close
metadon
Sumber Gambar : Google Images

Apa itu metadon?

Metadon adalah opiat (bahan yang terkandung dalam opium) sintetis (buatan) yang termasuk Golongan II narkotika menurut Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika ”yang berkhasiat pengobatan” dan ”digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi paliatif, serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan.” Metadon diproduksi dalam bentuk cairan, tablet, dan bubuk. Yang digunakan untuk pengobatan adalah yang berbentuk cairan yang diminum, dan karenanya lebih aman daripada penggunaan heroin yang disuntikkan.

Bagaimana metadon digunakan dalam berbagai pengobatan?
Di banyak negara metadon digunakan sebagai penghilang rasa sakit pasca operasi atau pasca kemoterapi. Di Indonesia sendiri petidin dan morfin, keduanya Golongan II narkotika, lebih banyak digunakan untuk keperluan ini. Dalam pengobatan ketergantungan heroin, metadon pertama kali diresepkan pada tahun 1962 di Amerika. Sifatnya yang lebih stabil dari heroin membantu pasien untuk bertahan lebih lama dengan sensasi penurunan kesadaran (mabuk) yang minim sehingga memungkinkan pasien untuk mengonsumsi sekali sehari tanpa mengganggu aktivitas rutinnya.

Mengapa harus metadon? Bukankah bersih dari narkoba yang seharusnya dicapai?
Seperti disinggung sebelumnya, metadon merupakan pilihan terakhir karena potensi ketergantungannya yang tinggi. Kecanduan heroin merupakan perilaku kompleks di mana seseorang terpaksa mengonsumsi heroin walaupun bertentangan dengan keinginannya sendiri. Dokter Vincent Dole, perintis terapi rumatan metadon di Amerika, menggolongkan kecanduan sebagai ”penyakit metabolisme” seperti halnya obesitas. Pada obesitas tubuh tidak memproduksi cukup hormon insulin untuk memproses asupan makanan menjadi energi, sedangkan pada kasus kecanduan heroin yang terjadi sebaliknya: reseptor otak semakin toleran terhadap heroin seiring dengan pemakaian. Akibatnya, produksi morfin alami (endorfin) berkurang drastis dan tergantikan oleh heroin yang semakin besar kebutuhannya.

Hal ini menjelaskan mengapa seseorang yang telah bebas narkoba memiliki kemungkinan 80-90 persen menggunakan kembali pada tahun pertama setelah berhenti. Bila dikaitkan dengan HIV/AIDS yang menjangkiti 50-70 persen pengguna napza suntik di Indonesia (untuk Jawa Barat mencapai 81 persen), perilaku penyalahgunaan narkoba membutuhkan beragam penanganan, termasuk dengan obat seperti metadon.

Apa yang dimaksud dengan Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM)?
Adalah pemberian obat metadon harian kepada pasien ketergantungan heroin di institusi kesehatan seperti Puskesmas atau Rumah Sakit dengan pengawasan langsung oleh petugas kesehatan. Sifatnya rumatan atau mempertahankan pasien selama mungkin menjalani terapi tersebut sampai akhirnya dosis dapat diturunkan bertahap dan, bila memungkinkan, berhenti. Dosis awal diberikan pada kisaran 15-30 mg/hari dan dinaikkan bertahap sampai mencapai kisaran 60-120 mg/hari pada tahun pertama terapi.

Kenaikan dosis dimaksudkan untuk mencapai dosis ”nyaman” di mana pasien tidak merasakan sama sekali gejala sakaw dan dapat beraktivitas. Dosis stabil ini yang kemudian dipertahankan seterusnya. Dalam beberapa kasus di Jakarta pasien akhirnya dapat mencapai kembali dosis rendah 5 – 15 mg/hari pada tahun ke-3 namun terus dipertahankan sampai tahun ke-4 karena pertimbangan pasien sendiri mengenai kesiapan psikis yang belum cukup dalam menghadapi suges (keinginan yang kuat untuk menggunakan narkoba).

Hal apa saja yang patut dipertimbangkan sebelum memutuskan menjalani terapi rumatan metadon?
Selain kriteria tertentu yang harus dipenuhi, yang terpenting adalah kesiapan si calon pasien untuk mengikuti program terapi yang bersifat jangka panjang ini. Jangka terapi tidak bisa ditentukan di muka mengingat selama perjalanan terapi seorang pasien dapat saja kambuh menggunakan heroin kembali sehingga membutuhkan perencanaan dosis ulang, atau seorang pasien bisa saja menjalani pengobatan antiretroviral untuk HIV/AIDS yang membutuhkan peningkatan dosis metadon. Penelitian oleh peneliti dari Amerika, Ball & Ross (1991) menunjukkan bahwa tingkat penggunaan heroin menurun drastis di tahun ke-4 terapi, yaitu sebesar 70 persen dari 388 pasien metadon yang ditelitinya.

