close
FeaturedKomunitas

Agar Krisis Iklim Tidak Makin Parah dan Masa Depan Tidak Banjir Darah, Segera Deklarasikan Darurat Iklim!

Pohon

WAKTU BACA: 6 menit

Artikel ini adalah opini Prastiawan, seorang pegiat lingkungan dari gerakan Extinction Rebellion (XR), yang dikontribusikan bagi situs web Rumah Cemara untuk memperingati Hari Bumi. Selamat membaca!

Redaksi

Pepohonan kehilangan teduhnya
Pun teduh kehilangan ramahnya
Ramah tamah terbaca agenda di baliknya

Manusia yang menggila putarnya
Gerus rakusnya
Manusia tak berujung nafsunya

Sumpal sungainya, pangkas gunung-gunungnya
Bedil satwanya, beton sawah-sawahnya
Keruk tanahnya, babat pohon-pohonnya
Sampahi langitnya, asapi udaranya.

Itulah kutipan lirik lagu FSTVLST berjudul “Telan”. Grup musik asal DI Yogyakarta ini adalah satu dari sekian banyak seniman yang kritis terhadap kondisi kehidupan di planet bumi saat ini.

Saya sendiri tak hanya menyukai musik dan genre yang mereka usung. Lagu “Telan” itu seakan mewakili keresahan saya akan kehidupan saat ini.

….hidup di negara yang sakit, kami harus menjaga diri kami tetap waras, adalah kutipan lirik lagu lainnya. Judulnya “Luka Bernegara” karya Cupumanik, grup bergenre grunge asal Bandung, Jawa Barat.

Saya kerap menghubungkan diri saya dengan lagu-lagu yang mengusung masalah kehidupan di bumi ini karena irama dan syairnya mewakili keresahan diri saya. Musik bagi saya adalah media meditasi untuk menenangkan diri dari “kegilaan” hidup. Saya adalah warga negara biasa yang bertahan di tengah alam semesta yang saya cintai. Karenanya, saya berusaha menjadi “sesuatu” yang bisa memberi manfaat untuk kehidupan sekitar. Untuk bisa memberi manfaat, bukankah saya harus tetap waras?

Negeri yang Sakit

Saya mencintai kehidupan ini dengan segala dinamikanya. Sayapun mencintai negeri ini, Indonesia, tempat saya lahir dan dibesarkan. Negara yang katanya makmur dengan kekayaan alam yang melimpah dan beraneka, negara yang seharusnya menjadi “surga” bagi penduduknya, negara yang damai bersatu walaupun terdiri dari bermacam budaya dan suku, negara yang gagah dengan garuda sebagai lambangnya, negara yang diperjuangkan untuk terbebas dari belenggu penjajahan oleh para pejuang kemerdekaan dan diproklamasikan Bung Karno dan Bung Hatta 75 tahun lalu.

Baca juga:  Alihkan 10 Persen Saja dari Anggaran “Perang terhadap Narkoba” untuk Kesehatan Konsumennya

Tapi tak bisa dimungkiri, negara yang saya cintai ini memang sedang “sakit” bahkan “sekarat”. Penyebabnya, keserakahan segelintir orang yang terus menggerogoti negeri gemah ripah loh jinawi ini.

Penyalahgunaan kekuasaan pun dipertontonkan secara vulgar. Aparat dengan brutal melakukan aksi kekerasan terhadap demonstran yang menyuarakan hak-haknya sebagai warga negara. Sebagian korbannya bahkan harus meregang nyawa. Lalu, para wakil rakyat seenak jidatnya meloloskan kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat yang diwakilinya.

Negara ini makin “sakit” saat kebijakan yang diputuskan pemerintah tidak berpihak pada kepentingan rakyat banyak. Kita bisa lihat dari cara penanganan wabah covid-19.

Krisis Iklim

Saya belum menambah perubahan iklim sebagai persoalan bangsa. Memang perubahan iklim tidak hanya terjadi dan dialami di negara ini, tapi seluruh penghuni planet bumi.

Perubahan iklim tidak terjadi begitu saja. Ada rentetan kejadian sebelumnya hingga berakibat pada perubahan bahkan krisis iklim seperti yang terjadi sekarang.

Planet ini dihuni jutaan spesies makhluk hidup yang berhak hidup layak di dalamnya. Tetapi, manusialah satu-satunya makhluk yang harusnya mengetahui dan mampu memperhitungkan dampak dari tiap tindakannya, termasuk dampak terhadap iklim bumi.

Sialnya, sama seperti penyebab penyakit yang menggerogoti negara ini, ada manusia-manusia serakah yang malah memperparah krisis iklim ini. Belum lagi, ada juga manusia yang abai akan kelestarian lingkungan tempat tinggalnya walaupun tidak mengeruk laba dari tindakannya.    

Lalu, apa yang sebenarnya harus dilakukan untuk mengatasi krisis iklim ini sehingga bumi bisa berumur lebih panjang?

Selain tindakan individu seperti mulai menghentikan penggunaan produk plastik sekali pakai, juga diperlukan kerja sama berskala global. Tiap negara harus memberlakukan kebijakan darurat krisis iklim.

