close
Foto 5
Yayasan Lentera, ruang berlindungnya anak dengan HIV/AIDS dari sikap diskriminatif. Foto: Tri Irwanda

Terlihat dari luar, bangunan itu tidak ubahnya seperti taman kanak-kanak. Di luar pagar, tampak berderet tempat permainan anak. Ada prosotan, kursi ayunan, dan sederet bentuk mainan lainnya. Semuanya terbuat dari besi yang dicat berwarna-warni.

Halaman di balik pagar itu cukup luas, terlindung dengan kanopi. Deretan mobil mainan berbahan kayu tampak berjajar. Dinding bangunan dicat dengan gambar-gambar kartun seperti kelinci, bebek, dan kucing.  Pun warna-warni.

Bangunan itu berada di sudut kompleks Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti Surakarta, berjarak sekitar 100 meter dari jalan raya. Saat kami masuk dari gerbang makam pada malam hari, suasana khas kompleks pemakaman terasa. Sepi dan cukup gelap karena rimbun pepohonan.

Sebuah papan putih bertuliskan Shelter ADHA jelas terlihat. Papan nama itu menunjukkan bangunan itu adalah bantuan dari program corporate social responsibility (CSR) sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan Kementerian Sosial dan Pemkot Surakarta. Di bawahnya tertulis Yayasan Lentera Surakarta sebagai pengelola.

Yayasan Lentera menempati bangunan itu sejak 6 Desember 2017. Penghuni bangunan itu adalah anak-anak yang terlantar atau dititipkan karena tidak ada yang mau mengurus. Kebanyakan yatim piatu.

Layaknya di panti asuhan, anak-anak itu menggantungkan hidupnya di sana. Mereka mungkin belum paham mengapa harus tinggal di sana. Mereka juga tidak mengerti apa itu virus bernama HIV, yang membuat mereka menjadi penghuni shelter.

Anak-Anak dengan Kisah Hidup Seragam

Patri Handoyo saat berbincang dengan Puger Mulyono soal nasib anak dengan HIV di Yayasan Lentera Surakarta, Sabtu (16/2).

Puger Mulyono (46), salah seorang pendiri Yayasan Lentera, malam itu menyambut kami. Sesekali dia masih terlihat sibuk membereskan barang yang berserakan di halaman. Pria bertubuh gempal itu mengipas-ngipaskan badannya yang kegerahan. Tampil apa adanya, bertelanjang dada, ia mempersilakan kami masuk.

“Ya, di sinilah saya, ngumpul dengan anak-anak ini,” ujarnya ramah membuka percakapan. Tiga gelas teh manis menemani perbincangan kami.

Yayasan Lentera menjalankan program pendampingan untuk anak dengan HIV-AIDS di Surakarta. Sebanyak 32 anak di antaranya tinggal di sana. Hampir semuanya berasal dari luar Surakarta. Usia mereka bervariasi, rata-rata di bawah 10 tahun.

Perbincangan kami sering terhenti karena sesekali anak-anak itu memanggil Puger. Beberapa di antaranya bahkan menggelayut manja meminta perhatian. Puger, yang dipanggil “bapak” oleh mereka, tampak memahami betul kemauan anak-anak asuhnya.

“Anak ini, kami temukan di pinggiran hutan jati di Jepara. Waktu kami ambil, tubuhnya kurus sekali, kayak anak kucing. Nggak ada yang ngurus,” ucapnya sembari mengelus kepala bocah perempuan itu. Usianya 4 tahun.

“Dia diurus sendiri oleh neneknya yang sudah sangat tua. Warga di desa itu nggak mau anak itu ada di sana,” ujarnya mengenang. “Saya dapat kabar dari relawan kami di sana. Jam dua malam, pakai senter, kami temukan anak itu di pinggiran hutan.”

Bocah itu kini tampak sehat. Tangan mungilnya memainkan bungkus permen yang sudah kosong.

Tidak jauh dari tempat kami berbincang, di ruangan terbuka yang mirip dapur, beberapa orang dewasa terlihat memasak. Yayasan Lentera mempekerjakan 9 pengasuh yang bertugas merawat anak-anak di sana. Ada perempuan, ada laki-laki. Semuanya tinggal bersama di sana.

Kisah hidup anak-anak penghuni panti itu serupa. Terbengkalai, dibuang, dan jauh dari cinta kasih keluarga. Di shelter itu mereka mendapat perlindungan dari perihnya diterlantarkan.

Intan (5), kita sebut saja begitu namanya, selalu berada di sekitar kami sepanjang berbincang dengan bapak asuhnya. Rambutnya sebahu, berkulit putih, tampak cantik mengenakan baju biru. Tidak sungkan ia merebut lembaran kertas tulis dan pulpen dari tangan kami. Sejurus kemudian, ia menunjukkan kemampuannya menggambar sesuatu.

“Orangtuanya sudah meninggal. Dia berasal dari sebuah panti asuhan di Sulawesi. Dikirim ke mari karena kemungkinan mereka tidak mengerti bagaimana merawat anak dengan HIV,” ujar Puger menjelaskan.

Bermain balon di teras rumah tempat berlindung

Puger menceritakan, anak-anak di shelter itu berasal dari berbagai tempat di Indonesia. Ada yang dari Sukabumi, Boyolali, Batam, Bengkalis, beberapa kota di Jawa Timur, Sulawesi, hingga Papua. Bahkan menurutnya, ada yang berasal dari keturunan warga Singapura.