Manfaat apa yang didapat dengan terapi rumatan metadon?
Dalam risetnya di Amerika, Metzger, dkk (1993) mengemukakan bahwa dalam kurun 18 bulan pecandu heroin hampir 3 kali lebih berisiko terinfeksi HIV dibandingkan mereka yang menjalani rumatan metadon dalam waktu yang sama. Pengamatan RS Fatmawati Jakarta (2007) yang dimulai pada April 2003 juga menunjukkan penurunan penggunaan heroin. Sehingga pada Januari 2007 hanya 9.7 persen dari total 246 pasien metadon aktif yang menggunakan heroin. Dari keseluruhan pasien 49 persen memiliki pekerjaan dan 11 persen dapat kembali bersekolah atau kuliah.

Selain terhindar dari penularan HIV, penyalahgunaan narkoba dan menjalani kehidupan normal kembali, pasien metadon selalu berhubungan dengan petugas medis setiap harinya, sehingga keluhan fisik atau penyakit lain yang dideritanya dapat ditangani segera. Klinik rumatan metadon RSKO, RS Hasan Sadikin, dan lainnya menyediakan juga pengobatan HIV dan penanganan psikiatri. Riset Grondblab dkk (1990) membuktikan efektifitas layanan metadon dalam menurunkan angka kematian terkait komplikasi penggunaan heroin sampai dengan 80 persen.

Bagaimana seseorang dapat mengikuti layanan terapi rumatan metadon?
Dia harus memenuhi beberapa kriteria tertentu. Pertama, berusia minimal 18 tahun dan tidak menderita sakit berat. Kedua, dia mengalami ketergantungan heroin dalam jangka 12 bulan terakhir disertai gejala kecanduan seperti peningkatan dosis heroin dan putus zat (sakaw) bila tidak memakai. Ketiga, dia sudah pernah mencoba berhenti menggunakan heroin dengan cara rehabilitasi atau detoksifikasi namun gagal dan memakai kembali.

Terakhir, harus diketahui oleh pihak keluarga yang berperan sebagai pendamping atau pada situasi yang tidak memungkinkan, dapat diwalikan oleh pihak lain seperti pendamping LSM. Setelah persyaratan tersebut dipenuhi, pasien dikenakan tarif layanan yang bervariasi di tiap daerah setiap kali mengakses layanan metadon. Misalnya, untuk layanan metadon di Puskesmas wilayah DKI Jakarta tarif yang dikenakan adalah Rp 5.000. Sedangkan klinik Metadon RS Hasan Sadikin Bandung menetapkan tarif Rp 15.000 dan di RS Sanglah Denpasar sebesar Rp 8.000.

Apakah metadon aman digunakan?
Ya, metadon aman untuk digunakan oleh mereka yang memenuhi kriteria-kriteria yang telah disebutkan di atas. Karena metadon diperoleh dan dikonsumsi hanya di Puskesmas atau Rumah Sakit, maka risiko penyalahgunaan dapat diminimalisir. Sediaan metadon yang cair dan diminum memudahkan pengawasan petugas kesehatan dibandingkan bahan serupa dalam bentuk tablet yang dapat menyisakan serpihan tablet di mulut dan disalahgunakan dengan cara suntik.

Efek samping terkait metadon yang biasa timbul ialah sembelit, keringat berlebihan, rasa kantuk atau penurunan kesadaran yang biasanya hilang seiring dengan penyesuaiani tubuh terhadap dosis metadon yang diberikan. Sejumlah orang mengalami reaksi alergi yang luar biasa dan membutuhkan pengobatan lain selain metadon.

Pusat Statistik Kesehatan Nasional Amerika (2006) menyebutkan jumlah kematian terkait metadon yang meningkat menjadi 2.992 kasus pada 2003. Namun 82 persen dari kasus tersebut bersifat aksidental yang sebagian besarnya melibatkan penggunaan narkoba lain yang dikombinasikan metadon.

Obat Daftar G seperti Alprazolam (Xanax®, Calmlet®) dan Bromazepam (Lexotan®) yang dapat diperoleh dengan mudah di Indonesia meningkatkan risiko overdosis metadon secara signifikan. Mengkombinasikan metadon dengan narkoba lain untuk mencapai tingkat “high” akan mengakibatkan overdosis.

Apa yang harus diperhatikan bagi seseorang yang menjalani terapi rumatan metadon?
Yang harus diingat metadon bukanlah solusi utama dari kecanduan. Metadon hanyalah obat yang bertujuan menghindarkan pasien dari pemakaian heroin. Motivasi diri pasien amat berperan selama masa terapi, terutama sebelum dosis stabil dicapai yang rentan sekali untuk memakai kembali heroin. Bila kepatuhan terapi terjaga, pasien dapat terhindar dari infeksi HIV dari penggunaan heroin suntik dan dapat mengendalikan hidupnya ke arah yang lebih produktif.

Untuk mencapai ini dukungan orang terdekat seperti keluarga sangat diutamakan. Penelitian RS Sutomo Surabaya menunjukkan pentingnya peran keluarga dalam mendukung keberhasilan terapi yang ditunjukkan dengan perubahan perilaku dan psikis pasien setelah 3 bulan mengikuti terapi rumatan metadon.

Tri Irwanda

The author Tri Irwanda

Praktisi komunikasi. Mulai menekuni isu HIV dan AIDS ketika bekerja di KPA Provinsi Jawa Barat. Punya kebiasaan mendengarkan lagu The Who, “Baba O’Riley”, saat memulai hari dengan secangkir kopi.

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.