close
FeaturedKomunitas

Menekan Stigma LGBT dengan Berbaur di Masyarakat

lpa
GOR bulu tangkis di RW 06 Kelurahan Airlangga, Kecamatan Gubeng Kertajaya, Surabaya menjadi arena perekat komunitas GAYa Nusantara dan warga setempat.

Jangan bilang Anda pernah ke Surabaya jika belum ke Tunjungan Plaza. Ya, mall besar pertama di Surabaya itu memang ikonik. Berdiri sejak 1986, mall itu telah diakui menjadi salah satu tujuan wisata di kota buaya itu.

Namun tujuan saya kali ini bukan berwisata. Saya dan seorang rekan dari Rumah Cemara, Faisyal Syahrial, bertandang ke sebuah bangunan yang lokasinya berada di belakang Tunjungan Plaza. Cukup berdekatan. Tempat itu adalah Puskesmas Kedungdoro, di Jalan Kaliasin Pompa, Surabaya, sekitar 300 meter dari mall ikonik itu.

Rumah Cemara memiliki mitra kerja dalam menjalankan program di sejumlah daerah di Indonesia. Program yang dijalankan pada dasarnya merupakan bagian dari cita-cita Rumah Cemara, Indonesia tanpa stigma. Ini adalah visi ideal agar pengguna narkoba, orang dengan HIV-AIDS, dan kelompok lain yang sering terpinggirkan mendapat kesetaraan hak dalam hidupnya, sama dengan masyarakat lain.

Tulisan ini berniat merekam beberapa bagian terbaik dari program mitra kerja Rumah Cemara. Ada tiga lembaga mitra yang terpilih sebagai bagian dari tulisan ini, yakni Lembaga Persaudaraan Korban NAPZA Makassar (LPKNM) di Makassar, Pontianak Plus di Pontianak, dan Yayasan Gaya Nusantara di Surabaya. Setiap lembaga mitra akan diceritakan secara terpisah melalui hasil liputan pada November dan Desember 2019.

Selamat mengikuti!

Puskesmas Kedungdoro siang itu dipenuhi sejumlah pasien yang berkerumun di ruang tunggu. Sebagian lagi menunggu antrean di luar halaman. Maklum, saat kami berkunjung, beberapa ruangan di sana sedang direnovasi.

Ada satu ruangan di lantai dua gedung itu yang dinamakan Ruang Biru. Warna biru memang mendominasi ruangan itu. “Di Ruang Biru ini kami melayani konseling dan tes HIV. Pengobatan bagi pasien HIV juga kami lakukan di sini,” ucap dr. Rr. Endang Dwihastutiningsih, Kepala Puskesmas Kedungdoro.

dr. Rr. Endang Dwihastutiningsih, Kepala Puskesmas Kedungdoro, Surabaya (tengah) didampingi Nuke Nofitasari menerima kunjungan Rumah Cemara (4/12/2019)

Puskesmas Kedungdoro mulai menjalankan program HIV dan IMS (infeksi menular seksual) sejak 2013. Namun baru empat tahun kemudian, puskesmas ini mulai menjalankan program perawatan, dukungan, dan pengobatan (PDP) secara lengkap. Hingga kini, setidaknya 99 pasien HIV yang aktif mengakses layanan puskesmas ini, termasuk dalam hal pengobatan ARV.

“Kalau secara keseluruhan sih, bisa lebih dari dua ratusan pasien umum kami layani setiap hari. Cukup banyak,” ujar dr. Endang melanjutkan. Menurutnya, banyaknya pasien yang datang belum seimbang dengan tenaga yang melayani. Ia mencontohkan, staf yang bertugas di laboratorium hanya satu orang sehingga ada kalanya kecepatan pelayanan sedikit terhambat.

Meski demikian, ia dan stafnya berusaha sebaik mungkin melayani masyarakat. Ia kembali mencontohkan, pasien saat ini harus mendaftar secara online sehingga bisa datang sesuai jam antreannya. Namun sering ditemui pasien yang langsung datang tanpa daftar sebelumnya.

