close
FeaturedKomunitas

Orang Biasa (Apalagi Miskin) Dilarang Sakit Covid-19

Foto-1
Suasana lengang pusat kota Bandung saat warga mengurangi kegiatannya

Ya, judul di atas tentu mengingatkan Anda pada sebuah buku masyhur terbitan 2004 itu, bukan? Orang Miskin Dilarang Sakit karya Eko Prasetyo itu berhasil menyuguhkan satire alias sindiran atas kenyataan hidup masyarakat. Betapa orang miskin makin menderita karena tidak mampu mengakses layanan kesehatan yang seharusnya mereka terima saat sakit.

Sebelum berlanjut, perlu saya sampaikan bahwa tulisan ini tidak hendak membahas buku bagus tadi. Saya hanya teringat selintas judul itu saat memerhatikan berbagai publikasi mengenai wabah covid-19 seperti yang terjadi sekarang.

Baiklah kita mulai!

Setiap hari kita disuguhi berita tentang perkembangan kasus covid-19. Setiap hari jumlahnya terus bertambah. Jumlah temuan kasus positif, orang yang sembuh, dan orang yang meninggal. Semua informasi statistik itu meluncur tiap hari memenuhi ruangan keluarga kita. Agar tidak melulu soal statistik, Juru Bicara Percepatan Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, tidak lupa menyelipkan pesan tentang cara pencegahan penularan virus ini.

Achmad Yurianto, yang belakangan sering dikutip media dengan sebutan aneh, yaitu “Jubir Covid-19” itu, menegaskan pentingnya masyarakat diam di rumah, melakukan social dan physical distancing, mencuci tangan dengan sabun, konsumsi makanan bergizi, dan cukup berisitrahat. Tidak lupa, sang jubir juga mengingatkan manfaat berolahraga agar kita tetap sehat. 

Tentu saja, tidak ada yang salah dengan informasi yang bermanfaat seperti itu. Para petinggi negara juga sudah turun tangan memberikan berbagai himbauannya  agar kita, orang biasa, diam saja di rumah. Lakukan seperti yang dianjurkan, agar wabah korona segera terkendali. Sungguh mulia, tentu saja.

Keharuan kita, orang biasa, terasa kuat saat melihat tayangan para dokter dan perawat yang berjibaku melawan penyakit ini. Mereka minta agar kita, orang biasa, tinggal di rumah. Stay at home. Biarkan kami (tenaga medis) yang tetap bekerja. Media sosial banjir dengan anjuran itu. Simpati untuk mereka, para dokter dan perawat, tidak tertahankan. Mereka memang layak disebut pejuang kemanusiaan. Sejurus kemudian, sebutan sebagai garda terdepan melawan covid-19 pun marak didengungkan media.

Banyak dari kita, orang biasa, marah sewaktu mengetahui garda terdepan kita itu tidak mendapat perlengkapan yang memadai. Alat pelindung diri (APD) yang minim, hanyalah satu contoh yang membuat garda terdepan ini berada dalam risiko tinggi saat menjalankan tugasnya.

Seperti dilansir sejumlah media, hingga 12 April 2020, tercatat 44 tenaga medis di Indonesia meninggal dunia akibat terinfeksi virus korona. Mereka terdiri dari 32 dokter dan 12 perawat.

Tidak sigapnya negara merespon hal ini segera diisi dengan sikap positif oleh berbagai kalangan. Donasi bermunculan. Bahkan, para pelajar SMK di sejumlah kota beramai-ramai memproduksi baju APD untuk membantu tim garda terdepan memerangi covid-19. Solidaritas yang mengharukan.

Seakan terpanggil untuk membantu perang melawan covid-19, sejumlah pesohor media sosial tentu saja tidak tinggal diam. Para influencer atau selebgram juga mengajak kita, orang biasa, agar tinggal saja di rumah. Jangan ke mana-mana. Berbagai tips mengisi waktu dan mengatasi kebosanan di rumah mereka peragakan kepada follower-nya. Ada yang berolahraga, main gim (games), main musik, atau sekadar berjoget riang. Beberapa ditayangkan televisi sehingga publikasinya semakin luas. Bisa dipastikan, tujuannya tentu saja untuk menginspirasi kita, orang biasa.

Beberapa stasiun televisi sengaja memproduksi video klip berisi para pesohornya yang bernyanyi mengampanyekan agar kita, orang biasa, tinggal saja di rumah. Gaya mereka sebagian lucu dan riang gembira. Tanpa beban. Ada pesan implisit bahwa mereka tetap kerja agar kita, orang biasa, bisa betah di rumah karena dihibur dan ditemani mereka. 

Untuk memberikan rasa optimistis pada kita, orang biasa, tayangan berita menunjukkan beberapa tokoh publik yang berhasil sembuh dari covid-19. Sebut saja Bima Arya (Walikota Bogor) dan Yana Mulyana (Wakil Walikota Bandung). Dalam beberapa wawancara televisi, keduanya mengungkapkan pentingnya mengonsumsi makanan bergizi, mengikuti pengobatan sesuai anjuran dokter, dan selalu berpikiran positif agar segera sembuh.

