close
WhatsApp Image 2022-09-13 at 11.56.12 AM

Sebulan terakhir Kota Bandung jadi topik perbincangan warganet. Yang diperbincangkan adalah satu topik yang jarang dibahas di hari biasa, yaitu soal HIV-AIDS. Kita semua lihat, berita tentang ratusan mahasiswa di Kota Bandung  yang terinfeksi HIV jadi pemicu kehebohan. Viral. Beberapa saat kemudian, berita mulai bergulir dengan berbagai analisis dari sejumlah tokoh publik. Tentu saja, tokoh pemerintahan ikut bicara.

Situasi makin seru sewaktu Wakil Gubernur Jawa Barat menyatakan bahwa pernikahan dan poligami bisa efektif mencegah HIV-AIDS. Suasana pun kian gaduh. Reaksi muncul di mana-mana. Pro dan kontra di dunia maya terjadi.

Kali ini, perkenankan saya mengulasnya dari sudut pandang yang saya miliki tentang fenomena ini. Selamat membaca!

Statistik HIV-AIDS yang Dikemas Sensasional

Entah bagaimana muasalnya, kasus HIV-AIDS di Kota Bandung jadi pemberitaan dalam sebulan terakhir. Sorotan media lebih tertuju pada temuan mahasiswa yang mengidap HIV. Mereka ber-KTP Kota Bandung. Jumlahnya, seperti dalam berita mencapai empat ratusan.

Berbagai media online menyuguhkan judul beraneka ragam. Tidak sedikit yang menambahkan kata “heboh”, “gawat”, “gempar”, atau “geger” di awal judul berita. Tentu kita paham, ini semua demi memancing pembaca mengklik beritanya alias clickbait.

Kita lihat judul berita ini sebagai contoh, “Waspada Darurat HIV AIDS di Kalangan Mahasiswa Bandung, Hati-hati tapi Jangan Diskriminasi”. Berita  yang tayang di Urbandepok.com (26/8/2022) ini memberi judul yang sensasional. Situasi darurat ditunjukkan pula dengan isi beritanya pada kalimat kedua dengan menyebutkan, kondisi waspada darurat harus diaktifkan terutama buat kalian yang aktif dan memiliki pergaulan di Bandung.

Saya tidak tahu persis berapa banyak judul sejenis itu bertebaran di jagat maya. Contoh berikut juga menarik disimak. Gridfame.id, sebuah portal berita hiburan pada 26 Agustus 2022 menayangkan berita dengan judul “Ngeri! Belajar Dari Kasus Ratusan Mahasiswa dan Ibu Rumah Tangga di Bandung Mendadak Terkena HIV, Ternyata Sariawan Jadi Salah Satu Tandanya!” 

Judul tersebut seakan mengonfirmasi bahwa situasi memang darurat karena ratusan mahasiswa (dan ibu rumah tangga) mendadak terkena HIV. Nah lo! Ternyata, menurut berita tadi seseorang bisa mendadak tertular HIV. Ini tentu saja genting bin darurat!

Tidak kalah hebat, media lain, yakni Jabar Today (24/8/2022) mengunggah berita dengan judul “Gawat, Ratusan Mahasiswa Di Bandung Positif HIV AIDS”.  Berita yang bersumber dari Detik.com itu mencantumkan pernyataan narasumber dari Komisi Penanggulangan AIDS Kota Bandung. Anehnya saat ditelusuri isi beritanya, disebutkan bahwa mahasiswa “menyumbang” kasus positif HIV sebesar 6,97 persen atau  414 kasus dari jumlah keseluruhan kasus penularan HIV-AIDS di Kota Bandung yang mencapai 5.943 kasus.

Baiklah, rupanya pengidap HIV dengan status mahasiswa Bandung itu hanya 6,97 persen, bukan  mayoritas dari keseluruhan jumlah pengidap HIV. Bahkan tidak mencapai setengahnya dari jumlah total. Hal ini terkonfirmasi dari sejumlah berita lain yang menyebutkan bahwa temuan paling banyak ada pada pekerja swasta, yakni 30 persen.

