close
WhatsApp Image 2022-09-15 at 10.33.30 PM

Meskipun banyak literatur tentang pencegahan bunuh diri mengatakan, berbicaralah dengan orang lain termasuk dengan tenaga profesional saat keinginan untuk mengakhiri hidupmu muncul, boleh jadi kamu sudah merasa tidak ada gunanya lagi mencari bantuan. Tekadmu sudah bulat untuk mengakhiri hidupmu segera.

Artikel ini ditulis untuk Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia yang diperingati tiap 10 September. Gagasan dalam tulisan ini tentu untuk mencegah tindak bunuh diri bukan sebaliknya. Karena itu, para pembaca disarankan mencernanya dengan pikiran jernih, tenang, rasional, dan tetap tabah.

Redaksi

Buat apa lagi bicara? Toh respons umum saat keinginan itu diutarakan ke orang lain biasanya, “Istighfar!” atau “Eling!”. Ini lantaran banyak yang menganggap topik ini tabu untuk diperbincangkan. Ya, alasannya tentu karena agama melarangnya.

Buat yang belum pernah mengalaminya, situasi ini bukan sekadar latah sama lirik-lirik lagu cengeng, dan ini memang bukan cengeng atau bahkan antikehendak Tuhan. Mati adalah jalan keluar!

Memutuskan untuk berniat bunuh diri saja sudah merupakan perjuangan tersendiri. Benak berkecamuk hebat. Lazimnya, calon pelaku merasakan fusi perasaan yang paradoks antara putus asa dan optimisme total atas berbagai macam situasi yang tentu tidak sama untuk setiap orang. Persenyawaan perasaaan itu berkelindan dengan kecemasan, keyakinan, malu, percaya diri, gagal, optimis, berdosa, takut, nekat, dll.

Saya tidak sedang membahas apakah bunuh diri merupakan fenomena sosial sebagaimana yang dikemukakan Emile Durkheim dalam Le Suicide (1897) atau fenomena kejiwaan individu semata. Meski demikian, demi keperluan tulisan ini, saya mengutip definisi bunuh dirinya sosiolog Prancis itu, “Tentu saja, bunuh diri selalu merupakan tindakan seseorang yang lebih menginginkan mati ketimbang hidup.”

Sampai sekarang pun saya setuju dengan eutanasia. Ya, kalau kamu merasa hidupmu tidak berguna lagi dan justru malah membebani orang-orang di sekelilingmu, mati adalah pilihan yang masuk akal untuk akhiri penderitaan termasuk (mungkin) beban orang-orang di sekelilingmu. Meski demikian, orang-orang yang kamu pikir terbenani dengan hidupmu bisa sangat mungkin tidak rela dan merasa bersalah atas kematianmu.

Rasa bersalah orang-orang ini malah membawa mereka kepada derita berkepanjangan. Jadi, niatan bunuh dirimu yang ingin supaya tidak jadi beban buat mereka malah enggak kesampaian bahkan kontraproduktif.

Eksekusi

Sudah banyak tulisan berisi kiat-kiat untuk mencegah bunuh diri. Mungkin kamu juga sudah sering membacanya dan menganggapnya omong kosong belaka. Itu bisa dipahami, karena yang kamu inginkan hanya mati. Di sini saya ingin mengulas pengalaman pribadi saya sehingga sampai saat ini saya masih bisa “lolos” dari keinginan tersebut.

Baca juga:  Revisi UU Narkotika di Mata Komunitas

Ternyata sebagai binatang, spesies manusia berbeda dengan binatang lainnya. Kalau mereka hanya punya naluri bertahan hidup, manusia punya yang namanya naluri kematian. Bapak Psikoanalisis, Sigmund Freud menamainya insting “thanatos”, lawannya “eros”. Saat baik-baik saja, naluri kematian yang salah satu manifestasinya adalah menyakiti diri bisa diredam. Tapi sebaliknya, dalam kondisi tertekan, pemenuhan naluri itu sulit dikendalikan.

Percobaan bunuh diri saya yang pertama terjadi pada 1998. Usia saya waktu itu 20 tahun, sebuah usia yang bisa dibilang sudah matang dalam arti paham dosa dan pahala. Saya tahu bunuh diri itu dosa, bakal masuk neraka, tapi apalah artinya dosa dan neraka dibandingkan dengan derita yang sedang saya tanggung saat itu. Hidup saya adalah neraka itu sendiri. Bagaimana keluar dari neraka itu adalah keluar dari hidup. Mati.