“Kami maklumi, karena memang belum memasyarakat informasinya. Belum semuanya tahu. Belum setahun,” ucapnya. Ia melanjutkan, pihaknya melakukan cara khusus agar pasien tidak terbengkalai lama.

“Bagi pasien dengan KTP Surabaya dan sudah beberapa kali datang mengakses layanan, akan ada petugas yang memotong jalurnya sehingga bisa langsung dilayani. Tapi, tentu saja tidak merugikan mereka yang memang sudah daftar online. Kami di sini kompakan,” ujarnya menjelaskan. 

Perhatian pada pasien tampaknya menjadi salah satu kelebihan Puskesmas Kedungdoro. Hal ini pula yang membuat puskesmas ini akrab dengan populasi kunci di Surabaya. Populasi kunci adalah kelompok di masyarakat yang perlu aktif berperan sehingga dapat menjadi kunci atau penentu keberhasilan program penanggulangan HIV-AIDS.

“Kami tidak membeda-bedakan pasien. Mau dia waria, pemakai narkoba, gay, atau siapa pun, kami layani,” ungkap Nuke Nofitasari, staf Puskesmas Kedungdoro yang siang itu mendampingi dr. Endang menemani kami.

Kesehatan adalah Hak Universal Semua Orang

Nuke Nofitasari sendiri mulai mengenal komunitas yang aktif dalam bidang HIV-AIDS pada 2013. Sebelumnya, ia sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan komunitas itu. Melalui perkenalannya dengan para pegiat HIV-AIDS di Yayasan GAYa Nusantara, ia mulai mendalami isu kesehatan di berbagai komunitas, termasuk di komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

“Saya sering sok akrab saja dengan mereka biar dekat. Akhirnya, saya jadi lebih memahami mereka,” ungkapnya. Ia melanjutkan, dirinya sering mendapat pelajaran berharga saat berinteraksi dengan komunitas. Dari yang sepele sampai yang sangat serius, seperti soal penanganan kasus IMS pada gay atau waria. 

“Saya jadi tahu, teman-teman waria itu lebih nyaman dipanggil mbak. Dulu, saya pernah ditegur seseorang karena memanggil pasien waria dengan sebutan mas. Kebetulan dia lagi nggak dandan. Sepele ya, tapi itu jadi pelajaran penting buat saya dalam berkomunikasi,” ujarnya sambil tertawa.

Perempuan yang mengenyam pendidikan kebidanan itu menuturkan, kedekatannya dengan komunitas membuat ia terlibat aktif membantu terbentuknya kelompok dukungan sebaya (KDS) di puskesmas itu. KDS bagi orang dengan HIV-AIDS itu terbentuk pada 2015.

“Waktu itu, saya mikir, kok tambah banyak saja kasus HIV ini. Kasihan, kalau semua orang dengan HIV tertutup semua, gimana jadinya. Saya perlu orang yang bisa terbuka. Dia bisa jadi contoh orang HIV itu bisa tetap sehat,” tambahnya.

Menurutnya, keanggotaan di KDS itu sifatnya umum. Ada dari kalangan LGBT, ada penasun, anak dengan HIV, dan ada juga yang menjadi pasangan orang dengan HIV. Seperti di tempat lain, KDS di Puskesmas Kedungdoro menjadi tempat berbagi informasi, pengalaman, dan saling menguatkan anggotanya satu sama lain. Pertemuan bulanan mereka lakukan secara rutin, pada minggu ketiga setiap Jumat sore. 

Layanan perawatan, dukungan, serta pengobatan menjadi bagian penting dalam meredam laju kasus HIV-AIDS di Indonesia, termasuk di Surabaya. Seperti diketahui, Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI pada Februari 2020 melaporkan, sejak 2005 hingga akhir 2019, jumlah kumulatif kasus HIV di Indonesia mencapai 377.564 kasus. Jumlah temuan kasus ini baru mencakup sekitar 59 persen dari perkiraan jumlah keseluruhan kasus yang mencapai 640.443 kasus. Sementara itu, jumlah kasus AIDS dilaporkan relatif stabil setiap tahunnya, dengan jumlah mencapai 121.101 kasus di Indonesia.