Tentu saja, saya tidak bermaksud menyepelekan arti 6,97 persen. Namun, judul seperti di atas telah menggiring persepsi saya pada gambaran seakan-akan yang terinfeksi HIV di kota Bandung kebanyakan adalah mahasiswa. Jika benar demikian, maka beralasan kita menilainya sebagai situasi yang gawat dan darurat, bukan? Nyatanya tidak!

Berita kasus HIV di Kota Bandung dengan gaya penulisan judul seperti di atas bertebaran di internet. Entah berapa jumlahnya. Media daring memang punya ciri kecepatan. Pada media online umumnya, sebuah peristiwa bisa cepat diberitakan. Celakanya, terkadang fakta yang disajikan pada pembaca ala kadarnya alias seadanya dulu. Toh nantinya bisa di-update dalam sebuah berita berseri. Beres ‘kan?

Baca juga:  Pelarangan Narkoba: Seberapa Berdaulat Indonesia?

Demi kecepatannya, media daring juga lazim “memecah” berita sehingga satu berita dibuat pendek-pendek. Konon warganet sebagai pembaca berita online enggak suka sama tulisan yang panjang-panjang. Patut dicatat, tentu saja saya tidak hendak menggeneralisasi semua media online dan jurnalisnya bekerja seperti itu. Tetap ada pengecualian pada beberapa media dan jurnalis tertentu.

Dalam soal berita HIV-AIDS Kota Bandung, saya hampir berkesimpulan bahwa kehebohan yang terjadi karena pengambilan judul semata, yang cenderung sensasional dan menjurus pada menyesatkan. Dalam dunia jurnalistik disebut misleading.  Akibatnya, informasi yang sampai pada pembaca menjadi bias.

Tapi tunggu dulu. Saat browsing, saya menemukan berita dari Detik.com yang ditayangkan pada 25 Agustus 2022. Judulnya begini, “Geger Ratusan Mahasiswa Bandung Positif HIV, Ini yang Dikhawatirkan Psikolog”.

Pada teras berita (paragraf awal berita) tercantum kalimat ini: Geger kabar temuan ratusan mahasiswa dan Ibu Rumah Tangga (IRT) di Bandung ketahuan positif HIV. Kabar itu mengacu pada data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung yang menyebut hingga Desember 2021, dari 5.943 warga Bandung pengidap HIV, mahasiswa menyumbang kasus terbanyak sebesar 6,97 persen atau 414 orang.

Mari perhatikan. Paragraf itu jelas menyebut mahasiswa menyumbang kasus terbanyak sebesar 6,97 persen atau 414 orang. Sampai di sini, logika saya tidak mampu menjangkau penjelasan tersebut. Bagaimana mungkin angka 6,97 persen pada mahasiswa disebut sebagai kasus terbanyak HIV di Kota Bandung? Pasalnya, jika ditelusuri dalam sejumlah pemberitaan lain, kita lihat ada kategori lain yang lebih besar persentasenya yakni pekerja swasta yang mencapai 30 persen. 

Ini soal akurasi. Berita di atas jelas tidak akurat. Titik. Dengan begitu, pemberitaan seputar kasus HIV-AIDS di Kota Bandung tempo hari bukan saja banyak yang bias, tetapi juga ada yang tidak akurat.

Informasi tidak akurat juga bisa kita temukan pada judul berita yang dimuat Inewsjabar.id (26/8/2022). Berita itu berjudul “Waduh, HIV/AIDS di Kota Bandung Cukup Tinggi, 5.000 Kasus Didominasi Mahasiswa dan IRT”.

Warganet yang tidak kritis, serta merta akan menelan informasi mentah-mentah. Daya nalar tumpul dihadapkan pada sensasi dan clickbait. Akurasi alias ketepatan data jadi nomor sekian. Akibatnya, bertebaranlah di jagat medsos tentang situasi Bandung yang gawat darurat karena mahasiswanya terkena HIV.

