close
Philadelphia – photo by
Gambar ilustrasi: imdb.com

Hakim Garrett: Di ruang sidang pengadilan ini, Tuan Miller, keadilan itu tidak mengenal ras, keyakinan, warna kulit, agama, dan orientasi seksual.

Joe Miller: Dengan segala hormat, Yang Mulia, kita tidak tinggal di ruang sidang ini, bukan?

Percakapan itu adalah sepenggal dialog dalam Philadelphia. Pernahkah teman-teman menontonnya?

Yup, ini film lama memang, yang dirilis 1993. Ceritanya, seorang pengacara kondang bernama Andrew Becket (diperankan Tom Hanks) yang menggugat firma hukum tempat ia bekerja karena memecatnya. Ia merasa yakin dirinya dipecat hanya karena mengidap HIV, bukan karena alasan pekerjaan. Andrew juga seorang homoseksual.

Andrew berjuang dan menjadi pengacara atas dirinya sendiri. Perjuangannya menggugah pengacara lain, Joe Miller (diperankan Denzel Washington) untuk membantu. Padahal, Miller adalah seorang homofobia, yang sering merasa takut dan antipati  pada orang yang dianggap homoseksual.

Selama perjuangan mereka di pengadilan, Miller melihat bahwa Andrew Beckett tidak berbeda dari orang-orang yang sering ditemuinya di manapun. Biasa saja. Lambat laun ia terbebas dari homofobianya, dan membantu Andrew dalam kasusnya.

Film drama ini berhasil menyabet 2 Piala Oscar. Satu untuk Tom Hanks sebagai Aktor Pemeran Utama Terbaik, dan satu lagi buat penyanyi Bruce Springsteen untuk soundtrack filmnya, Streets of Philadelphia.

Nah, Philadelphia hanyalah satu dari sekian banyak film yang bertemakan HIV-AIDS. Ada beberapa lagi yang lain dan tak kalah menariknya. Yuk kita lihat.

Dallas Buyers Club (2014)

Film ini berlatar tahun 1985. Ron Woodroof (diperankan Matthew McConaughey), seorang pria yang terinfeksi HIV dan dinyatakan hidupnya tersisa 30 hari lagi. Ron punya kegemaran menjadi rodeo, minum alkohol dan obat-obatan, serta gonta-ganti pasangan seks.

Ron berjuang sendiri melawan penyakitnya dengan berburu obat-obatan hingga ke Meksiko. Obat yang Ron dapat dari dokter di Meksiko punya efek samping lebih sedikit. Bersama temannya, seorang waria bernama Rayon (diperankan Jared Leto), ia mendirikan Dallas Buyers Club. Di tempat ini, para pengidap HIV bisa membayar uang bulanan untuk mendapatkan obat seperti yang dimakannya.

Celakanya, obat yang diyakini bisa mempertahankan kehidupan mereka itu dinyatakan ilegal oleh pemerintah Amerika Serikat. Bagaimana kelanjutannya? Mending nonton sendiri deh

Film inipun berbuah Piala Oscar! Matthew McConaughey dan Jared Leto membawa pulang Piala Oscar 2014, sebagai Aktor Pemeran Utama Terbaik dan Aktor Pendukung Terbaik.

And the Band Played On (1993)

Disutradari oleh Roger Spottiswoode, And the Band Played On disebut menjadi film yang sangat baik menggambarkan awal mula HIV-AIDS diketemukan. Film ini merupakan adaptasi dari sebuah buku berjudul, And the Band Played On: Politics, People, and the AIDS Epidemic karya Randy Shilts.

And the Band Played On mengisahkan tentang Don Francis, seorang dokter yang berkunjung ke sebuah desa di Zaire pada 1976, dan menemukan penduduk di sana terjangkit penyakit misterius yang dikenal dengan nama demam berdarah Ebola. Ia khawatir penyebaran virus ini meluas.

Sekembalinya ke Amerika pada 1981, ia menemukan hal serupa. Bedanya, penyakit ini menimpa kelompok gay. Saat itu, di San Francisco, New York City, dan Los Angeles banyak dilaporkan homoseksual yang meninggal dunia. Ia pun menyusun teori yang intinya menyatakan penyakit ini disebabkan oleh kegiatan seksual. Teori tersebut ditentang kelompok gay saat itu.

Sementara, pemerintah pun digambarkan tidak terlalu peduli dengan fenomena yang sedang ia amati. Di sisi lain, kalangan ilmuwan Perancis dan Amerika Serikat justru sibuk berdebat tentang siapa yang pertama menemukan virus yang kemudian dikenal dengan HIV tersebut.

Film keren yang dibintangi Matthew Modine dan Alan Alda ini banyak menuai pujian karena mampu menggambarkan bagaimana kebijakan politik dan ekonomi yang serakah, secara global telah memakan banyak korban jiwa.

The Cure (1995)

Film ini sangat menyentuh perasaan banyak orang yang menontonnya. The Cure mengisahkan tentang persahabatan Dexter, seorang anak berusia 11 tahun yang mengidap HIV dengan Erik, tetangganya sedikit lebih tua. Persahabatan itu membuat Erik menjadi dekat dengan ibu Dexter ketimbang dengan ibunya sendiri, yang digambarkan menentang persahabatannya dengan Dexter.

