close
FeaturedKomunitas

Kami Juga Manusia: Cerita Pengidap HIV yang Didiskriminasi

main
Gambar: Frontiers for Young Minds

I lost my dream, I lost my family, seperti disambar petir!

Artikel ini ditulis bersama Dinda Charmelita

Redaksi

Itulah yang dirasakan Parid Raida (27) ketika mengetahui dirinya didiagnosis tertular HIV. Keinginan untuk bunuh diri pernah terlintas di kepala pria yang akrab dipanggil Ayid itu. Setelah tahu hasil tes HIV-nya positif, ia merasa semua rencana masa depannya akan pupus. Belum lagi stigma yang melekat pada pengidap HIV harus ia tanggung.

Pengidap HIV dianggap aib dicap buruk alias distigma, tidak diperlakukan selayaknya manusia. Mereka banyak mendapat perlakuan diskriminatif hanya karena memiliki HIV, virus penyebab sindrom akibat menurunnya kekebalan tubuh (AIDS) di Indonesia.

Bukan tanpa sebab, anggapan tersebut masih berkembang akibat stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV dan AIDS di masyarakat. Perlakuan tidak adil, pengucilan, dan pandangan sebelah mata menjadi tekanan bagi orang-orang dengan HIV untuk dapat menjalani kehidupan mereka dengan semestinya. Alih-alih fokus pada kesehatan, pengidap HIV harus berhadapan dengan stigmatisasi yang hebat.

Bagi banyak pengidap HIV, mereka harus melawan dua ketakutan ketika terdeteksi positif HIV. Pertama, takut akan kondisi kesehatannya. Kedua, takut akan pandangan dan buruknya penerimaan orang-orang sekitarnya. Bahkan yang jauh lebih menakutkan, masih ada orang-orang  yang tidak memperlakukan meraka selayaknya manusia.

Perasaan khawatir juga muncul pada diri Ayid. Ia merasakan kecemasan akan adanya pandangan negatif dari orang di sekitarnya. Beruntung, ia justru mendapat penerimaan yang baik di tempat tinggalnya saat ini, yakni Yogyakarta. Di sana, teman-teman Ayid pun tidak pernah mempermasalahkan kondisi yang saat ini ia alami.

Penerimaan yang baik ternyata tidak membuatnya luput dari hinaan dan cemoohan. Setelah berhasil menerima keadaannya dan berdamai dengan diri sendiri, Ayid mulai aktif  membagikan ceritanya dan memberikan edukasi seputar HIV di kanal YouTube. Namun, perjalanan Ayid sebagai content creator tidak selalu berjalan mulus. Video-video yang ia unggah sering kali menimbulkan komentar negatif dari warganet, hingga video itu sampai pada warga di kampung halamannya dan stigma mulai ia terima.

Baca juga:  Citra Seniman Tukang Mabuk: Hasil Setengah Abad Lebih “Perang terhadap Narkoba”

“Stigma itu justru aku dapatkan dari orang-orang di kampungku yang sebenarnya belum paham tentang HIV-AIDS,” ungkap Ayid.

Tidak semua pengidap HIV seberuntung Ayid. Ia justru merasa miris dengan banyaknya perlakuan diskriminatif yang diterima para pengikutnya di Instagram yang sama-sama berstatus positif HIV. Sebagian besar dari mereka mendapatkan stigma dan perlakuan tidak adil dari lingkungannya.

Karena dianggap bisa menular dengan mudah pada yang lain, beberapa orang dengan HIV dipecat dari pekerjaan mereka. Sebagian lagi diusir dari keluarganya, bahkan terdapat kasus di mana tidak ada warga yang bersedia mengurus jenazah orang dengan HIV di kampung mereka.

Kuatnya stigma dan diskriminasi yang menghantui orang dengan HIV, membuat mereka cenderung memiliki konsep diri yang negatif, kepercayaan diri yang rendah, dan produktivitas yang terganggu. Stigma dan diskriminasi jugalah yang membuat mereka enggan menunjukkan status medisnya. Sebagian di antaranya juga merasa malu untuk memeriksa dan mendapatkan penanganan medis.

Stigma dan diskriminasi terhadap HIV yang membebani mental pengidapnya tidak hanya dialami Ayid dan teman-temannya. Hasil penelitian berjudul Konsep Diri Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) yang Menerima Label Negatif dan Diskriminasi dari Lingkungan Sosial (Sarikusuma, dkk, 2012), menjelaskan bagaimana label negatif dan diskriminasi pada pengidap HIV berpotensi memberi tekanan psikologis dan konsep diri yang buruk atas status positif HIV-nya.