Bukan cuma warganet biasa, bahkan figur publik semacam pesohor juga bisa memberikan informasi sesat. Kenal Kris Dayanti kan? Itu lo, penyanyi yang kini berkiprah di DPR RI.

Dikutip dari Beritasatu.com (31/8/2022), anggota parlemen yang terhormat ini mengunggah caption dalam akun medsosnya seperti ini: “Saya pribadi sangat menyayangkan kejadian ini. Apalagi setelah didata, mayoritas penyintasnya berstatus mahasiswa.” Lengkap sudah kekacauan ini!

Mencermati Statistik Secara Objektif

Viralnya kasus HIV pada mahasiswa di Kota Bandung sontak membuat sejumlah pejabat publik bereaksi. Walikota Bandung, Yana Mulyana dikutip sejumlah media menuturkan antara lain angka pengidap HIV-AIDS di Kota Bandung seperti puncak gunung es, karena hanya ribuan kasus itu yang baru terdeteksi. Menurutnya, kasus sesungguhnya mungkin saja bisa lebih besar.

Yana dan jajarannya di lingkungan Pemkot Bandung tampaknya berusaha memberi klarifikasi terkait hebohnya temuan kasus tersebut. Demikian juga Dinas Kesehatan Kota Bandung dan KPA Kota Bandung, yang dalam beberapa kesempatan berikutnya menjelaskan pada media bahwa temuan kasus pada mahasiswa itu merupakan angka kumulatif.

Melalui sejumlah media daring, kita melihat perkembangan beritanya. Data statistik kasus HIV-AIDS yang dilansir KPA Kota Bandung itu merupakan data kumulatif, yang dihimpun sejak 1991 hingga 2021. Artinya, bukan jumlah temuan dalam satu tahun melainkan 30 tahun alias tiga dekade!

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil pun angkat suara. Ia mengklarifikasi dengan pernyataan serupa bahwa temuan kasus HIV-AIDS pada mahasiswa di Kota Bandung itu adalah pencatatan yang dilakukan secara kumulatif. Bukan berarti dalam satu tahun terakhir ada 414 mahasiswa (beberapa berita menyebutkan jumlahnya 407 mahasiswa) yang terinfeksi HIV.

Baca juga:  Penghilangan Paksa: Akankah Jokowi Mengakhiri Kejahatan Mengerikan Ini di Eranya?

Logika mana yang bisa membenarkan bahwa jumlah 400-an orang itu sampai sekarang masih berstatus mahasiswa? Mereka yang tercatat sebagai mahasiswa mengidap HIV pada 1991, akankah masih berstatus mahasiswa, tiga puluh tahun kemudian pada 2021?

Klarifikasi muncul untuk menjelaskan situasi sesungguhnya. Sayangnya, informasi yang tidak akurat dan cenderung menyesatkan telah bergulir bagai bola salju. Kehebohan kadung terjadi. Meski begitu, pepatah lama bilang better late than never. Lebih baik terlambat dari pada tidak ada penjelasan sama sekali.  

Bergulirnya isu HIV-AIDS seperti yang terjadi dalam satu bulan terakhir tentu saja membuat kita berpikir ulang. Mengapa isu ini terus menuai sensasi yang berlebihan?

Pikiran saya mundur jauh ke belakang. Saya teringat, sejak awal kemunculannya pada 1980-an, HIV-AIDS memang kerap diwarnai dengan sejumlah kekeliruan dan bias informasi. Betapa deteksi kasus HIV di Amerika pada awalnya terjadi pada kalangan homoseksual (gay). Di Amerika sekalipun, kalangan ini dianggap punya perilaku dan orientasi seksual yang “menyimpang” alih-alih dipandang sebagai keragaman gender dan seksualitas manusia.

