close
3d2c9182-cfe7-4285-b6cb-c1964ed09ef6
Rajah Tubuh Eva

WAKTU BACA: 2 menit

Tato atau rajah tubuh telah dikenal sangat lama, bahkan sejak ribuan tahun lalu. Tato adalah bagian dari kebudayaan di berbagai pelosok dunia. Dari sejarahnya, tato acap kali berkaitan dengan makna tertentu sesuai tradisi suatu tempat. Ia bisa bermakna penandaan wilayah, derajat, status, pangkat, jimat, bahkan kesehatan tubuh seseorang. Tato etnik khas Indonesia juga cukup dikenal. Sebut misalnya tato suku Dayak atau Mentawai.

Di era 1980-an saat Orde Baru berkuasa, sejarah mencatat berbagai peristiwa pembunuhan terhadap orang yang dianggap pelaku kriminal, termasuk preman. Peristiwa ini dikenal sebagai penembakan misterius (petrus). Korbannya banyak yang bertato. Stigma alias cap buruk pun makin melekat pada orang bertato.

Namun kalau kita perhatikan beberapa tahun terakhir, citra miring tato mulai pudar. Tato hari ini dipandang sebagai simbol seni dan kebebasan berekspresi. Hari ini kita mudah menemukan orang, laki-laki dan perempuan, tua-muda, yang leluasa menunjukkan tato di tubuhnya dengan simbol, gambar, atau tulisan apa pun.

Kanal Indonesia Tanpa Stigma episode kali ini sengaja membahas fenomena ini. Tri Irwanda (Rumah Cemara) akan berbincang dengan Nurdin Supriadi alias Kate dan Eva Dewi. Baik Kate maupun Eva menghias tubuhnya dengan tato. Serupa dengan yang lain, bagi mereka, tato memiliki makna tertentu. Dia bukan sekadar coretan tinta di tubuh melainkan terkandung filosofi di baliknya.

Baca juga:  Rumah Cemara dan ICJR Luruskan Informasi yang Disebarkan Pusat Penerangan TNI
Audiografer: Itong Budi
Videografer: Prima Prakasa
Tri Irwanda

The author Tri Irwanda

Praktisi komunikasi. Mulai menekuni isu HIV dan AIDS ketika bekerja di KPA Provinsi Jawa Barat. Punya kebiasaan mendengarkan lagu The Who, “Baba O’Riley”, saat memulai hari dengan secangkir kopi.

Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.