close
FeaturedKebijakan

Seorang Polisi yang Meninggalkan ‘Perang lawan Narkoba’: Saya telah Melakukan Hal-hal yang Sangat Buruk

7360
Neil Woods, penulis Good Cop, Bad War (Foto: theguardian.com)

WAKTU BACA: 7 menit

Neil Woods telah terbiasa mempertaruhkan nyawa demi menangkap bandar narkoba. Tapi, saat sindikat menanggapinya dengan meningkatkan kekerasan dan intimidasi – beberapa bahkan meracuni konsumen narkoba yang berbicara dengan polisi – dia mulai melihat bahwa ‘legalisasi’ merupakan satu-satunya solusi.

Decca Aitkenhead. The Guardian Jumat, 26 Agustus 2016

Berjalan bersama saya melintasi sebuah pasar di pusat kota seorang pria ramping dan bugar berusia 46 tahun. “Jadi, Anda ingin saya menunjukkan bagaimana penampilan saya ketika itu?” Dia menekuk perut, membungkukkan kedua bahu, pura-pura mengelap keringat di dahinya, dan tiba-tiba saya melihat seorang junkie – grogi, memelas, mengemis untuk narkoba.

Selama 14 tahun, Neil Woods tidak tinggal bersama istri dan kedua anaknya, mengenakan pakaian kusam bertanda “charity-shop scally tracksuit bottoms”, dan muncul di sebuah kota di Inggris sebagai seorang pecandu. “Saya menyerap ungkapan-ungkapan dan kebiasaan seperti spons menyerap air. Slang sangat bersifat kewilayahan, bahkan hanya khusus untuk satu kota, jadi Anda harus beradaptasi dengan cepat”.

Menggunakan satu kisah bohong baru tiap saat, polisi narkoba yang menyamar akan secara bertahap menjadi teman pecandu miskin, mengambil hatinya untuk bisa berhubungan dengan bandar-bandarnya, membeli narkoba dari mereka – kemudian mengirim mereka semua ke penjara.

Merupakan sebuah perjuangan untuk bisa berperan sebagai pecandu bagi Woods karena saat bersama saya, sambil minum teh dan makan kue, dia jelas terlihat sebagai mantan polisi. “Oh, tapi dulu saya mencintai seni penipuan,” katanya. “Dan dulu saya mencintai perkembangan ketrampilannya. Sebuah tantangan yang keren untuk bisa berhasil mengkhianati orang. Sebagian lagi karena tingkat bahayanya.”

Tiap tahun bahaya semakin besar, para pengedar semakin tahu taktik penyamaran polisi, semakin banyak pula muka-muka baru yang mencurigakan menanyakan narkoba. Seorang pengedar pernah kabur dari Woods, yang lainnya menodongkan pisau ke pangkal pahanya, yang lain lagi menembakkan pistol 9 mm ke arahnya. Tapi penghargaan demi penghargaan diraihnya.

Woods bahkan pernah membantu memformulasikan panduan nasional untuk operasi penyamaran, dan melatih ketrampilan yang dimilikinya kepada petugas kepolisian se-Inggris.

Baca juga:  Jangan Lupakan Pemasyarakatan dalam Pembaruan Sistem Peradilan Pidana di Indonesia

Dia sungguh merasa bersalah karena memenjarakan para pecandu nahas yang terpaksa menjadi pengedar. “Tapi saya katakan ke diri saya sendiri, saya berada di pihak yang benar, dan cara-cara itu dihalalkan”. Pembenaran moral ini nampak lebih menarik di tiap penugasan baru, karena para bandar semakin menggunakan kekerasan untuk menakut-nakuti masyarakat supaya tidak berbicara pada polisi.

Di Northampton, Woods menemukan penghukuman baru yang mengerikan bagi cepupacar atau saudara perempuan diperkosa ramai-ramai (gang rape) – dan setiap pecandu heroin di Brighton memperingatinya bahwa jika bandar di situ berpikir dia telah bicara, heroin yang dibeli berikutnya akan membunuhnya.

