close
1_FWKwd5ZBPib8fAdsH-ttgg
Foto: Iodine

Buat yang pernah ketagihan putau dan berobat ke dokter untuk mengatasinya, pasti banyak yang tahu tramadol. Di Indonesia dipasarkan dengan jenama antara lain Tramal dan Tradosik selain yang generik dengan kandungan 50 mg tramadol hidroklorida. Pereda nyeri ini sering diresepkan dokter dalam proses detoksifikasi putau atau heroin. Fungsinya untuk meredakan nyeri akibat putus opioid.

Tramadol adalah opioid sintetis. Cara kerjanya, seperti morfin dan heroin, mengikat reseptor opioid di otak dan meredakan nyeri. Obat ini terutama diresepkan untuk meredakan nyeri pada luka pascaoperasi, patah tulang, bahkan untuk sebagian pasien kanker.

Buat konsumen putau, efek tramadol tidak akan memenuhi harapan. Maklumlah efek putau tiga kali lebih kuat dari morfin, sementara efek tramadol hanya sepersepuluh efek morfin pada tubuh manusia. Jadi, waktu konsumsi putau masih marak di Indonesia sampai sekitar 2014, saya tidak pernah dengar adanya konsumsi tramadol tanpa indikasi medis. Obat itu diminum sesuai anjuran dokter yang merawat pasien ketergantungan putau. Malah sering tidak diminum karena percuma, tidak ada rasanya.

Belakangan, Rumah Cemara sering kedatangan orang-orang yang ketagihan tramadol. Kebanyakan usia sekolah. Mereka tidak pernah konsumsi putau sebelumnya.

Konsumsi tramadol belakangan juga sering diberitakan media. Satu di antaranya pada 8 Agustus lalu mengenai remaja yang menjual tramadol seharga 40 ribu rupiah di Cikarang, Bekasi.

Sebelumnya, 76 remaja kelebihan dosis campuran carisoprodol, dextromethorpan, dan tramadol di Kendari, Sulawesi Tenggara. Lima di antaranya tewas pada September 2017.

Karena sering diberitakan dan jadi perhatian Rumah Cemara, saya pun mencari tahu mengenai sepak terjang tramadol akhir-akhir ini.

Memang betul, saat ini tramadol banyak dikonsumsi anak remaja. Atau tepatnya jadi salah satu pilihan narkoba di kalangan remaja. Perlu diketahui bahwa seseorang belum tentu akan menyukai semua jenis narkoba. Jadi misalnya, orang yang suka isap ganja, belum tentu dia juga suka minum tramadol. Atau sebaliknya. Yang mereka sukai akan jadi pilihan narkoba yang sering dikonsumsi.

Banyak dikonsumsi bukan berarti dikonsumsi oleh semua remaja. Dalam laporan surveinya, BNN memperkirakan 1,77 persen penduduk Indonesia mengonsumsi narkoba pada 2017. Artinya, 98,23 persen penduduk di Indonesia tidak mengonsumsinya. Di kalangan remaja, ini berarti pula 98,23 persen remaja Indonesia tidak mengonsumsi narkoba.

Dari segelintir remaja yang mengonsumsi narkoba, sebagian di antaranya memilih tramadol karena harganya murah. Harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah untuk tramadol generik, Rp3.000 per strip. Walaupun demikian, sesuai penggolongannya dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI tramadol harus diperoleh dengan resep dokter.

Masih dari laporan BNN, diperkirakan 504.416 penduduk Indonesia mengonsumsi tramadol pada 2017. Proporsinya, pelajar 24 persen, pekerja 59 persen, dan populasi umum 17 persen. Proporsi ini berlaku untuk semua jenis narkoba.

Waktu zaman saya SMP, narkoba yang lazim dikonsumsi teman-teman saya adalah minuman beralkohol, rokok, ganja, atau BK dan benzodiazepine lainnya. Waktu itu tramadol belum tenar di kalangan pelajar, setidaknya di lingkungan saya. Kalaupun ada obat apotek yang dikonsumsi untuk efek psikoaktifnya adalah dextromethorphan, obat batuk yang dijual Rp50 per butir. Itupun tidak lazim karena efek halusinasinya yang absurd.

Pilihan narkoba menggambarkan kelas ekonomi. Anak-anak yang minum BK di awal 1990-an biasanya dari kalangan miskin. Kalaupun ada anak kelas menengah yang minum BK untuk efek sedatif hipnotiknya, kemungkinan dia masih dalam taraf coba-coba. Setelah itu, mereka akan lebih memilih benzodiazepine bermerek seperti Mogadon atau Dumolid.