Upaya meredam laju kasus HIV-AIDS memang mensyaratkan adanya kerja sama yang baik dari semua pihak, termasuk antara penyedia layanan kesehatan dan komunitas populasi kunci. Di Surabaya, Yayasan GAYa Nusantara menjadi bagian dari upaya itu.

Lalu, siapakah Yayasan GAYa Nusantara?

GAYa Nusantara merupakan organisasi nirlaba yang lahir pada awal Agustus 1987 di Surabaya. Kemunculannya pada saat itu menjadikan GAYa Nusantara sebagai pelopor organisasi gay di Indonesia. Organisasi ini didirikan Dede Oetomo, seorang sosiolog yang juga aktivis gay, untuk memperjuangkan hak-hak LBTIQ (lesbian, gay, biseksual, transgender/ transseksual, interseksual, dan queer).

Organisasi yang tidak mempermasalahkan keragaman seks, gender dan seksualitas serta latar belakang lainnya ini kemudian resmi menjadi sebuah yayasan bernama Yayasan GAYa Nusantara. Pengesahan yayasan secara resmi diperoleh dari Kementerian Hukum dan HAM RI pada 27 Juni 2012.

Seiring waktu, isu HIV-AIDS, khususnya pada komunitas populasi kunci, menjadi perhatian dari Yayasan GAYa Nusantara. Boleh dibilang, perhatian ini sekaligus sebagai respon atas tingginya kasus HIV di kalangan populasi kunci yang menjadi dampingan Yayasan GAYa Nusantara.  

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pernah menyampaikannya dalam Laporan Kajian Nasional Respon HIV di Bidang Kesehatan Republik Indonesia tahun 2017. Laporan itu mengindikasikan, meski secara keseluruhan penularan heteroseksual tetap menjadi moda penularan utama, namun sejak 2011 terjadi peningkatan persentase temuan kasus HIV sebesar lima kali lipat untuk kelompok populasi kunci lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL). 

Situasi serupa terjadi di Surabaya saat ini. Kasus infeksi HIV di kalangan waria atau LSL di Surabaya memang masih terbilang tinggi. Hal ini terlihat dari laporan Kemenkes RI mengenai jumlah tes HIV dan hasilnya pada kelompok risiko pada 2019. Untuk kota Surabaya, data menunjukkan,  dari 157 waria yang mengikuti tes HIV, sebanyak 10 orang dinyatakan positif HIV. Sementara itu, dari 1.498 LSL yang dites HIV, tercatat 238 orang positif HIV, yang berarti hampir 16 persennya. Jumlah ini jelas melebihi kasus pada kelompok lain, misalnya pada pengguna narkoba suntik (6 persen) dan wanita pekerja seks (5 persen).

Dalam konteks ini, keberadaan GAYa Nusantara, demikian selanjutnya kita sebut, sangat membantu program puskesmas.  Baik dr. Endang maupun Nuke mencontohkan, para petugas dari GAYa Nusantara sangat aktif membawa komunitas dampingannya untuk memeriksakan diri di Puskesmas Kedungdoro. Selain itu, GAYa Nusantara juga tidak jarang membantu puskesmas dalam berbagai kegiatan penyuluhan HIV-AIDS yang digelar oleh Komisi Penanggulangan AIDS di tingkat kecamatan atau oleh Warga Peduli AIDS.  

Isu kesehatan, terutama HIV-AIDS sengaja diambil GAYa Nusantara sebagai salah satu strategi untuk menekan stigma alias cap buruk yang melekat pada komunitas LGBT. Bagaimana pun, mereka sadar, resistensi, sekecil apapun, terhadap keberadaan komunitas LGBT tetap ada di sebagian masyarakat.

