close
FeaturedLayanan

Masih Banyak yang Kira HWC sama dengan Piala Dunia (World Cup) Sepak Bola

turfs
Ilustrasi lapangan sepak bola jalanan (Gambar: homelessworldcup.org)

Kemarin, Timnas Street Soccer Indonesia untuk Homeless World Cup 2017 (Timnas HWC 2017) berhasil menundukkan Tim Rumania 5-3. Banyak yang menyangka, setelah berhasil keluar dari Grup A dengan mengalahkan Israel 7-3 (31/8), Timnas HWC 2017 maju ke Babak 16 Besar. Laga pertamanya, melawan Rumania itu.

Nama resmi babak setelah Tim Indonesia kalahkan Israel dan jadi pemimpin di Grup A bersama Bulgaria, Zimbabwe, Grenada, Slovenia, dan Israel itu adalah Stage 2. Babak penyisihan kedua ini diikuti oleh 4 grup yang masing-masing terdiri dari 6 negara. Memang banyak yang bilang, mengeluh bahkan, khususnya teman-teman seperti saya yang awam sepak bola, “Kok ribet ya?!”

Biasanya, menurut beberapa teman yang suka nonton liga sepak bola, setelah babak penyisihan, selanjutnya adalah babak 16 besar atau perempat final, diikuti oleh 16 tim.

Saya pun dalam menguraikannya melalui tulisan ini harus berpikir ekstra keras supaya penjelasannya tepat sekaligus tidak ‘garing’.

Di akhir tiap siaran pers kami, Media & Data RC, selalu ada penjelasan mengenai HWC, tapi tentu tidak menjelaskan detail aturannya karena akan terlalu panjang – sepertinya. Jadi artikel ini saya buat khusus untuk menjelaskan aturan tersebut. Mudah-mudahan ada gunanya.

Begini, format kompetisi HWC 2017 yang Indonesia ikuti adalah Kompetisi Laki-laki. Menurut teman-teman yang pernah ikut HWC, formatnya tiap tahun sama. Tahun ini, Kompetisi Laki-laki (Men’s Competition) ini terdiri dari 48 tim dari 48 negara (tim nasional). Kompetisi ini terbagi menjadi 3 babak atau stage, yaitu Babak 1 terdiri dari 8 grup yang tiap grupnya terdiri dari 6 timnas. Di babak ini, dari 29-31 Agustus kemarin, Indonesia berhasil jadi juara grup.

Babak selanjutnya adalah Stage 2 yang dituduh sebagai 16 besar tadi. Nah penjelasannya memang agak panjang nih. Jadi, di Babak Pertama (Stage 1) ada 48 timnas yang dibagi jadi 8 grup. Timnas yang menempati urutan ke 1, 2, dan 3 di tiap grup akan ikut Section 1 di Babak Kedua. Indonesia masuk ke seksi atau bagian ini. Sementara, yang menempati urutan 4, 5, dan 6 di tiap grup akan ikut Section 2 di Babak Kedua. Jumlah peserta kedua seksi sama, 24 tim.

Di Section 1 Babak Kedua ini, Indonesia berada di Grup A bersama Rumania, Brazil, Mesir, Belanda, dan Denmark. Laga pertama Indonesia di babak ini adalah kemarin, 1 September 2017 yang bertepatan dengan Idul Adha. Makanya kemarin banyak WNI datang ke lapangan untuk mendukung tim nasional street soccer-nya setelah siangnya berkumpul di Wisma Duta Besar RI untuk peringatan Lebaran Kurban.

WNI yang datang sebagai suporter sewaktu Tim Indonesia melawan Rumania (Foto: Djuli Pamungkas)

Yana “Jimi” Suryana, Manajer Timnas HWC 2017, bilang, kalau laga lawan Rumania kemarin itu adalah ‘perang’ mental karena menurutnya skill kedua tim (dan kisaran usia) relatif sama. Tapi boleh dong saya menambahkan pendapat Jimi tadi, mental anak-anak Indonesia yang berlaga lawan Rumania kemarin turut di-boost oleh suporter, warga negara Indonesia yang datang ke lapangan.

