close
parkinson
Gambar Ilustrasi: @abulatbunga

WAKTU BACA: 2 menit

Triheksifenidil (trihex, trex, THP) dikenal di kalangan medis untuk pengobatan Parkinson’s dan efek samping ekstrapiramidal pengobatan pasien psikotik. Di sejumlah daerah, obat ini dikonsumsi secara sembarangan oleh masyarakat tidak hanya oleh kalangan muda. Polisi pun dibuat sibuk dengan peredaran gelapnya di berbagai daerah.

Walaupun baru 2003 disetujui FDA (Badam POM AS) untuk pengobatan Parkinson’s, namun jejak obat ini di Indonesia bisa ditemukan setidaknya hingga 1990-an dan tidak menutup kemungkinan hingga 1960-an sebagaimana dilaporkan Oliver Sacks, seorang neurologis Inggris. Ya, pada dekade 1960-an, sang ahli saraf itu minum trihex untuk rekreasi. Oliver tentu akrab dengan obat ini karena biasa mengobati Parkinson’s yang merupakan gangguan saraf, kebanyakan pada orang-orang berusia di atas 50 tahun.

Fenomena konsumsi trihex tanpa resep oleh kalangan yang relatif muda di tanah air cukup banyak diulas media selain berita penangkapannya. Sebegitu bebasnyakah peredaran obat yang harusnya hanya bisa diperoleh dengan resep dokter ini?

Kali ini Patri Handoyo, Rumah Cemara mengundang Dilla Anindita, dokter partikelir yang banyak mengurus kelompok marginal dan Kevin Mathovani, mahasiswa semester akhir untuk memperbincangkan konsumsi triheksifenidil tanpa resep. Bagaimana mestinya pengawasan obat-obatan macam ini, apa yang perlu dilakukan konsumen tanpa resep yang baru coba-coba dan sudah rutin minum trihex?

Simak yuk obrolan mereka!

Baca juga:  Perwujudan Alexandra Kollontai dalam Diri Eva Dewi
Audiografer: Budi Itong
Videografer: Prima Prakasa
Tags : THPtrextriheksifenidiltrihextrihexyphenidyl
Redaksi

The author Redaksi

Tim pengelola media dan data Rumah Cemara

Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.