Ini menjawab pertanyaannya terdahulu akan tingkat kematian akibat heroin di Brighton lima kali lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Ini bukan kasus kelebihan dosis, dia menyadarinya, tapi para bandar bisa lolos dari hukum pidana atas pembunuhan dengan membuat korbannya seolah meninggal karena overdosis heroin.

Saat itulah pencerahan meyingsing. “Tiap tahun polisi semakin baik dalam menangkap geng penjual narkoba, dan cara paling efektif bagi para gangster untuk membalasnya adalah dengan meningkatkan ketakutan dan intimidasi kepada informan. Dengan kata lain, kelompok kejahatan terorganisir semakin kejam sebagai akibat langsung dari apa yang saya lakukan”.

Satu-satunya jenis pengedar yang paling bisa ditangkap polisi, menurutnya, adalah ‘buah yang menggantung pendek’ – bandar kecil-kecilan, pecandu yang berusaha membiayai kebiasaannya dengan menjual sedikit, yang para informan bisa melaporkannya tanpa ketakutan. “Ini mengapa kejahatan terorganisir semakin dimonopoli, karena kelompok kejahatan terorganisir yang paling sukses adalah mereka yang paling menakutkan”.

Dia juga melihat apa yang dilakukan perang melawan narkoba terhadap polisi. Ketika Woods mendapati kolega-koleganya di satuan narkoba korupsi, jajaran senior angkat bahu menyatakan bahwa ini tidak terelakkan, karena mereka juga terlibat dalam penyuapan. Sebuah perdagangan ilegal bernilai £7 miliar tentu mampu membeli polisi sebanyak mungkin sesuai kehendaknya.

Kesadaran bahwa karir yang dia miliki membahayakan nyawanya tidaklah begitu sia-sia, tapi kepolisian mengakibatkan penderitaan yang dia saksikan, menjerumuskannya ke dalam krisis psikologi. Dia merasa seperti kehilangan akal sehat sampai dokter-dokter mendiagnosa PTSD (post-traumatic stress disorder); dulu sangat parah bahkan hingga kini Woods gelisah dan tegang.

Baca juga:  Legalisasi Ganja di Indonesia: Upaya Mengambil Alih Penguasaan Narkoba dari Sindikat Kejahatan Terorganisir

Bentuk PTSD ini, dia pelajari, disebut Kerusakan Moral. “Ini adalah karena telah melakukan hal-hal yang buruk. Dan saya telah melakukan hal yang benar-benar buruk”.

Dia mencoba berbicara ke kolega-koleganya, tapi mereka tidak ada yang mengalami hal serupa. Kalau narkoba ‘dilegalkan’, mereka meyakinkannya, para pengedar dan gangster tidak akan hilang, tapi masuk ke dalam bentuk-bentuk kejahatan lain.

“Ini adalah kesalahpahaman terbesar tentang kejahatan. Bukanlah penjahat yang menyebabkan kejahatan, melainkan kesempatan”.

Menurut Woods, “Lima puluh persen orang yang berada di penjara di negeri ini berkaitan dengan narkoba. Di samping itu, 50% keserakahan kejahatan dilakukan oleh kurang dari 0,2% populasi. Dan itu adalah konsumen heroin yang bermasalah. Jika kita menumpas geng-geng kejahatan, dan meresepkan heroin kepada para pecandu, kebanyakan kejahatan itu akan hilang dalam semalam. Buktinya ada di Swiss. Swiss tidak pergi cukup jauh, tapi bahkan dari bukti yang terbatas, penurunan kejahatan di sana benar-benar mengagumkan”.