“Kami tidak langsung masuk dari soal LGBT. Kami masuk dari soal HIV-AIDS. Karena kan informasi tentang pencegahan HIV-AIDS itu perlu jadi perhatian semua orang,” ungkap ketua Yayasan GAYa Nusantara yang namanya akrab dipanggil Mak Vera. Setelah itu, lanjutnya, barulah setahap demi setahap mengupas masalah yang lebih dalam seperti soal hak kesehatan seksual dan reproduksi, atau mengenai Sexual Orientation, Gender Identity, Expression and Body (SOGIEB). Dengan cara seperti itulah program kerja sama dengan Rumah Cemara melalui dukungan PTCH dijalankan. 

PITCH atau Partnership to Inspire, Transform and Connect the HIV Response adalah program advokasi kolektif yang dijalankan Rumah Cemara melalui kemitraan strategis dengan sejumlah organisasi komunitas di Indonesia, salah satunya dengan GAYa Nusantara. Secara sederhana, PITCH bertujuan menciptakan kebijakan yang mendukung respon terhadap HIV-AIDS dan pemenuhan hak-hak populasi kunci, terutama LGBTIQ dan konsumen narkoba. Program ini didukung oleh konsorsium International HIV-AIDS Alliance, Aidsfonds, dan Kementerian Luar Negeri Belanda.

Mak Vera juga menjelaskan, sejauh ini cara yang ditempuh cukup efektif dalam menekan resistensi masyarakat terhadap keberadaan mereka. Bahkan, undangan untuk mengisi acara penyuluhan HIV-AIDS di masyarakat datang silih berganti.

Faisyal Syahrial dari Rumah Cemara (kanan) berdiskusi dengan Mak Vera (kiri) dan Ayah Tono (tengah) di sekretariat GAYa Nusantara, Surabaya.
Melawan Stigma dengan Pergaulan Inklusif  di Masyarakat

Sebagai organisasi, GAYa Nusantara telah berusia 32 tahun. Sebuah perjalanan yang tidak sebentar dan tentunya penuh dinamika mengingat latar belakang wilayah kerjanya yang sensitif yakni LGBT. 

Dari sejarahnya, GAYa Nusantara dibentuk tidak terlepas dari adanya kebutuhan komunitas gay untuk memiliki wadah berkumpul, berteman, dan berinteraksi. Untuk menyalurkan hobi pertemanan di antara komunitasnya, mereka mencetak majalah bernama GAYa Nusantara berupa buletin atau newsletter yang berisi tentang beragam hal.

Suhartono, Koordinator Program Yayasan GAYa Nusantara menuturkan saat itu komunitas memerlukan media yang menjadi jembatan informasi sesamanya. Isinya berupa hal-hal bersifat ringan mulai dari ramalan bintang, cerpen, puisi, atau kisah inspiratif sosok gay yang memang sudah berani  membuka statusnya. 

“Yang paling menarik perhatian saat itu adalah rubrik perkawanan. Bayangkan, dulu kan belum ada media sosial. Jadi, rubrik untuk menjalin perkawanan lewat surat-suratan macam itu sangat diminati,” ujar pria yang biasa dipanggil Ayah Tono itu mengenang.

Pada masanya, majalah GAYa Nusantara adalah media efektif bagi komunitas LGBT dalam berbagi informasi

Menurutnya, majalah GAYa Nusantara saat itu terbit tiga bulan sekali. Namun karena peminatnya banyak, adakalanya majalah diterbitkan sebulan sekali. Majalah ini terus berkembang hingga sirkulasinya tidak hanya di Surabaya, melainkan ke kota-kota lain seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta, dan Semarang. Bahkan majalah ini juga bisa diperoleh di beberapa tempat di luar Jawa seperti di Bali dan Jambi. Isinya pun saat itu semakin beragam dengan mulai masuknya informasi kesehatan seperti HIV-AIDS.