Dextromethorphan juga dikonsumsi pelajar miskin. Dengan uang Rp500 kala itu, mereka sudah bisa mabuk. Tapi karena efek halusinasinya yang absurd tadi, obat batuk ini kurang populer dibanding BK yang harganya berkisar Rp500 hingga Rp2.000 per lima atau tujuh butir sesukanya pengedar mengemasnya. Selain berbeda efek, tempat memperoleh dan kepastian harga juga beda antara keduanya. Dextromethorpan dibeli di apotek dengan harga yang pasti, BK dibeli di jalanan dengan harga yang tak pasti.

Saat kejadian yang menewaskan lima pelajar di Kendari 2017 lalu, dextromethorpan disebut-sebut sebagai salah satu obat yang dikonsumsi selain carisoprodol dan tramadol. BPOM pun segera memberikan pernyataan resmi bahwa sediaan tunggal dextromethorpan telah ditarik dari peredaran sejak 2013. Begitu pula dengan obat yang mengandung carisoprodol.

Artinya, hanya tramadol obat yang resmi memiliki izin edar.

Belakangan, pascakejadian di Kendari, pabrik ilegal carisiprodol banyak diungkap di sejumlah daerah di Pulau Jawa. Mereka memproduksi obat kombinasi paracetamol, carisoprodol, dan caffeine (PCC). Pabrik yang ditemukan di Semarang Desember 2017 lalu, omzetnya mencapai Rp2,7 miliar per bulan. Mereka bisa menggaji karyawannya Rp4-9 juta tiap bulan.

Untuk dextromethorpan, para konsumen mendapatkannya dari obat batuk cair yang dikemas bersama zat lain seperti guaifenesin dan chlorpheniramine. Untuk mendapat efek dextromethorpan yang diharapkan, tentu mereka harus minum belasan hingga puluhan saset obat batuk sirup itu.

Obat lain yang kerap dikonsumsi pelajar dan kalangan miskin untuk efek psikoaktifnya adalah triheksifenidil. Versi generiknya dijual Rp600 per strip isi 10 tablet 2 mg. Lazimnya diresepkan untuk mengobati kejang, tremor, dan kontrol otot yang buruk pada pasien Parkinson’s. Seperti carisoprodol, efek obat ini adalah mengendurkan otot (muscle relaxant).

Sebagai relaksan otot, carisoprodol yang di Indonesia sempat dijual dengan jenama Somadril, kerap dikonsumsi penjaja seks. Ada dua alasan konsumsinya, supaya para penjaja seks ini lebih santai dalam menghadapi pelanggan dan untuk melenturkan otot di sekitar vagina yang nyeri akibat melayani banyak pelanggan dalam semalam.

Dalam urusan kelamin, sejumlah literatur menyebutkan bahwa tramadol bisa digunakan untuk mengobati ejakulasi prematur. Walaupun disebutkan pula, konsumsi tramadol dalam jangka panjang bisa berakibat pada kecanduan.

Jujur saja, saya baru tahu kalau tramadol digunakan untuk mengatasi ejakulasi prematur. Hal ini saya ketahui beberapa hari lalu dari seorang teman waktu mendiskusikan fenomena konsumsi tramadol ini. Teman saya tahu dari psikiaternya yang merespkan obat itu untuk pasien-pasiennya yang tentunya bukan pelajar miskin, yang mengalami ejakulasi dini.

Mengatasi Ketergantungan Tramadol

Menanggapi pengunjung Rumah Cemara yang bertanya langsung maupun lewat media sosial dan surel perihal keinginannya memutus ketergantungan tramadol, saya akan sampaikan sejumlah hal yang bisa dilakukan. Pertama, berhenti konsumsi narkoba yang kita sukai sangatlah berat. Sebagian yang mencoba, tetap kembali. Tapi bukan sama sekali tidak bisa. Di antara yang mencoba hidup tanpa tramadol serta opioid lainnya, sebagian berhasil!

Banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan tersebut selain niat yang sungguh-sungguh. Tapi hanya mengandalkan niat semata, boleh dibilang upaya untuk berhenti minum tramadol sudah gagal sebelum dilaksanakan. Rumah Cemara menyediakan program pemulihan dari ketergantungan narkoba dengan pendekatan dukungan sebaya, yakni orang-orang yang pernah ketagihan dan kini hidup tanpa konsumsi narkoba.

Selain itu, Rumah Cemara juga akan menilai apakah pasien ketergantungan tramadol membutuhkan dukungan pelengkap seperti dokter, psikolog, atau pembimbing spiritual.

Kedua. Buat yang berusia kurang dari 18 tahun, jalan satu-satunya mengatasi masalah konsumsi tramadol adalah berhenti. Tramadol adalah obat resmi yang memang dibutuhkan dalam dunia pengobatan. BPOM tidak mengizinkan obat ini diresepkan untuk pasien berusia kurang dari 18 tahun. Alasannya karena risiko mengalami gagal pernapasan hingga kematian lebih tinggi dari orang dewasa.

