close
WhatsApp Image 2021-12-15 at 14.35.16 (1)
Gambar Ilustrasi: @abulatbunga

WAKTU BACA: 2 menit

Kekerasan berbasis gender di Indonesia sudah lampaui batas amarah, terang Sakdiyah Maruf, pelawak tunggal yang kondang akan tema-tema perempuan dan Islam dalam materi lawakannya. Kalau kekerasan dengan korban terbanyak perempuan ini sudah lewati batas amarah, lalu apa ya disebutnya?

Sakdiyah Maruf sudah malang melintang di dunia stand up comedy Indonesia sejak 2011. Dipandu Patri Handoyo (Kanal Indonesia Tanpa Stigma) dalam kesempatan ini, ia mengungkapkan kekesalannya terhadap dunia yang masih saja tidak aman buat perempuan. Pemilik gelar master di bidang Studi Amerika ini mencontohkan, dirinya tidak pernah merasa aman menggunakan kendaraan umum dalam melakukan kegiatan rutinnya.

Diyah, sapaan karibnya berpendapat lewat sebuah kelakar, karena manusia “nggak ada tobatnya” dalam mendominasi dunia lewat paham patriarki, iblis pun deg-degan takut nggak dapat bagian berbuat dosa menindas perempuan!

Dalam kampanye 16 Hari Anti-Kekerasan terhadap Perempuan tahun ini, UN Women Indonesia berkolaborasi dengan Rumah Cemara menyuarakan betapa laki-laki punya peran krusial untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan. Sejak awal Desember, konten media sosial dibuat untuk menyuarakan hal tersebut melalui platform yang selama ini digunakan Rumah Cemara dan UN Women Indonesia dalam melakukan pendidikan bagi masyarakat.

Baca juga:  Festival Indonesia Tanpa Stigma 2018

Di hari terakhir kampanye, 10 Desember 2021 pukul 16:00 hingga 17:00 WIB, sebuah siaran langsung dikemas. Acara pamungkas kolaborasi UN Women Indonesia-Rumah Cemara untuk 16 Hari Anti-Kekerasan tehadap Perempuan itu menghadirkan Sakdiyah Maruf, pelawak tunggal yang dikenal akan materi-materi lawakannya tentang menjadi perempuan, muslimah, dan minoritas keturunan Arab di Indonesia.

Dengan berapi-api, Diyah menyampaikan materi lawakannya disusul obrolan seputar pandangannya atas kekerasan berbasis gender di republik ini yang sudah melampaui batas amarah. Mereka juga membahas hubungan yang tidak sehat lantaran toxic masculinity yang menurut Diyah justru mengingkari fitrahnya sebagai manusia. Obrolan ini juga mengulas masyarakat yang malah menyuburkan praktik-praktik tersebut.

Penasaran dengan lawakan Diyah – atau sebenarnya dia sedang berdakwah sih? Langsung aja simak tayangannya!

Tags : 16 Hari Anti-Kekerasan terhadap Perempuanjokes bapack-bapackkekerasan terhadap perempuansexist jokes
Redaksi

The author Redaksi

Tim pengelola media dan data Rumah Cemara

Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.