Tapi narkoba, koleganya tetap gigih, membunuh manusia. Baru-baru ini, sejumlah remaja di Manchester koma setelah mengonsumsi ekstasi. “Inilah alasan untuk meregulasi!” teriaknya. “Kita sekarang tidak lagi punya rum berkadar alkohol 70%, karena dulu digunakan untuk membunuh manusia, jadi kita atur (regulasi). Ada batas mengenai seberapa keras minuman beralkohol. Kita seharusnya melakukan hal yang sama untuk NAPZA lainnya, karena jika tidak, saat anak-anak terlibat dengan barang-barang ini, kadarnya tidak diatur”.

Dia mengutip sebuah kajian global yang dilakukan koalisi pemerintahan, tentang dampak kebijakan narkoba penghukuman terhadap konsumsi narkoba. Kesimpulannya tegas, dia katakan, “Seberapa pun kerasnya hukuman Anda – hukuman mati, 20 tahun penjara – tidak ada dampaknya terhadap konsumsi narkoba”. Malahan menghabiskan waktu kita dalam menurunkan konsumsinya, Woods berargumen, “Kebijakan narkoba seharusnya mengurangi bukan konsumsinya, tapi dampak-dampak buruknya”.

Menjalani rawat huni untuk PTSD, Woods tidak bisa lagi bekerja. Pada 2011, dia berhenti jadi polisi, dan tahun lalu dia menjadi ketua UK Law Enforcement Against Prohibition (LEAP), sebuah organisasi internasional polisi dan pensiunan polisi, petugas penjara, militer, dan intelijen yang ingin masyarakat mengetahui tentang kerusakan yang tidak disadari dari perang terhadap narkoba. Didirikan di AS, LEAP berharap bisa sesukses Veteran Vietnam Menentang Perang.

Baca juga:  Warga Oplosan

“Saya telah mengakibatkan kerusakan besar dan saya yakin saya berkewajiban untuk mencoba dan menempatkan hal-hal tersebut dengan benar. Saya juga berkewajiban karena saya berada dalam posisi unik. Dengan pengalaman dan pandangan saya, saya memiliki kesempatan untuk memberi tahu masyarakat, dan karena hanya saya yang memiliki pengalaman saya. Saya perlu mengatakan pada masyarakat. Dan masyarakat mendengar saya, karena saya bukanlah seorang hippy. Saya mantan petugas kepolisian”.

Good Cop, Bad War adalah sebuah uraian yang mencengkeram realitas perang narkoba, yang dia harap bisa mengubah opini publik. “Saya tidak begitu ingin menulis sebuah memoar. Saya seorang introvert yang ekstrim. Tapi itu merupakan kendaraan terbaik buat masyarakat untuk mengikuti perjalanan saya, dan saya menyadari apa yang membuat saya tiba pada keputusan yang saya buat”.

Kebijakan narkoba yang Woods inginkan sederhana dan radikal. Heroin harus diresepkan oleh dokter kepada pecandu, dan setiap narkoba dijual di bawah kondisi pengaturan yang ketat. Termasuk crack? “Selama di kepolisian saya memercayai pesan itu, ‘Sekali mengisap crack dan Anda kecanduan seumur hidup’. Saya ingat melihat Nancy Reagan di TV mengatakannya, dan itu benar-benar omong kosong. Tidak ada dasar pembuktian sama sekali dalam pernyataan tersebut”.

Woods melobi cukup banyak politisi untuk mengetahui bahwa mereka tidak akan membuat hukum baru sampai mereka bisa melihat masyarakat menginginkannya. Dia tidak akan berkata berapa lama itu akan terjadi – “Siapa yang tahu?” – tapi dia yakin akan satu hal: kita akan melihat ke belakang pada perang narkoba suatu hari, “Dan mengagumi bagaimana kita pernah bisa percaya itu”.

Terjemahan bebas dari https://www.theguardian.com/society/2016/aug/26/neil-woods-undercover-cop-who-abandoned-the-war-on-drugs yang disesuaikan dengan Persyaratan Artikel di Situs Jejaring Rumah Cemara

Redaksi

The author Redaksi

Tim pengelola media dan data Rumah Cemara

Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.