Kita lanjut ke soal Aturan HWC ya…

Tim Indonesia kini berada di Seksi 1 Babak Kedua bersama 23 timnas lain yang dibagi menjadi 4 grup. Nantinya yang menempati urutan 1 dan 2 dari tiap grup akan memperebutkan Piala Dunia Homeless (Homeless World Cup – HWC) di Trophy Stage atau Babak Trofi.

Yang di urutan 3 dan 4 dari tiap grup akan memperebutkan trofi bernama Salvation Army Plate. Khusus HWC 2017, nama trofinya ini karena Salvation Army atau Bala Keselamatan (kalau di Indonesia) merupakan Mitra Nasional HWC di Norwegia, seperti halnya Rumah Cemara yang menjadi Mitra Nasional HWC di Indonesia.

Babak Trofi ketiga diikuti oleh yang menempati urutan 5 dan 6 di tiap grup yang berlaga dalam Section 1 Babak Kedua. Nama trofinya, karena diselenggarakan di Kota Oslo, adalah City of Oslo Bowl. Indonesia pernah memenangkan trofi sejenis, menjadi juara Amsterdam Cup pada 2015.

Sebenarnya masih ada 3 trofi lagi yang diperebutkan setelah 3 trofi yang saya jelaskan di atas. Tapi saya tidak akan jelaskan di tulisan ini karena tahun ini Timnas Indonesia akan mentok pada perebutan trofi City of Oslo Bowl, CMIIW. Kalau mau tahu informasi detailnya, silakan klik ini.

Foto bareng WNI di Oslo dan sekitarnya setelah pertandingan (Foto: Djuli Pamungkas)

Yang tidak kalah penting, malah terpenting menurut Pengelola Program Rumah Cemara, turnamen sepak bola jalanan HWC ini bukanlah semata-mata adu jago dan strategi bersepak bola antarnegara. Menurut sejarahnya, sejak HWC pertama di Graz, Austria (2003), telah banyak hidup seseorang yang dikategorikan homeless dan ikut turnamen ini yang berubah. Turnamen tahunan HWC menyatukan program-program sepak bola jalanan dari seluruh dunia, masing-masing mewakili negara tercintanya dengan kebanggaan.

Turnamen ini merupakan sebuah perayaan dari kerja luar biasa yang dilakukan oleh Mitra Nasional HWC di seluruh dunia, sebuah tujuan aspirasional bagi individu-individu yang menghendaki masa depan cemerlang. Dan juga, ajang tahunan HWC ini telah menjadi alat untuk mengubah persepsi masyarakat atau publik terhadap orang-orang yang dikategorikan sebagai homeless. Di tiap negara, kategori ini beda-beda.

Di Indonesia, Rumah Cemara mengorganisasi konsumen narkoba, pengidap HIV-AIDS, serta kelompok miskin perkotaan (urban poor) sejak 2010. Rumah Cemara menyeleksi mereka untuk menjadi sebuah tim nasional street soccer yang akan berlaga di HWC setiap tahun.

Isu yang diusung tiap negara pun berbeda-beda. Tim Indonesia selalu menyampaikan pesan “Indonesia tanpa stigma” supaya semua rakyat Indonesia, dan setiap manusia di dunia, diperlakukan sama tiap kali mengakses layanan umum seperti kesehatan, pendidikan, hukum (legal), dll.

Selain semboyan yang dijadikan hashtag timnas, ada juga isu berbeda yang diusung tiap tahunnya. Seperti pada tahun ini, Timnas HWC 2017 mengusung “Bhinneka Tunggal Ika” atau “kebinekaan (keberagaman)”. Untuk penjelasannya, silakan klik ini.

Demikian penjelasan mengenai Aturan HWC serta sekelumit maksud diadakannya turnamen bertajuk Homeless World Cup yang kalau dibahasa-Indonesiakan menjadi Piala Dunia Tunawisma ini. Namun memang kategori homeless atau gelandangan alias gembel ini berbeda-beda di tiap negara. Saya pun sampai detik ini masih suka bertanya-tanya karena sejumlah negara maju di Eropa turut menjadi peserta ajang ini, masak sih di Perancis, Belanda, bahkan Israel yang katanya maju itu ada gelandangan?

Patri Handoyo

The author Patri Handoyo

Pencinta kopi dan perpaduan benzo-opioid. Menekuni kesenian selama hayat masih dikandung badan. Peneliti partikelir serta kontributor di beberapa kelompok advokasi dan pendidikan alternatif.

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.