Pemberlakukan kebijakan para pemimpin tiap negara ini diharapkan menjadi solusi untuk penanganan krisis iklim. Indonesia sendiri sudah melakukan tindakan di antaranya dengan menandatangani Perjanjian Paris 2015 tentang perubahan iklim. Meski sudah menandatanganinya, Pemerintah RI malah menerbitkan kebijakan-kebijakan sektor energi yang bertentangan dengan isi perjanjian tersebut. UU prioritas pascapenandatanganan Perjanjian Paris tak kunjung disahkan.

Baca juga:  Isap Sinte di Pinggir Jalan: Kok Bisa?

UU Minerba dan UU Cipta Kerja adalah kebijakan yang malah dikebut pengesahannya dengan dalih untuk menciptakan lapangan kerja dan kesejahteraan rakyat. Keduanya adalah kebijakan yang sangat berpihak pada korporasi dan pemodal. Parahnya lagi, Februari lalu, Presiden Jokowi meneken peraturan pemerintah yang mengeluarkan abu batu bara dari limbah bahan berbahaya dan beracun.

Krisis iklim yang terjadi saat ini sangat dikhawatirkan berdampak terhadap kehidupan seluruh makhluk dan risiko terbesarnya adalah kepunahan masal. Perubahan cuaca yang ekstrem, curah hujan dengan intensitas tinggi, serta berbagai bencana alam khususnya banjir menjadi bukti bahwa krisis iklim sedang terjadi.

Tentang Extinction Rebellion

Extinction Rebellion (XR) adalah sebuah gerakan kampanye yang bersedia mengambil tindakan nirkekerasan untuk menuntut pemerintah segera mendeklarasikan darurat krisis iklim. Gerakan ini berpusat di London, Inggris yang meluas ke berbagai negara termasuk Indonesia.

XR Indonesia bersama gerakan, komunitas, dan organisasi lain yang prihatin dengan krisis iklim di Indonesia menuntut beberapa hal yang harus ditindaklanjuti oleh pemerintah sesegera mungkin.

Aksi kampanye “Climate Justice Now” kami selenggarakan di berbagai kota di Indonesia secara serentak pada 19 Maret lalu untuk menyuarakan tuntutan penanganan krisis iklim dan deklarasi darurat krisis iklim. Aksi itu digelar di 68 negara sebagai Global Climate Strike.    

Ini adalah teriakan warga Indonesia dalam menuntut aksi dan komitmen nyata pemerintah demi menghindari masa depan yang penuh bencana dan kematian akibat krisis iklim semakin parah.

Aksi teatrikal, banner drop, penandatanganan petisi, serta berbagai aksi kreatif lainnya kami lakukan untuk menyampaikan pesan bahwa waktu kita tidak banyak lagi. Yang kita butuhkan hari ini adalah aksi nyata dari pembuat kebijakan untuk perubahan yang sistematis.

Baca juga:  HIV-AIDS dalam Film

Kebijakan iklim Indonesia masih membawa kita ke kehancuran ekologis. Ini adalah tindakan bunuh diri secara perlahan. Oleh sebab itu, pemimpin negara ini dituntut untuk menggerakkan seluruh tatanan pemerintahan agar bisa melakukan tindakan bersama mengatasi krisis iklim yang kian parah. Deklarasi darurat iklim dari pemerintah sangat dibutuhkan segera.

Bertajuk “Krisis Iklim Makin Parah, Masa Depan Banjir Darah”, aksi serentak saat itu dilakukan sebagai peringatan bagi pemerintah. Berbagai bencana yang menelan banyak nyawa selama ini adalah dampak dari krisis iklim.

Di Bandung, Jawa Barat, aksi teatrikal bertema “orang gila” dengan latar belakang Gedung Sate menyimbolkan keadaan hidup saat ini sudah sangat kacau. Krisis iklim berdampak pada cuaca ekstrem yang membuat hidup di planet bumi semakin tidak nyaman.

Kekacauan ini makin bertambah dengan pemerintah yang abai dari kewajiban untuk memenuhi hak rakyat termasuk mereka yang mengalami gangguan kejiwaan. Sejatinya orang dengan gangguan jiwa berhak hidup layak, namun saat ini kerap dikucilkan.

Tema “orang gila” ini juga sebagai sindirian kepada para penguasa yang terlihat nyata semakin “gila” dan rakus akan kekayaan dan kekuasaan tanpa memikirkan rakyatnya.

“Kegilaan” keadaan ini semakin menjadi-jadi karena banyak manusia, yang sejatinya berakal, namun gila akan kehidupan dunia seolah akan hidup selamanya. Rasa empati, cinta, dan kasih terhadap sesama makhluk justru terkikis. Akhlak, akal budi, dan pikiran pun kian luntur.

Yang dibutuhkan bangsa ini adalah pemimpin dan manusia-manusia yang dengan tulus memperjuangkan keadilan serta pemenuhan hak warga negara yang telah tertulis dalam konstitusi negara ini 75 tahun silam. Negara ini juga membutuhkan wakil-wakil rakyat yang amanah, menyejahterakan, serta memberikan rasa aman kepada rakyat yang mereka wakili.       

Demi kehidupan kita semua, keadilan iklim perlu ditegakkan!

Tags : earth dayhari bumi
Prastiawan

The author Prastiawan

Manusia biasa yang mencoba berbagai cara untuk terus mengenal makna hidup

Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.