Sementara itu, kasus AIDS dinyatakan muncul pertama kali di Indonesia pada 1987 dan terdeteksi pada turis gay Belanda di RS Sanglah Denpasar, Bali. Kita semua paham, bagaimana konstruksi sosial dan tata norma bangsa kita pada umumnya terhadap kalangan gay. Sudah mah gay, dia juga bule. Pasti karena perilaku kebarat-baratan dan hedonis! Begitu kira-kira cara berpikir kita pada umumnya.

Pada perkembangan selanjutnya, infeksi HIV pun banyak terdeteksi pada kelompok waria dan pekerja seks. Demikian pula dengan lonjakan kasus HIV pada kalangan pengguna narkoba suntik di pertengahan tahun 2000-an. Banyak orang yang makin teguh melihatnya dari perspektif moral. Mereka seolah ingin berkata, bukankah itu semua adalah kelompok yang memang “menyimpang” secara moral?    

Maka, fenomena HIV-AIDS yang sejatinya adalah persoalan virus yang merusak kesehatan manusia, didekati dan dianalisis dengan teropong moralitas. HIV-AIDS menjadi fakta moral, bukan fakta medis seperti seharusnya.

Dengan penjelasan di atas, kita dapat memahami betapa HIV-AIDS sejak awal memang lekat dengan stigma alias cap buruk. Temuan kasus HIV adalah aib yang sedapat mungkin ditutupi.

Baiklah, kita kembali ke persoalan berita HIV-AIDS di Kota Bandung. Apa kaitannya dengan itu semua?

Dalam dunia jurnalistik, terdapat sebuah buku karya jurnalis senior Amerika, Bill Kovach dan Tom Rosentiel yang sangat terkenal berjudul Sembilan Elemen Jurnalisme yang diterbitkan dalam edisi bahasa Indonesia pada 2001. Buku itu mencantumkan sembilan prinsip yang harus dilakukan oleh jurnalis saat bekerja.

Kewajiban jurnalisme pertama adalah berpihak pada kebenaran. Dalam hal ini, jurnalistik harus mengungkapkan fakta, data, atau peristiwa yang sebenarnya. Jurnalis tidak boleh memanipulasinya, melakukan framing, atau melaporkan hal yang bertolak belakang dengan fakta.

Pada kasus berita HIV-AIDS di kota Bandung yang bikin heboh ini, sudahkah jurnalis melaporkan fakta yang sebenarnya tanpa bias? Apakah data (statistik) yang sesungguhnya telah disajikan tanpa dimanipulasi demi kepentingan tertentu, clickbait misalnya?

Dalam hal data, Bill Kovach juga menegaskan pentingnya verifikasi. Baginya, esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi. Hal ini ia sebut sebagai elemen ketiga dari sembilan elemen yang menjadi prinsip jurnalisme (pada pekembangannya, ia mengembangkan prinsip jurnalistik ini menjadi 10 elemen seperti tercantum dalam edisi bukunya yang terbaru).

Pertanyaan serupa bisa kita sematkan. Sudahkah jurnalis melakukan verifikasi atas data statistik kasus HIV-AIDS di Kota Bandung yang diliputnya? Sudahkah jurnalis disiplin dalam melakukan verifikasi ini sehingga beritanya objektif dan akurat?

Baca juga:  Tidak perlu “More Human than Human”, cukup “Memanusiakan Manusia”

Saya percaya, seandainya jurnalis menerapkan dua saja dari 10 prinsip jurnalisme ini, berita yang kita bahas ini enggak akan bikin heboh dan lebay.

Dengan menjalankan kedua prinsip ini, data kasus HIV-AIDS yang sesungguhnya kumulatif itu akan dibaca jernih oleh pembaca. Rasanya, pembaca cukup cerdas untuk memahami bahwa angka kumulatif tentunya tidak akan pernah menunjukkan penurunan. Datanya akan terus bertambah.