Suatu saat, kedua anak ini mendengar kabar bahwa ada dokter di New Orleans, yang jauh dari tempat tinggal mereka, telah menemukan obat untuk AIDS. Kedua sahabat ini nekat meninggalkan rumahnya dan berencana menemui dokter itu dengan cara mengapung dan menyusuri sungai Mississippi. Perjuangan mereka yang mengharukan jelas disajikan dalam film berdurasi 97 menit ini.

Angels in America (2003)

Dua nama besar bermain dalam mini seri yang dirilis HBO ini, yaitu Al Pacino dan Meryl Streep. Angels in America menceritakan tentang penyebaran HIV-AIDS di Amerika Serikat dan homoseksualitas dengan sisipan isu berakhirnya kekuasaan Presiden Ronald Reagan pada 1985.

Kisahnya, seorang kepala biara bernama Walters yang mengidap HIV dan ditinggalkan istrinya, Lou. Di lain cerita, film ini juga mengisahkan tentang seorang pengacara bernama Roy Cohn yang punya pasangan homoseksual seorang politisi sayap kanan Amerika Serikat, Joe Pitt. Keduanya memiliki peran penting di Gedung Putih. Miniseri ini terbilang cukup rumit dengan banyak alur cerita percintaan dan intrik politik, dan tentu saja potret perkembangan kasus HIV-AIDS di Amerika tahun 1980-an.

Perempuan Punya Cerita (2007)

Film ini terdiri atas empat film pendek dengan cerita yang masing-masing berdiri sendiri namun sesungguhnya memiliki satu benang merah, yaitu persoalan yang dialami perempuan Indonesia dalam kesehariannya seperti kekerasan dalam rumah tangga, narkoba, seks pada remaja, sampai HIV dan AIDS. Perempuan Punya Cerita disutradari oleh empat sutradara wanita sekaligus, yakni Nia Dinata, Upi Avianto, Fatimah Rony, dan Lasja Susatyo.

Film pertama berjudul Cerita Pulau, dibintangi Rieke Dyah Pitaloka. Film kedua, Cerita Yogyakarta dibintangi Kirana Larasati dan Fauzi Baadila. Film ketiga, Cerita Cibinong dibintangi Shanty dan Sarah Sechan. Film keempat, Cerita Jakarta menampilkan akting menawan Susan Bachtiar.

Dari keempat film tadi, adalah Cerita Jakarta yang memang memiliki tema HIV-AIDS secara khusus. Film ini berkisah tentang Laksmi (diperankan Susan Bachtiar), wanita keturunan Tionghoa, seorang janda beranak satu yang kehilangan suaminya karena HIV-AIDS. Dalam suasana berduka, ia pun harus menghadapi kenyataan dirinya juga tertular HIV. Ia harus berhadapan dengan keluarga suaminya yang berkeras ingin mengambil alih hak asuh anak perempuannya.

Laksmi berjuang dengan nalurinya sebagai seorang ibu. Ia harus bertahan untuk tetap mengasuh anaknya meskipun harus kehilangan semua hartanya, dan bersusah payah membawa anaknya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Niatnya terbentur kenyataan hidup. Membesarkan anak dengan kondisi yang makin lemah tanpa penghasilan memaksanya mengambil keputusan besar. Apa keputusannya? Tonton saja deh film bagus ini, daripada kami dianggap memberikan spoiler!

Deretan judul di atas hanya sebagian dari film yang mengambil tema atau berkaitan dengan HIV-AIDS. Masih banyak sebenarnya yang layak untuk dibahas. Misalnya, Gia (1998), A Mother’s Prayer (1995), The Normal Heart (2014), dan masih banyak lagi.

Adakah film Indonesia yang bertema atau berkaitan dengan HIV-AIDS selain Perempuan Punya Cerita? Ada dong….

Kita bisa tonton Mika (2013), yang merupakan adaptasi dari novel laris berjudul Waktu Aku Sama Mika. Dalam film ini, Vino G. Bastian beradu akting dengan Velove Vexia. Ada juga, Cinta dari Wamena (2013). Film ini mengangkat kisah persahabatan tiga remaja, cinta, dan keindahan tanah Papua. Ketiga remaja ini punya keinginan untuk terus bersekolah. Sebuah impian yang membawa mereka ke Wamena. Di sana, di Wamena, persahabatan dan impian mereka mendapat sejumlah ujian yang tidak ringan.

Nah, gimana teman-teman? Adakah yang sudah pernah kalian tonton? Yuk, share cerita tentang film-film itu….

*disadur dari berbagai sumber. Gambar ilustrasi: imdb.com

[AdSense-A]

Tri Irwanda

The author Tri Irwanda

Praktisi komunikasi. Mulai menekuni isu HIV dan AIDS ketika bekerja di KPA Provinsi Jawa Barat. Punya kebiasaan mendengarkan lagu The Who, “Baba O’Riley”, saat memulai hari dengan secangkir kopi.

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.