Untuk mewadahi kebutuhan pertemanan sesama komunitas ini, mulai 1993 GAYa Nusantara cukup rutin menggelar open house. Acara ini semacam “kopi darat” agar komunitas lebih akrab satu sama lain. Jaringan kerja mereka pun semakin luas, terlihat dari bermunculannya organisasi sejenis di wilayah lain seperti GAYa Priangan di Bandung, GAYa Celebes di Makassar, atau GAYa Dewata di Denpasar.

Lalu, bagaimana bisa sebuah organisasi yang secara terbuka memperjuangkan keberagaman identitas gender seperti LGBT, bisa terus berkembang tanpa penolakan dari masyarakat sekitarnya?

Mak Vera menjelaskan, GAYa Nusantara dengan sadar “bermain” di bawah dulu yakni di level masyarakat. “Kami bermain di akar rumput dulu, karena kan yang setiap hari ada dan bersinggungan dengan kita adalah mereka. Para pembuat kebijakan seperti pemerintah kan adanya di atas, tidak bersama kami. Jadi, kalau di bawah kuat, tidak mungkin ada yang mengusik kami,” ujarnya menerangkan.

Senada dengan itu, Ayah Tono menambahkan secara naluriah, komunitas di GAYa Nusantara merasa perlu bergaul dengan masyarakat sekitar. Berbagai kegiatan di masyarakat mereka ikuti dan sebaliknya saat GAYa Nusantara mengadakan acara di sekretariat, masyarakat sekitar juga diundang untuk turut serta meramaikan acara.

“Alhamdulillah, hubungan kami sangat baik,” ujarnya. Ia mencontohkan, pada 2012 lalu terjadi persekusi yang dilakukan sebuah ormas keagamaan terhadap kantor sekretariatnya. “Yang membela dan melindungi kami justru masyarakat sekitar. Bahkan pak RT yang turun tangan langsung melindungi kami dengan mengatakan bahwa kami adalah warganya. Ia bilang, dirinya yang bertanggungjawab,” ungkapnya bersemangat.  

Melalui upaya seperti di atas, GAYa Nusantara berhasil membuktikan bahwa sikap inklusif adalah hal penting untuk dilakukan agar keberadaan komunitas diterima di masyarakat. Sikap dan cara inklusif ini juga yang terlihat dari sebuah kegiatan rutin mereka: Bulu tangkis!

Ya, setiap minggu komunitas GAYa Nusantara memiliki jadwal rutin bermain bulu tangkis di sebuah GOR di Kelurahan Airlangga, Kecamatan Gubeng Kertajaya, Surabaya. Di tempat itu, olah raga bulu tangkis menjadi perekat kebersamaan mereka. Semuanya berbaur, bergembira, tanpa sekat identitas gender atau orientasi seksual.

Hal ini pula yang disampaikan Dyah Susilawati (51), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar GOR bulu tangkis itu. Berbincang di sela-sela menyaksikan komunitas berlatih bulu tangkis, ia mengatakan dirinya dan warga sekitar tidak pernah membedakan orang dari latar belakangnya.

“Ya sama saja ya, mau dia gay, mau waria, ya sama saja manusia. Kami tidak membeda-bedakannya,” ucapnya tersenyum. ”Kami rukun-rukun saja dengan teman-teman ini. Bahkan kami senang, kan mereka kalau lagi main bulu tangkis suka heboh. Lucu jadinya,” ujarnya sambil tertawa.  

Perempuan yang akrab dipanggil Susi ini mengaku tidak pernah merasa risih bergaul dengan komunitas gay maupun waria. “Apalagi mereka itu baik semua kok sama saya. Kenapa saya harus jahat ke mereka?” lanjutnya.

Meski demikian, ia mengaku dalam hati pernah berharap teman-temannya itu kembali ke jati diri aslinya, yang semula.

“Dulu sih pernah berharap mereka kembali ke warna aslinya gitu. Namun, ya mereka sudah terbentuk seperti sekarang. Ya, itu sudah takdirnya mungkin. Diterima saja. Nggak mungkin kita maksa mereka harus begini atau begitu…Itu sudah jiwanya kok,” ucap Susi mengakhiri perbincangan malam itu. 