Pesan senada juga diungkapkan pesohor dunia hiburan tanah air yang terinfeksi virus korona. Pesinetron Andrea Dian, misalnya. Dalam akun media sosialnya, ia berbagi kisah tentang pentingnya asupan makanan yang sehat untuk penyembuhan dirinya. Pesinetron Detri Warmanto juga menyampaikan hal serupa. Ia menunjukkan aktivitasnya pada follower-nya dalam mengatasi rasa bosan saat melakukan karantina mandiri. Ia berolahraga, memasak, maingim, dan berbagai kegiatan mengasikkan lainnya.

Beberapa ruas jalan utama di Kota Bandung mulai ditutup sejak 23 Maret lalu untuk mengurangi keramaian

Sampai sini tidak ada yang keliru. Sama sekali tidak ada yang salah dari pesan mereka pada kita, orang biasa, yang harus selalu diingatkan tentang pentingnya diam di rumah. Pesan mereka benar dan patut kita terapkan terutama saat merasa bosan tinggal di rumah.

Persoalan timbul manakala kita, orang biasa, sadar keadaan kita yang sesungguhnya. Apa sanggup kita, orang biasa, menghabiskan waktu di rumah dengan riang gembira seperti yang mereka tunjukkan? Pesan visual yang mereka suguhkan jauh berbeda dengan keseharian kita, orang biasa.

Tidak ada perabotan dan suasana dapur sekeren yang mereka tunjukkan sehingga kita bisa asyik memasak dengan ceria. Olahraga? Oke saja, tapi paling lari di tempat, push-up, atau sejenisnya. Tidak ada peralatan dan ruangan nge-gym seperti yang diposting beberapa pesohor dalam akun medsosnya. Apalagi kolam renang seperti yang mereka pertontonkan.

Bagaimana dengan main musik, nyanyi-nyanyi? Lumayan bisa dilakukan dengan gitar kopong atau ukulele butut kita, orang biasa. Tentu tanpa sound system yang keren dari pabrikan terkenal.

Ah, mari kita ajojing, menari-nari, joged-joged. Tapi bisakah kita, orang biasa, seriang mereka yang di layar kaca, sementara pikiran dipenuhi rasa kalut hari ini makan apa, lalu besok makan apa?

Ada satu hal yang cukup mengiris hati saat mereka, para pesohor meminta kita, orang biasa, agar diam di rumah dan biarkan mereka yang bekerja. Katanya untuk menemani kita di rumah. Wahai Tuan dan Nyonya, tidakkah terbersit di pikiran Anda semua, dengan Anda tetap bekerja berarti Anda tetap akan memperoleh penghasilan. Dan kita, orang biasa, terutama para pekerja harian, terancam kelaparan setiap harinya.

Kan ada tabungan? Mari bertaruh, berapa banyak tabungan kita, orang biasa, mampu melewati hari demi hari saat pandemi covid-19 ini? Tentu berbeda dengan Anda semua, Tuan dan Nyonya. Tabungan Anda, tentu masih mencukupi untuk membuat Anda sekeluarga tetap riang gembira di tengah situasi kritis macam sekarang.

Saya yakin, ada jutaan orang biasa di Indonesia, yang belum sanggup berwajah riang gembira saat melalui wabah ini. Setidaknya, ada 24,79 juta orang miskin di Indonesia yang megap-megap dan kebingungan menghadapi hari demi hari. Apa alasan untuk tetap bergembira? Demikian juga dengan jutaan pekerja harian yang super bingung karena sisa uang di rekeningnya hampir 0 rupiah.

Maafkan jika tulisan ini sinis. Sekali lagi, tidak ada yang keliru dari tujuan ditampilkannya para pesohor dan tokoh publik di negeri ini. Bagaimanapun, semua pesan itu bertujuan agar penularan covid-19 bisa dihentikan. Dengan begitu, banyak nyawa akan selamat.

Pesan visual yang ditampilkan akan lebih baik jika dilandaskan rasa empati pada kita, orang biasa. Bagi saya, penayangan tentang para pesohor televisi dan influencer medsos dengan segala kegenitannya itu terlalu berlebihan. Apalagi saat mimik muka mereka yang ceria dipadukan dengan tampilan isi rumahnya, maka lengkaplah keterpurukan kita, orang biasa, saat melihat pesan visual itu.

Apotek menjadi salah satu tempat yang banyak dikunjungi orang semenjak merebaknya covid-19

Jangan salah tangkap. Ya, saya tahu, pesan yang empatik tidak melulu harus ditampilkan dengan raut muka menderita, atau sambil nangis bombay. Tidak!

Tidak perlu seekstrem itu. Saya juga tidak ingin menunjukkan caranya. Biarkan mereka yang memikirkannya, karena toh mereka telah bilang bahwa mereka yang tetap bekerja. Mereka tentu tahu cara menyampaikan pesan dengan cara yang lebih empatik.

Yang pasti, kita, orang biasa, apalagi jika miskin, jangan sampai sakit. Memang benar, sejauh ini penanganan pasien covid-19 ditanggung negara. Namun, percayalah, segalanya tidak sesederhana itu. Ada hari demi hari yang harus dilalui agar selamat dari ancaman penyakit dan kemiskinan sekaligus.*******

Tri Irwanda

The author Tri Irwanda

Praktisi komunikasi. Mulai menekuni isu HIV dan AIDS ketika bekerja di KPA Provinsi Jawa Barat. Punya kebiasaan mendengarkan lagu The Who, “Baba O’Riley”, saat memulai hari dengan secangkir kopi.

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.