Berhenti dan memulihkan diri dari ketergantungan narkoba membutuhkan dukungan. Rumah Cemara menyediakan dukungan tersebut.

Ketiga. Kalau memang tidak ingin berhenti, hal-hal mengenai konsumsi tramadol berikut perlu dipahami:

Obat ini berpotensi menimbulkan ketagihan;

Konsumsi obat ini menekan pernapasan yang bisa mengancam nyawa;

Obat ini menyebabkan kantuk, pusing, dan memengaruhi kemampuan berpikir serta motorik. Konsumen seharusnya tidak mengemudi atau mengoperasikan mesin;

Saat mengonsumsi tramadol, konsumen tidak mengonsumsi alkohol atau zat-zat yang membuat pernapasan lebih tertekan sehingga meningkatkan risiko kematian;

Dosis maksimal dalam satu hari adalah 400 mg;

Kalau memang ingin terus mengonsumsi tramadol, sebaiknya dengan pengawasan tenaga medis untuk memastikan dosis yang tepat serta penanganan efek samping yang ditimbulkan. Konsumsi obat apapun dalam jangka panjang, pasti akan berdampak pada tubuh.

Keempat. Saya menentang pelarangan dan pemberantasan obat ini, supaya produksi dan penjualan tramadol tidak dikuasai sindikat pasar gelap narkoba seperti yang terjadi pada PCC. Sejak tahun lalu, carisoprodol masuk ke daftar Narkotika Golongan I, obat yang hanya boleh dimanfaatkan untuk IPTEK menurut UU. Alhasil, konsumsinya tidak terkendali termasuk oleh anak-anak, harga ditentukan hanya untuk memperkaya sindikat, dan tidak ada kendali mutu karena diproduksi secara gelap sehingga rawan keracunan.

Konsumsi tanpa indikasi medis untuk mabuk tidak hanya terjadi pada tramadol dan obat-obatan yang sudah saya sebutkan di atas. Parasetamol serta ibuprofen untuk mengatasi demam pun juga kadang dikonsumsi untuk tujuan tersebut. Karena itu, pelarangan bukanlah sebuah keputusan bijak untuk menanggapi persoalan konsumsi tanpa indikasi medis. Sebab bisa-bisa, semua obat dilarang beredar.

 

Patri Handoyo

The author Patri Handoyo

Pencinta kopi dan perpaduan benzo-opioid. Menekuni kesenian selama hayat masih dikandung badan. Peneliti partikelir serta kontributor di beberapa kelompok advokasi dan pendidikan alternatif.

5 Comments

  1. Setuju , saya pecandu tramadol tpi saya tau batasan dosis untuk perhari , cmn yg sulit di dapat obatnya krna skrgharganya di pasar gelap per 3butir sdh mencapai angka 50rb rupiah…..

  2. Salam sehat Penerus bangsa. saya dulu menggunakan TRAMADOL Sudah 10 thn. Alhamdulillah… Saya sudah berhenti semenjak Lahir anak ke 2.(Laki-Laki).sekarang anak saya berumur 6 bulan+.Tapi saat anak saya Lahir saya niat pulang ke kampung halaman saya. Riau. Dan di sana tidak ada jual yg namanya TRAMADOL. Kecuali di Palembang memang gudangnya. Dan sukabumi. Jadi saya niatkan dalam hati saya. Dan saya jujur ke keluarga besar saya terutama Istri saya. Percaya Teman2 semua pasti ada jalannya tergantung kita Niat apa Tidak. Saran saya buat teman 2 yg masi candu barang haram itu. Berhentilah… Karna TRAMADOL yg di edarkan saat ini bukan yg Pabrik resmi. Melainkan menggunakan campuran Zat yg lebih berbahaya… Apalagi yg polos,kalau menahan Sakaunya TRAMADOL Tuhan aja yg tau… Semua badan tidak berdaya… Buat menahan itu semua harus ada Niat. Saya ingin sekali membuat Grup PPT(Peduli Pecandu Tramadol) Agar kita yg sudah Berhenti bisa membantu teman-teman kita yg masi bertegantungan… Kasihan mereka penerus bangsa… Tak ada kata terlambat Buat kita berubah… Bagi teman2 yg niat berhenti menggunakan Semua obat 2 seperti Tramadol bisa Kita bikin Grup agar sembuh seperti saya… Gratis tampa di pungut biaya… Ingat pertama saya menggunakan Tramadol selempeng masi harga Rp. 4.000. Masi di jual bebas di Biak.berhenti pasti bisa asal ada kemauan dari diri kita sendiri (INGAT BADAN PAKAI LAMA BRO)

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.