Berjejaring Memperjuangkan Keberagaman Identitas  

Sebagai organisasi yang memperjuangkan hak-hak komunitas LGBTIQ, GAYa Nusantara mendorong komunitas untuk meningkatkan kapasitasnya, termasuk dalam memoles citra di mata masyarakat. Citra yang baik diyakini dapat mengurangi potensi terjadinya penolakan hingga tindakan persekusi yang berbau kekerasan terhadap mereka dari kelompok lain di masyarakat.

Mak Vera kembali mengingatkan pentingnya komunitas untuk berperilaku wajar jika ingin mendapat kesataraan di masyarakat.

“Contoh sederhana, seorang waria saat mengakses layanan di puskesmas ya jangan norak dan menor dandanannya. Nggak perlu juga pakai rok mini yang mencolok mata. Jangankan waria, perempuan  biasa pun akan jadi pusat perhatian jika seperti itu. Stigma itu bisa muncul karena kita juga penyebabnya,” cetusnya tegas.

Pada sisi yang lain, GAYa Nusantara juga kerap mengajak komunitas untuk meningkatkan kapasitasnya terkait pemahaman akan hak yang melekat dalam dirinya, termasuk hak kesehatan seksual dan reproduksi. Berjejaring dengan lintas komunitas menjadi bagian dari upaya mengampanyekan hal itu.

“Bagi kami, program yang dilakukan GAYa Nusantara sangat bermanfaat. Kami sering dilibatkan dalam berbagai penyuluhan di masyarakat. Menjadi fasilitator atau narasumber. Kami jadi punya kesempatan untuk berbaur dengan masyarakat,” ucap DN, seorang aktivis dari Persatuan Waria Kota Surabaya (Perwakos).

DN siang itu berada di sekretariat GAYa Nusantara bersama rekan lainnnya dalam sebuah focus group discussion (FGD).  Selain DN, ada tujuh peserta lainnya yang mengikuti diskusi. Mereka berasal dari organisasi dan latar belakang berbeda seperti lesbian maupun perempuan HIV positif.

Isu keberagaman menjadi salah satu topik diskusi bersama sejumlah komunitas di sekretariat Yayasan GAYa Nusantara (5/12/2019)

Pernyataan DN diamini peserta lain. LT seorang perempuan lesbian dari komunitas Gayatri, menceritakan dirinya beberapa kali terlibat dalam kegiatan GAYa Nusantara bersama Warga Peduli AIDS, KPA, Dinas Kesehatan, maupun bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat. Ia menuturkan, selama ini komunitasnya jarang mendapat kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan bersama masyarakat.        

“Dalam acara seperti itu, saya punya kesempatan untuk membuka mata masyarakat tentang keberadaan perempuan seperti saya. Setelah banyak berinteraksi, kenyataannya mereka biasa-biasa saja. Mereka baik-baik kok,” ungkapnya ringan.

LT mengakui, mengungkapkan statusnya sebagai seorang lesbian memang tidak  mudah. “Saat kuliah dulu, saya pernah dihujat, diludahi, hingga ditendang orang, hanya karena saya menggandeng pacar perempuan saya. Tapi saya sekarang tidak mau membohongi diri saya lagi. Inilah saya apa adanya. Yang terjadi pada saya bukan kesalahan saya,” ucapnya tegas.

Para peserta diskusi menilai, interaksi dengan masyarakat secara langsung dapat menjadi sarana tepat untuk mengurangi stigma yang melekat pada komunitas, khususnya LGBT. “Awalnya, masyarakat pasti bilang bahwa saya tidak normal. Bahkan banyak yang menyuruh saya agar bertobat. Namun, sekali lagi, kegiatan yang interaktif seperti itu membuat saya bisa menjelaskan tentang keragaman gender misalnya. Saya bisa bicara bahwa saya memang sejak lahir seperti ini,” ujarnya.

Hal senada disampaikan CNT, seorang waria dari Perwakos. Menurutnya, program yang dilakukan GAYa Nusantara dengan terjun langsung ke masyarakat itu sangat bagus. “Saya lebih senang melakukan sosialisasi langsung di masyarakat. Ini luar biasa menurut saya,” katanya bersemangat.

