diajak berbincang oleh warga, disapa pun tidak kecuali oleh induk semangnya. Itupun saat bayar sewa pondokan.

Perubahan mulai terasa saat mereka membagi-bagikan makanan hasil olahan Dapur Umum Caringin. “Biasanya anak-anak kecil itu suka ngata-ngatain. Tapi waktu kita bagi-bagi makanan itu, mereka yang memang butuh meminta dengan sopan,” kesan Luvhi.

Tidak hanya pada anak-anak, perubahan juga terjadi pada ibu-ibu di permukiman padat Caringin tempat dapur umum yang dikomandani Fiona beroperasi. Biasanya tetangga acuh tak acuh dengan keberadaan teman-teman waria Fiona di rumahnya. Tapi setelah beberapa kali kegiatan dapur umum dilaksanakan, ibu-ibu tetangga turut membantu masak dan mengemas makanan bersama beberapa transpuan.

Tentu saja ada interaksi saat memasak dan mengelola dapur umum. Obrolan terjadi di antara mereka, waria dan ibu-ibu warga setempat.

Fiona sudah sepuluh tahun bermukim di sana dan mengelola salon kecantikan di kontrakannya itu. Bahkan sebenarnya, warga sudah tidak asing dengan keberadaan waria di rumahnya. “Sering waria yang sakit nginep di rumah saya. Pastinya warga ngeliat, tapi biasa aja tuh!” tuturnya.

Soal penolakan warga, Fiona mengaku, itu dialaminya saat baru ngontrak di sana. Satu sampai dua tahun pertama, tetangga-tetangga memandang rendah dirinya.

“Rumah yang saya kontrak itu cukup luas sih. Jadi selain buka usaha salon, saya juga bisnis katering. Tapi hanya untuk hajatan ya,” Fiona mulai menyambung pembicaraan.

Maksimun produksi kateringnya hingga dua ribu porsi. Tapi seiring pandemi, bisnis katering Fiona ikut sepi order. Ia pun mengaku punya kelompok sendiri untuk mengerjakan pesanan katering. “Bukan waria. Soalnya kalau waria ngumpul di rumah untuk katering, tetangga-tetangga pada gimana gitu,” akunya.

Untuk mengerjakan pesanan katering yang sampai dua ribu porsi itu, Fiona mempekerjakan warga setempat, tetangga-tetangganya. Merekalah yang disebut kelompok kateringnya tadi. “Jadi sebenarnya hubungan saya sama ibu-ibu di sekitar rumah ya biasa aja. Ya, bahkan kalau saya dapat order katering, kelompok saya itu suka ajak ibu-ibu yang nganggur di dekat situ,” pungkasnya.

Warga setempat pun turut bantu di Dapur Umum Caringin (Foto: Fiona)

Kisah serupa terjadi pada Farah yang menanam sekaligus beternak lele di pekarangan rumah indekosnya. Kalau biasanya Farah berinteraksi dengan induk semangnya saat membayar sewa pondokan saja, kini mereka saling berinteraksi. Induk semang Farah bahkan mengikuti dan tentunya belajar darinya tentang bercocok tanam.

Apa yang terjadi pada Farah juga dialami transpuan lain di lima daerah lainnya, di mana mereka bercocok tanam dan beternak sekaligus di pekarangan rumah indekosnya. Para induk semang ikut-ikutan menanam dengan lahan seadanya.

Dalam proses ikut-ikutan itu tentu saja ada obrolan seputar teknik, bibit, dan jenis tanaman yang dibudidayakan.

Saat panen, Farah membagikan lele hasil ternaknya ke para tetangga.

Selain ucapan terima kasih, hasil jerih payah beternak lele juga jadi media perbincangan antara Farah sebagai transpuan yang selama ini terpinggirkan dengan warga sekitar.

Budi daya lele dan kangkung Farah yang berkembang cukup pesat bahkan menjadi inspirasi bagi ia dan teman-temannya untuk menjual paket makanan murah bergizi, nasi lele dan kangkung, buat warga sekitar. Di lingkungan tempat indekos Farah kebanyakan warga bekerja di sektor informal yang sangat terdampak dengan pandemi covid-19. Mereka sepakat kalau ini bukan sekadar bisnis, tapi juga terselip rasa kemanusiaan.

Komunitas transpuan cukup gembira dengan upaya-upaya ini. Selain menjadi jembatan interaksi mereka dengan warga setempat, bertanam dan beternak meneguhkan gagasan untuk bertahan hidup alias tetap bisa makan. Bahkan kalau mau, mereka bisa menghasilkan tambahan penghasilan dari sana.

Solidaritas di antara sesama waria memang jadi resep untuk mereka bertahan hidup, saling belajar, dan saling dukung di saat krisis ekonomi seperti sekarang. Praktik ini mematahkan stereotip kalau waria cuma bisa ngamen dan nyalon, atau bahkan menjajakan seks.

Beternak, berkebun, dan mengelola dapur umum di lahan yang sempit sekalipun bisa dilakukan oleh kelompok yang selama ini dianggap sebagian masyarakat sebagai penyakit. Pemerintah bahkan mengategorikan waria sebagai penyandang masalah kesejahteraan sosial karena salah satu alasannya berperilaku seks menyimpang. Sebuah pengategorian yang serampangan.

Pencantuman kategori itu dalam sebuah peraturan menteri sosial memang untuk mengelola potensi kesejahteraan mereka sebagai salah satu kelompok marginal. Tapi saat wabah covid-19 merebak dan semua orang wajib bekerja di rumah, transpuan tidak berbeda dengan orang-orang lain yang mencari nafkah di luar rumah. Mereka warga yang berhak dapat bantuan entah tunai maupun dalam bentuk bahan pangan.

Ingat, untuk bertahan hidup, pangan adalah koentji!

Dengan pengalaman belajar ini, kelompok transpuan yang terdampak krisis kali ini bisa mencontoh sikap yang diucapkan dedengkot revolusi kemerdekaan Indonesia, Bung Karno, dengan mengatakan kepada Kementerian Sosial beserta segenap jajarannya di daerah, “Go to hell with your aid!

℗℗ ℗ ℗℗

Patri Handoyo

The author Patri Handoyo

Pencinta kopi dan makhluk hidup. Menekuni kesenian selama hayat masih dikandung badan. Peneliti partikelir, kontributor di beberapa kelompok advokasi dan pendidikan alternatif.

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.