close
FeaturedKomunitas

Jeruji European Tour adalah Soal Respek dan Apresiasi

WhatsApp Image 2022-04-28 at 12.23.32 PM
Gambar Ilustrasi: @abulatbunga

Saat terdengar kabar Jeruji tur ke Eropa April lalu, jangan membayangkan kami bermain di kota-kota besar Eropa dengan keriuhan penonton seperti dalam video musik umumnya. Ya, kami manggung kebanyakan di bar kecil, bahkan beberapa di antaranya di kota kecil.

Artikel ini pernah dipublikasikan di Rolling Stone Indonesia edisi 148, Agustus 2017 dengan judul sama.

Redaksi

Kota Paris di Prancis adalah tempat pertama yang kami singgahi. Setidaknya 12 lagu kami mainkan. Bar kecil itu panas oleh moshing, dancing, teriakan, dan bising musik kami. Usai bermain, kami sadar, ada 8.900 km jauhnya jarak yang harus kami tempuh lagi hingga konser terakhir. Bukan hanya itu, tempatnya pun sangat asing buat kami, anak-anak Bandung. Seperti apa rupa penontonnya? Siapa mereka? Bahasa apa yang mereka pakai?

Mana pernah kami mendengar kota bernama Ostrava, Chojonicem, Liberec, Karlovy Vary, atau Bailleul?Melafalkannya saja bikin lidah keseleo. Kami harus manggung di 21 kota di 7 negara, dengan bentangan jarak 8.900 km. Dari Eropa Barat hingga ke Eropa Timur. Dari Prancis, Belgia, Hongaria, Polandia, Republik Ceko, Jerman, hingga Austria. Jadwal kami super padat, dari 8 hingga 30 April 2017. Bayangkan!

Jeruji European Tour bagaikan mimpi. Saat Enemy Booking, promotor musik asal Eropa Timur menawari kami Oktober 2016, kami setengah tidak percaya. Kabarnya, mereka tertarik setelah melihat video kami di YouTube. Mereka juga terkesan akan fanatisme ratusan ribu Warlock alias “Warga Lockal” yang menjadi pendukung kami di media sosial. Warlock adalah sebutan hangat kami kepada “keluarga”, yang oleh band lain disebut fans.

Excitement, Trust, hingga Apresiasi terhadap Perbedaan

Saat berkemas menuju bandara, saya (vokal), Andre (gitar), Icad (gitar), Pengex (bas), Sani (drum), dan Vincent (manajer) masih diliputi perasaan takjub. Betapa tidak, kepastian tur pun kami peroleh kurang dari 12 jam sebelum tanggal tercetak di tiket pesawat.

Baca juga:  Pentingnya Fatwa Halal Ganja

Saya berani bilang, Jeruji European Tour adalah perjalanan gila yang ditempuh dengan perjalanan darat. Kami tidak menggunakan pesawat, kereta, atau bus seperti layaknya sebuah band saat tur. Kami sewa minibus seharga sekitar Rp875 ribu perharinya. Minibus itu bahkan sandaran kursinya tidak bisa diturunkan. Kami harus menghemat uang, maka minibus itu kami kendarai sendiri bergantian. Guide kami hanya GPS. Terima kasih teknologi!

Bentangan jarak, rasa letih, dan asingnya tempat sebenarnya sudah kami perkirakan. Tapi ada hal lain yang membuat kami gelisah: aspek sosiokultural, termasuk bahasa. Apalagi ada stereotip tertentu menyangkut orang Eropa. Bukankah mereka dicitrakan sebagai warga dunia kelas atas? Dan kami berasal dari sebuah tempat (yang mungkin bagi mereka) antah-berantah.

Namun Jeruji selalu percaya, ada nilainilai universal dalam musik. Demikian juga dengan Hardcore Punk sebagai genre yang kami mainkan. Salah satu nilai itu adalah persaudaraan. Terbukti, di sana kami seringnya menginap di rumah orang-orang yang tidak kami kenal sebelumnya. Misalnya, rumah teman si promotor pertunjukkan. Boro-boro kenal, mereka bahkan banyak yang tidak melihat pertunjukkan kami.