Menciptakan ruang dan kesempatan untuk berdialog langsung dengan masyarakat tampaknya menjadi hal penting bagi komunitas. Ruang dan kesempatan itu seharusnya menjadi bagian dari tugas para pembuat kebijakan, dalam hal ini Pemerintah Kota Surabaya. Namun sayangnya, menurut mereka, pemerintah kurang aktif memainkan peran itu. 

Dengan demikian, program yang dilakukan GAYa Nusantara seakan menjadi pengisi ruang kosong itu. Masyarakat setidaknya mulai diajak untuk memahami apa sesunggunya LGBT. Lebih jauh lagi, tersedia kesempatan untuk menjelaskan berbagai isu penting mengenai hak kesehatan seksual dan reproduksi, identitas gender, dan semacamnya. Tentu saja, dengan bahasa yang lebih sederhana.

Bersamaan dengan itu, secara internal, komunitas LGBT juga mendapat penguatan dari GAYa Nusantara menyangkut hak mendasar sebagai manusia. Tidak sedikit dari mereka yang kini berani bersuara saat berhadapan dengan masalah hukum namun tidak diperlakukan manusiawi. Akibatnya, menurut mereka, Satpol PP di Surabaya saat ini sudah jarang menggunakan kekerasan yang semena-mena saat melakukan razia pada waria di jalanan,

Keberhasilan komunitas GAYa Nusantara saat berinteraksi dengan masyarakat secara langsung menjadi bagian dari kisah sukses yang menarik untuk disimak. Pada bagian ini pula GAYa Nusantara memperkuat strateginya dengan penggunaan media sosial. Bagaimana pun, media sosial hari ini adalah keniscayaan.

Seakan meneruskan tradisi sebelumnya saat menggunakan majalah sebagai media informasi, saat ini GAYa Nusantara memiliki sejumlah platform media sosial yaitu Facebook, Instagram, Twitter, dan kanal Youtube. Keempat platform media sosial ini melengkapi situs web organisasi yang memang telah lama dibangun.

Melalui media sosial ini pula, GAYa Nusantara tidak hanya membantu kalangan komunitas, melainkan juga berbagai kalangan lain yang menjadi jaringan kerjanya. Puskesmas Kedungdoro, misalnya. 

“Itu bagus banget. Layanan yang kami sediakan ikut dipromosikan oleh medsos-nya GAYa Nusantara. Masyarakat atau setidaknya komunitasnya GAYa Nusantara jadi tahu apa dan bagaimana kalau mau mengakses layanan kami,” ucap dr. Rr. Endang Dwihastutiningsih, Kepala Puskesmas Kedungdoro saat disinggung tentang peran GAYa Nusantara dalam membantu puskesmas. 

“Bukan hanya puskesmas kami, tapi banyak puskesmas lain juga pasti terbantu dengan promosi medsosnya. Saya yakin, sedikit banyak hal seperti itu bisa mendorong komunitas untuk mau mengakses layanan kesehatan di sekitarnya. Kami sangat terbantu,” tambahnya.

Pengakuan tulus semacam itu ibarat oase tak ternilai di tengah panas dan kerasnya stigma pada kelompok LGBT di wilayah lainnya di Indonesia. Oase itu tentu menyejukkan dan membangkitkan harapan bagi komunitas yang kerap terpinggirkan.

Penggalan cerita ini juga menutup rangkaian laporan tim Rumah Cemara dari tiga kota yang dikunjungi yakni Makassar, Pontianak, dan Surabaya. Sampai jumpa!  *******

Tri Irwanda

The author Tri Irwanda

Praktisi komunikasi. Mulai menekuni isu HIV dan AIDS ketika bekerja di KPA Provinsi Jawa Barat. Punya kebiasaan mendengarkan lagu The Who, “Baba O’Riley”, saat memulai hari dengan secangkir kopi.

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.