Dalam konteks berita HIV-AIDS, pembaca akan paham bahwa dari sekitar 400 mahasiswa itu, saat ini kebanyakan mungkin sudah tidak berstatus mahasiswa lagi. Selain itu, angka 400 itu adalah jumlah total yang terus ditambahkan. Di dalamnya bisa saja ada data – maaf – mereka yang telah tutup usia, entah karena terkena penyakit atau penyebab lainnya.

Di luar soal statistik, isu status mahasiswa juga sesungguhnya tidak relevan dengan fakta HIV-AIDS. Melalui verifikasi yang disiplin, jurnalis akan menemukan fakta bahwa HIV adalah virus yang bisa menginfeksi semua orang, sejauh syaratnya terpenuhi yakni adanya pertukaran cairan tubuh (darah, air mani, cairan vagina, dan air susu ibu) dari seseorang yang telah terinfeksi dengan orang lainnya. Dengan demikian, HIV bisa menular akibat hubungan seksual yang tidak aman (tanpa kondom) dengan seseorang yang memang telah terinfeksi HIV, penggunaan alat suntik secara bersama-sama (tidak steril), atau dari seorang ibu kepada bayinya saat persalinan.

Saya menduga, jurnalis peliput isu yang bikin heboh itu kebanyakan menggunakan standar moral yang dianutnya sendiri. Mereka berpandangan mahasiswa dan anak muda pada umumnya di perkotaan seperti Bandung, punya pergaulan yang bebas dan pasti “kebarat-baratan”. Mereka sering melakukan “seks bebas”, pakai narkoba, dan semacamnya. Stereotipe seperti ini sering kita dengar, bukan?

Sewaktu seorang jurnalis tanpa sadar memelihara stereotipe itu, maka bisa ditebak ke mana arah pemberitaannya. Padahal, lagi-lagi jika saja ia disiplin melakukan verifikasi maka ia akan menemukan fakta lainnya.  

Survei Kementerian Kesehatan RI (2012) mencatat ada sekitar 6,7 juta lelaki di Indonesia yang membeli seks alias “jajan”. Mereka pelanggan seks. Data juga menunjukkan, ada sekitar 4,9 juta perempuan yang menikah dengan para pelanggan seks itu. Tentu saja mereka sangat berisiko terinfeksi HIV. Fakta lainnya, kebanyakan dari jutaan lelaki pembeli seks itu adalah mereka yang memang telah bekerja dan mobile. Dalam istilah lain, dikenal sebagai mobile man with money (3M).

Jika dihadapkan pada data di atas, seberapa signifikan mahasiswa dalam konteks epidemi HIV-AIDS? Tidakkah lebih “gawat darurat” dampak dari 3M tadi yang berisiko terinfeksi HIV dan pada gilirannya bisa menulari pasangan pernikahannya? Potensi tertular juga terdapat pada anak-anak dari ibunya yang terinfeksi HIV.

Saya tahu, sebuah berita adalah produk yang dihasilkan jurnalis saat menangkap fakta yang dilengkapi informasi dari narasumbernya. Dalam hal ini, narasumber juga menjadi faktor penting yang menentukan kualitas berita. Apabila narasumber tidak antisipatif dan menganggap sepele persoalan data, maka ia hanya akan menyodorkan data tanpa penjelasan komprehensif. Pada saat narasumber jenis seperti ini bertemu dengan jurnalis yang juga tidak displin dalam melakukan verifikasi data,  bisa dibayangkan seperti apa produk berita yang dihasilkannya.

Situasi makin runyam manakala redaktur yang seharusnya menjadi “penjaga gawang” meloloskan begitu saja berita tersebut. Bahkan, kewenangannya dalam merangkai judul dapat membuat sebuah berita semakin seksi, genit, dan menarik perhatian. Itulah sensasi yang – maaf – terkesan murahan.

Tri Irwanda

The author Tri Irwanda

Praktisi komunikasi. Mulai menekuni isu HIV dan AIDS ketika bekerja di KPA Provinsi Jawa Barat. Punya kebiasaan mendengarkan lagu The Who, “Baba O’Riley”, saat memulai hari dengan secangkir kopi.

Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.