Persaudaraan berawal dari “trust”. Selama tour, kami merasakan betapa “trust” menjadi penghancur sekat. Mereka, orang-orang yang berbahasa asing sekali pun, dapat menikmati musik kami. Apresiasi mereka objektif. Ukurannya sederhana, sebelum manggung kami dicuekin. Mereka hanya nongkrong di bar. Tapi saat musik menghentak dan kami habis-habisan di panggung, crowd tercipta. Usai manggung, obrolan akrab terjalin dan merchandise kami diburu.

Baca juga:  Ketersediaan Obat ARV Terancam

Yang menyenangkan, hampir di seluruh tempat mereka bilang kami telah share energi yang luar biasa. Sebaliknya, kami kagum dengan tingkat apresiasi mereka. Effort kami dalam menempuh perjalanan hingga ribuan kilometer melintasi benua hanya untuk bermain musik, bertemu, dan mengenal mereka, sangat mereka hargai. Pesan itu yang seolah ingin mereka sampaikan.

Di atas panggung, kami sering dibuat takjub oleh para penonton. Tidak sedikit yang turut meneriakkan beberapa bait dari lagu Bandung Pride, padahal lagu itu berbahasa Indonesia. Mereka juga mengenal lagu Bless the Punk atau Stay True. Itu semua mengobati rasa lelah.

Jika ditanya dari 21 tempat konser itu, di manakah yang paling mengesankan? Saya akan bilang semuanya mengesankan. Namun ada dua tempat yang tidak akan saya lupakan. Pertama, Slash Bar di Karlovy Vary (Republik Ceko). Di tempat ini, saya melihat pemandangan yang luar biasa. Para penontonnya sudah berumur dan membawa anak mereka yang remaja. Saya terkesan karena mereka seakan ingin mewariskan nilai-nilai yang mereka anut kepada anaknya. Mereka seakan menjelaskan tentang bagaimana mereka tumbuh dan bergaul dalam hidupnya.

Tempat kedua adalah Gdynia di Polandia. Di sana saya disuguhi pemandangan yang bikin merinding. Seorang anak perempuan naik ke panggung, memeluk ayahnya yang baru selesai manggung. Anak itu, dengan segala aturan yang telah diterapkan untuk masuk ke sebuah bar, mengapresiasi ayahnya yang bermain musik. Apapun jenis karya musik yang dimainkan. Saya terharu merasakan nilai-nilai yang disuguhkan. Bagi kami, inilah wujud dari nilai “Stay True”, sesuai judul album terbaru kami. Tidak artifisial.

Baca juga:  Hari AIDS Sedunia, Bukan Saatnya untuk Merayakan

Jeruji European Tour, pada akhirnya adalah soal respek dan apresiasi terhadap perbedaan. Kami percaya isi dunia terdiri dari hal-hal yang bineka alias plural. Kami tur ke Eropa dari sebuah negara di Asia, berkulit coklat, tidak kemudian harus inferior. Mereka, para penonton kami di Eropa hanya berbeda dengan kami. Bukan berarti mereka lebih baik atau lebih buruk dari kita di Indonesia.

Menutup tulisan, saya teringat ungkapan yang pernah disampaikan Tan Malaka. “Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.” Itu kami maknai sepenuh hati dalam ulang tahun kami yang ke-20 saat Jeruji European Tour.

Terakhir, apresiasi kami sampaikan kepada sejumlah pihak yang telah mendukung Jeruji European Tour 2017. Respek!

Tags : Jeruji
Tri Irwanda

The author Tri Irwanda

Praktisi komunikasi. Mulai menekuni isu HIV dan AIDS ketika bekerja di KPA Provinsi Jawa Barat. Punya kebiasaan mendengarkan lagu The Who, “Baba O’Riley”, saat memulai hari dengan secangkir kopi.

Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.