Baca juga:  AIDS dan Kisah Para Penyanyi Dunia

Label seperti mayat hidup, pembawa penyakit kutukan dan menular, serta aib ditujukan pada para pengidap HIV sebagai partisipan dalam penelitian. Bentuk diskriminasi seperti penolakan dari lingkungan keluarga, warga kampung, tempat kerja, hingga layanan kesehatan, lalu pemisahan tempat makan hingga dikucilkan, membuat partisipan menarik diri dari lingkungannya.

Bagi partisipan, label dan diskriminasi tersebut menimbulkan perasaan tertolak atas penyakitnya, berpikiran negatif atas dirinya, putus asa, depresi, perasaan tertekan, hingga ingin mengakhiri hidup.

Merasa tidak diperlakukan seperti manusia pada umumnya, membuat Ayid bertekad untuk lebih memanusiakan manusia. Ia berharap orang-orang di luar sana bisa merenungkan lagi tindakan yang dilakukannya,

“Pantaskah aku mengeluarkan kata-kata diskriminatif yang memojokkan pengidap HIV?” tegasnya. Ia juga berharap agar masyarakat mau terus meningkatkan pemahamannya tentang HIV, bahwa virus ini tidak dapat menular dengan mudah, dan memiliki toleransi untuk hidup berdampingan dengan pengidapnya.

“Menurut aku, memanusiakan manusia itu penting banget,” ungkap Ayid. Menurutnya, sikap toleransi sangat perlu dimiliki oleh masyarakat. Bukan hanya perihal agama, toleransi terhadap penerimaan terhadap seseorang yang positif HIV.

Stigma yang berkembang di masyarakat tidak terlepas dari ketidaktahuan dan ketidakacuhan masyarakat untuk memahami lebih dalam tentang hal tersebut. Ayid menyayangkan masih banyaknya orang yang tidak mau open minded terhadap informasi-informasi mengenai HIV. Terbatasnya wawasan masyarakat menyebabkan informasi yang tidak valid dengan cepat berpindah dari mulut ke mulut. Sayangnya, kabar yang belum tentu jelas kebenarannya itu justru banyak diyakini masyarakat.

Status positif HIV telah membawa Ayid pada perjalanan rohani yang cukup mendalam. Ayid juga menekankan agar mereka tidak merasa menjadi orang paling buruk dan berdosa hanya karena status medisnya itu. Ia ingin mereka juga bisa berbesar hati dan memiliki optimisme agar bisa melanjutkan hidup dengan baik.

Baca juga:  Ketakutan Negara pada Alat Kontrasepsi

“Karena pada dasarnya manusia itu sama, gak ada yang berbeda di mata Tuhan. Selama kita hidup di dunia ini, kalau kita mencari pembenaran atau kesempurnaan di mata manusia itu gak ada habisnya,” jelas Ayid.

Ayid berharap pengidap HIV di luar sana bisa menganggap dirinya berharga dan sama seperti manusia lainnya. Baginya, setiap pengidap HIV berhak untuk memandang dirinya berharga dan mampu mengapresiasi diri, fokus pada kesehatan dan orang-orang terkasih.

Kini Ayid tidak lagi memedulikan cemoohan apapun yang datang pada dirinya. Ia lebih fokus pada kesehatannya, orang-orang tersayangnya, dan perjuangannya mengedukasi melalui media sosial. Ayid juga berharap agar teman-teman pengidap HIV lainnya di luar sana tidak merasa jadi manusia yang berbeda. Menurutnya, status positif HIV tidak menjadikan seseorang lebih kecil dari manusia lainnya.

Sebagai sesama manusia, sikap saling merangkul dan mendukung sangat diperlukan untuk para pengidap HIV. Selama ini mereka telah jatuh bangun berjuang hidup di tengah tebalnya stigma dan diskriminasi. Maka, tidak hanya pengidap HIV yang harus berdamai dengan diri sendiri, melainkan juga masyarakat penting untuk sadar dan paham HIV dan AIDS demi melunturkan stigma yang melekat secara perlahan.

Dukungan dari lingkungan sekitar diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup dan menyuarakan hak-hak mereka yang tertindas. Satu hal penting yang perlu digaris bawahi adalah orang dengan HIV juga bisa berdaya dan pantas hidup dengan aman, nyaman, dan tentram.

Dhela Seftiany

The author Dhela Seftiany

Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.