Saya tidak akan menceritakan metode bunuh diri saya – nanti jadi inspirasi pula! Yang pasti, waktu itu saya masih tinggal di rumah orang tua. Saya melakukannya sengaja bukan di kamar sendiri, tapi di kamar kakak saya. Supaya lebih tersembunyi. Soalnya waktu itu saya sedang cuti kuliah dan kakak saya, yang kamarnya saya pakai, rutin keluar pagi untuk bekerja. Kedua orang tua saya sudah pensiun. Jadi mereka ada di rumah pagi itu.

Pemilihan tempat itu semata kalau orang tua mencari saya, tidak langsung ke kamar saya.

Yang tidak saya perhitungkan waktu itu, kamar kakak saya lebih dekat ke balkon. Jadi sewaktu asisten keluarga kami melewatinya untuk urusan cuci pakaian (yang juga luput dari perhitungan saya), ia melihat genangan darah keluar dari bawah pintu yang padahal sudah saya kunci.

Saya terbangun di IGD sebuah rumah sakit. Melihat ibu dan bapak saya dengan penuh penyesalan. Padahal, niat semula mau meringankan beban mereka.

Psikiater

Banyak literatur pencegahan bunuh diri yang menyatakan, hubungi profesional bidang kejiwaan saat depresi atau mengalami gangguan mental yang mengarah pada tindakan bunuh diri. Kenyataannya waktu kejadian itu, saya sedang menjalani pengobatan psikiatri. Terapi itu sudah berjalan hampir dua tahun. Kok bisa?

Dua alasan kenapa saya ingin akhiri hidup, ya karena frustrasi menjalani pengobatan sekian lama tapi kondisi tak kunjung membaik. Yang kedua, sudah setahun krisis moneter melanda Indonesia. Biaya hidup naik, termasuk biaya kebutuhan saya yang masih ditanggung orang tua.   

Saya menjalani pengobatan psikiatri lantaran ketagihan narkoba ilegal. Kenapa terapinya tidak selesai-selesai, karena saya terus saja kambuh mengonsumsi narkoba ilegal sampai-sampai saya harus cuti kuliah supaya tidak ada alasan keluar rumah alias grounded.

Sebelum mengeksekusi hidup di kamar kakak saya pun, saya masih minum obat yang diresepkan psikiater setelah sarapan. Boleh jadi saking sudah terlalu lama, konsumsi obat yang diresepkan itu tidak lagi berefek ke mental saya. Mungkin sudah lebih dari seminggu ide bunuh diri itu muncul di benak saya sebelum percobaan gagal itu.

Baca juga:  Status Quo dalam Pemberitaan Narkoba

Saat pertama kali pikiran itu hinggap, saya merasa itu adalah jalan terbaik seperti sudah saya singgung di awal tulisan ini. Saya tidak membicarakannya dengan siapa-siapa. Padahal mungkin kalau diutarakan, keluarga saya bakal membantu. Minimal membantu saya menemui dokter supaya diresepkan obat yang lebih bisa menenangkan pikiran.

Tapi sudahlah, rasanya saya sudah terlalu lama merepotkan mereka, terlebih kondisi ekonomi masih krisis. Saya simpan sendiri saja ide itu dan tekad pun membulat.

Lalu, Bagaimana Kiatnya?

Sekarang kejadian itu sudah berlalu lebih dari dua puluh tahun, tapi tetap saja keinginan bunuh diri itu datang dan pergi. Terlebih kedua orang tua saya sudah meninggal, jadi saya tidak bisa lagi membayangkan mimik sedih mereka saat melihat anaknya mati. Tindakan ini jadi bisa lebih mudah diwujudkan, bukan?

Baiklah, mungkin masih ada orang-orang yang mencintai saya yang akan sedih, merasa bersalah, hingga terganggu mentalnya kalau saya benar-benar bunuh diri. Tapi bagaimana kalau mereka hanya sedih saat mengurus jenazah saya dan setelah itu move on dengan kehidupannya masing-masing?

Barangkali hanya anjing saya yang bakal meratap saban pagi karena tidak ada lagi yang ajak dia main saat bangun tidur. Tapi ratapan itu akan selesai saat ada orang lain yang memelihara dia. Ingat, anjing bukan manusia yang punya naluri kematian. Dia bisa stres, sedih, depresi, tapi anjing bisa saya pastikan tidak punya keinginan untuk bunuh diri.