“Mereka ini dirujuk kemari oleh dinas sosial. Harus sepengetahuan pemerintah, orang dinas dan dokter rumah sakit. Kami nggak mau dianggap culik anak,” ucapnya tertawa. Puger melanjutkan, jika ada anak yang masih punya keluarga, biasanya dia minta agar keluarga menandatangani pernyataan tidak mengakui anak itu.

“Maka anak itu kami rawat. Dia sudah jadi bagian dari kami. Biar kami yang mengasuhnya. Ia anakku,” katanya. Selama perbincangan, Puger selalu menyebut penghuni panti dengan sebutan anak-anakku. Ia mengaku panggilan hati yang telah membuatnya begitu.

Anak penghuni shelter belajar menulis namanya sendiri

Meski mengaku tidak pernah marah, ia prihatin dengan sikap sebagian masyarakat yang menolak keberadaan anak dengan HIV. Seperti yang terjadi pada kasus penolakan terhadap 14 anaknya untuk bersekolah di SDN Purwotomo Surakarta, awal tahun ini.

Hatinya terasa pilu saat ada anaknya yang bertanya kenapa tidak sekolah. “Saya bilang, ya nggak sekolah dulu. Kita libur dulu. Nanti cari sekolah lagi yang lebih bagus,” ujarnya pilu.

Menurut Puger, saat dia jelaskan agar anak-anak sekolah dulu di rumah, sering ada yang merajuk. “Kalau sekolah di rumah, katanya, nanti nggak punya teman, nggak bisa main sama jajan….,” lanjutnya parau.

Perbincangan kembali terhenti sejenak. Seorang bocah laki-laki, usia 8 tahun memanggil Puger. Mengajaknya salat Isya sambil memainkan sarungnya. Puger tertawa lalu menyuruh bocah itu salat terlebih dulu karena masih menemani kami.

Bocah asal kabupaten Demak itu meloyor menuju kamar di bagian belakang rumah berlantai dua itu. Ada delapan kamar di sana berderet mirip asrama. Lampu temaram tampak memancar dari beberapa kamar. Sebagian lampunya belum menyala karena penghuninya masih bermain di ruang tengah rumah.

Tidak Boleh Ada yang Mati di Sini  

Dalam menjalankan program perawatan bagi seluruh anak yang tinggal di shelter, Yayasan Lentera mendapat bantuan dari sejumlah pihak. Ada bantuan dari Kementerian Sosial RI, Dinas Sosial Pemkot Surakarta, maupun beberapa donatur yang tergerak membantu. Mulai dari kebutuhan makanan anak-anak, nutrisi, hingga untuk uang jajan mereka.

Untuk kesehatan mereka, para pengasuh di Yayasan Lentera menjaga keteraturan minum obat antiretroviral (ARV). Bagaimanapun, konsumsi obat ARV sangat penting bagi anak dengan HIV agar jumlah virus dalam tubuhnya dapat ditekan.

Semula, Puger merasa berat menjelaskan pada anak-anak alasan untuk tetap minum obat ARV. Namun lambat laun ia menemukan cara sendiri untuk menjelaskan pentingnya obat itu.

Puger mengaku, yang lebih berat adalah menjawab pertanyaan anak yang mulai beranjak remaja. Pertanyaan kritis pernah ia peroleh dari salah seorang anaknya..

“Pak, kenapa saya kena HIV? Bayangkan, pertanyaan itu meluncur dari mulut anak kelas lima SD waktu itu,” kenangnya. Puger menduga anak itu browsing dari internet dan menyimpulkan dirinya tertular dari ibunya.

“Berarti ibuku pelacur, Pak?” ujar Puger meniru pertanyaan anaknya. Puger harus mencari cara menjelaskannya. Ia terpaksa mengambinghitamkan bapak si anak.

“Saya bilang bahwa ibunya baik-baik. Dia tertular dari bapaknya,” ujarnya.

Ia melanjutkan sambil tersenyum,”Tapi saya perkecil kesalahan bapaknya dengan mengatakan bahwa bapaknya itu dulu sebelum kawin sama ibunya, pernah punya pacar. ‘Nah mungkin dia tertular dari sana. Bapakmu juga orang baik-baik kok.’ begitu saya jelaskan.”

Menurut Puger, pertanyaan kritis seperti itu biasanya muncul dari anak yang berusia 11 hingga 13 tahun. Kemungkinan karena mereka sudah jenuh minum obat. Di kamar sampai menumpuk obatnya.

Sambil menyeruput tehnya, Puger melanjutkan cerita. “Pernah ada anak yang bilang lebih baik mati saja. Katanya, pingin nyusul ibunya,” ujar Puger datar.

Pada kami, Puger menyatakan tekadnya untuk selalu membangkitkan semangat hidup anak-anaknya. Bagaimana pun caranya.

“Mereka boleh mati, tapi jangan di sini. Di tempat ini, nggak boleh ada yang mati!” ucapnya tegas.

Malam semakin larut. Suasana rumah yang semula ramai dengan celoteh anak-anak mulai sepi. Satu persatu mereka telah tenggelam dalam mimpinya. Di luar hujan belum berhenti. Bunyinya menemani langkah kami beranjak dari tempat berlindungnya anak-anak Yayasan Lentera. *******

(Bandung, 3 Maret 2019)

Tri Irwanda

The author Tri Irwanda

Praktisi komunikasi. Mulai menekuni isu HIV dan AIDS ketika bekerja di KPA Provinsi Jawa Barat. Punya kebiasaan mendengarkan lagu The Who, “Baba O’Riley”, saat memulai hari dengan secangkir kopi.

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.