close
1926550bhinneka780x390
Ilustrasi Bhinneka Tungal Ika, pluralisme dan persatuan (Foto: Toto Sihono)

WAKTU BACA: 5 menit

Pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 lalu, bangsa Indonesia seakan terbelah menjadi setidaknya dua kubu yang sangat fanatik. Mereka adalah pendukung dua calon presiden yang berkontestasi. Mereka bertarung sengit. Tentu saja bukan pertarungan fisik, melainkan adu visi dan misi serta argumentasi untuk memenangkan pemilihan.

Celakanya, penggunaan isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) terjadi untuk menjatuhkan kandidat lain. Persaingan menjadi tidak sehat, menjatuhkan rival menjadi tujuan. Pendukung pun makin fanatik, makin keras. Hingga salah satu dari calon tersebut terpilih menjadi presiden, kedua kubu masih berseteru walaupun tingkat kesengitannya menurun.

Dua tahun pasca pilpres, lagi-lagi masyarakat seakan terbelah oleh Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017. Sentimen agama dan ras diembuskan untuk menjatuhkan salah satu kandidat. Pemeluk agama mayoritas di Indonesia dibuat seolah turut dalam perseteruan pendukung para kandidat. Padahal, kontestasinya hanya untuk tingkat provinsi.

Saling ejek di media sosial berlangsung keras. Warganet tak segan menggunakan sentimen agama untuk menjatuhkan pesaing. Di dunia maya, perseteruan nampak seolah terjadi di seantero Nusantara. Tak cukup mengejek, kedua belah pihak saling mengadukan pelanggaran hukum lawan politk mereka. Pengadilan pidana turut menjadi arena kontestasi.

Saat rekonsiliasi pasca Pilgub DKI Jakarta belum sempat terjadi, aksi-aksi terorisme yang diklaim oleh ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) terjadi di sejumlah daerah. Pemanfaatan agama untuk kepentingan politik juga sebenarnya dilakukan salah satu kubu dalam Pilgub DKI Jakarta lalu. Sehingga, berembus pula tudingan bahwa mereka memiliki kaitan dengan ISIS dan teroris. Mereka juga dituduh anti-Pancasila karena menolak keberagaman, khususnya dalam hal agama calon pemimpin Jakarta.

Baca juga:  Ahli di Sidang MK: Narkotika Fardu Diurus Sektor Kesehatan Bukan Pidana

Persatuan bangsa diuji oleh perseteruan antara para pendukung calon gubernur DKI Jakarta. Satu kubu menganggap mewakili Pancasila karena menjunjung keberagaman, sementara yang menolak merasa mewakili kaum muslim yang merupakan mayoritas umat beragama di Indonesia.

Sayangnya, acap kali pihak yang merasa mewakili mayoritas bertindak semena-mena terhadap kelompok minoritas. Di Indonesia, kekerasan terhadap pemeluk agama minoritas sering kita jumpai. Tak hanya pada kelompok agama. Kelompok seperti LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) atau kelompok-kelompok diskusi dan kesenian berbau ideologi tertentu, tak jarang menjadi sasaran tindak kekerasan dan persekusi.

Stigma yang sudah sejak lama ada di masyarakat membuat enggan seseorang untuk mengetahui lebih dekat kelompok lain yang dicap buruk. Keengganan ini, jika sudah kolektif, sering berujung pada tindak kekerasan.

Rumah Cemara merupakan organisasi komunitas orang dengan HIV-AIDS (ODHA) dan konsumen narkoba. Stigma terhadap kedua kelompok ini melekat kuat di benak masyarakat. Salah satu tujuan pendirian Rumah Cemara pada 2003 adalah menyebarluaskan fakta-fakta mengenai HIV-AIDS dan narkoba berdasarkan bukti ilmiah.

Informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan mengenai kedua subjek tersebut telah banyak merugikan orang-orang yang terdampak HIV dan narkoba. Tidak hanya dalam penyediaan layanan, kerugian juga dialami dalam kehidupan sosial sehari-hari. Penyebarluasan informasi ditujukan untuk menghapus stigma dan diskriminasi terhadap ODHA dan konsumen narkoba di Indonesia.

Baca juga:  Setelah Ganja, Kini Warga Denver, AS Boleh Konsumsi Magic Mushroom

“Indonesia tanpa stigma” adalah tagline yang dipilih Rumah Cemara untuk mengajak masyarakat memperlakukan sesama manusia setara. Sebagai organisasi yang lahir dan hidup di Indonesia, semboyan itu juga merupakan ungkapan kecintaan Rumah Cemara terhadap tanah air dan bangsa, ungkapan keberpihakan terhadap semua kelompok marginal di Indonesia yang terbebani cap buruk.

Di tiap kesempatan, Rumah Cemara menyuarakan “Indonesia tanpa stigma”, salah satunya di ajang Homeless World Cup (HWC). Rumah Cemara rutin memberangkatkan tim nasional ke turnamen tahunan sepak bola jalanan bagi tunawisma dan orang-orang yang dimarginalkan sedunia itu sejak 2011. Keberagaman adalah tema yang diusung Tim Nasional Street Soccer Indonesia tahun ini.

Keberagaman bangsa Indonesia merupakan kekayaan sekaligus potensi perpecahan yang sangat disadari oleh para pendiri republik ini. Karenanya, Bhinneka Tungal Ika dipilih sebagai semboyan yang dilekatkan pada lambang negara Garuda Pancasila. Berbeda-beda tetapi satu jua!

Sebagai organisasi yang selalu bangga membawa nama Indonesia ke panggung dunia, Rumah Cemara terpanggil untuk mempromosikan “bineka tunggal ika” pada HWC ke-15 yang akan digelar di Oslo, Norwegia, 29 Agustus hingga 5 September mendatang.

HWC pun merupakan ajang strategis untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia. 74 negara tiap tahun memberangkatkan tim nasionalnya ke kejuaraan dunia ini sejak 2003. HWC juga merupakan pentas untuk menunjukkan bahwa perubahan sosial dapat diwujudkan melalui kekuatan sepak bola.

Baca juga:  Konferensi Pers : Pentingnya dukungan program Cityzens Giving terhadap anak jalanan Bandung

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, tim nasional HWC akan menjalani pemusatan latihan selama kurang lebih sebulan. Tidak hanya berlatih teknik sepak bola, para pemain juga mendapat sesi membangun kerja sama kelompok, spiritual, psikologi, serta sesi pengetahuan seputar marginalisasi di masyarakat dan HAM.

Sesi-sesi dalam pemusatan latihan timnas HWC tahun ini akan mengarah pada isu keberagaman di Indonesia. Para pemain harus memiliki kesadaran akan kekayaan bangsanya berupa keanekaragaman masyarakat yang dibingkai dalam persatuan. Mereka akan dengan bangga mempromosikannya sambil berlaga di sebuah perhelatan olahraga internasional.

Dengan diusungnya “bineka tunggal ika” ke kancah internasional, diharapkan keberagaman dapat selalu menjadi potensi untuk mempersatukan bangsa Indonesia di tanah air. Rumah Cemara ingin menunjukkan kepada dunia bahwa orang-orang yang dipinggirkan seperti konsumen narkoba dan ODHA pun peduli terhadap persatuan di negara yang kaya akan keberagaman suku, agama, bahasa, serta adat-istiadat ini.

Indonesia tanpa stigma; bineka tunggal ika!

Patri Handoyo

The author Patri Handoyo

Pencinta kopi dan makhluk hidup. Berkesenian selama hayat masih dikandung badan. Peneliti partikelir dan kontributor di sejumlah kelompok advokasi serta pendidikan alternatif.

1 Comment

Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.