Kembali ke teorinya Freud tentang naluri hidup dan kematian. Meski teori itu banyak ditolak psikolog di zaman modern, sampai kini belum didapatkan penyebab yang pasti dari bunuh diri. Ini merupakan interaksi yang kompleks dari faktor genetika, organobiologi, psikologi, dan sosiokultural. Faktor-faktor tersebut dapat saling menguatkan atau melemahkan terjadinya tindakan bunuh diri.   

Dalam memberikan kiat, saya pun tidak akan mendedah faktor-faktor yang berinteraksi secara kompleks sehingga menghasilkan formula pencegahan bunuh diri. Atau bahkan saya tidak akan sama sekali menulis kiat mencegah bunuh diri di sini, sebab kamu sebenarnya sudah tahu dan sudah banyak berpikir untuk sampai pada sebuah keputusan.

Dari pengalaman saya, tindakan bunuh diri itu menyakitkan secara fisik dan mental. Jangan dikira kamu tidak akan mengalami rasa sakit saat gantung diri, minum racun, terjun dari gedung bertingkat, tembak kepala, dll. Meski demikian, toh ada saja orang-orang yang melakukan itu. Mereka, termasuk saya ketika itu, sukses mengatasi kecamuk dalam benak. Dalam Beyond the Pleasure Principle (1920), pernyataan Freud yang kondang adalah “tujuan semua kehidupan adalah kematian”.

Baca juga:  Menggugat "Perang terhadap Narkoba"

Seperti sudah saya sampaikan, saya setuju dengan eutanasia. Meski legal di sejumlah negara, dan tentu mereka punya cara agar proses menuju kematian tidak menyakitkan secara fisik, tetap kamu akan mengalami gejolak yang hebat sebelum menyepakati syarat dan ketentuannya.

Buat kamu yang saat ini sedang mempertimbangkan untuk bunuh diri, cara-cara basi itu tetap saja efektif untuk mencegahnya, misalnya utarakan pikiran tersebut ke orang yang kamu percaya atau datangi profesional kesehatan. Pedoman pencegahan bunuh diri yang cukup lengkap dan dibuat untuk konteks Indonesia bisa kamu baca di tautan ini.

Sebagai tambahan informasi, ada perbedaan mendasar antara bunuh diri dan eutanasia. Bunuh diri dianggap sebagai patologi, hasil dari penderitaan mental yang parah, dan dilakukan hanya sepengetahuan diri sendiri. Ini jauh dari kondisi tak tertolong. Perbedaan mendasarnya dengan eutanasia adalah, niat kematian diketahui orang lain setidaknya oleh tenaga kesehatan yang membantu prosesnya melalui surat persetujuan dan dalam kondisi kejiwaan yang sehat.    

Karena saya sempat membahas Sigmund Freud, banyak yang bilang bahwa kematiannya adalah akibat bunuh diri. Freud merencanakan kematiannya dan membahas rencananya itu bersama keluarganya setelah menjalani sekitar 30 kali operasi dan terapi radiasi untuk kanker mulutnya. Mereka sepakat. Ia pun meninggal di usia 83 tahun setelah dokternya mengulangi penyuntikan dua centigram morfin sesuai kesepakatan mereka selang 12 jam setelah mimik kesakitan Freud memudar pascasuntikan pertama dengan dosis yang sama.

Sampai sini, definisi Durkheim bahwa bunuh diri selalu merupakan tindakan seseorang yang lebih menginginkan mati ketimbang hidup tetap relevan bahkan buat orang yang sudah menjalani puluhan operasi “sia-sia” untuk penyakit kronisnya serta berusia lanjut. Tapi sekali lagi, apa yang dilakukan Freud bukan tindakan bunuh diri ugal-ugalan-tak-bertanggung-jawab. Ia merencanakan dan membahas rencana kematiannya bersama keluarganya.

Akhirulkalam, walaupun artikel ini saya tulis untuk peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, saya bukanlah orang yang “pro-life”. Hal itu rasanya jelas terungkap dari sikap saya terhadap eutanasia. Jadi kalau kamu berharap nasihat dari saya perihal bunuh diri, matilah secara bertanggung jawab dan bermartabat!

Patri Handoyo

The author Patri Handoyo

Pencinta makhluk hidup. Berkesenian selama hayat masih dikandung badan. Peneliti partikelir dan pelaku pendidikan alternatif.

Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.