close
WhatsApp Image 2022-01-08 at 22.01.49
Gambar Ilustrasi: @abulatbunga

Sebuah artikel di situs Science Alert menerangkan, tidak semua zat meninggalkan jejak kimianya di tubuh untuk waktu yang sama. Itu mengapa uji narkoba sebagai syarat penerimaan siswa baru, misalnya, tidaklah efektif. Uji narkoba sangat mungkin menunjukkan hasil positif khususnya ganja, yang secara tidak sengaja turut terserap tubuh – biasanya saat berada satu ruangan dengan orang yang merokok ganja.

Artikel ini adalah bagian dari artikel berseri dengan tajuk “Absurdnya Tes Urine Narkoba dan Kewajiban Rehabilitasi” yang dimuat di situs ini pertengahan Juni 2020. Bagian ini terutama berisi informasi tentang berapa lama kandungan zat-zat yang disebut sebagai narkoba berada dalam tubuh dapat terdeteksi melalui uji air seni (urine), darah, atau rambut.

Redaksi

Saat masuk ke dalam jaringan, metabolit atau produk sampingan dari zat tersebut diproduksi melalui proses metabolisme tubuh. Jejak-jejak metabolit inilah, karena bisa bertahan dalam darah, urine, bahkan rambut setelah efek narkoba dirasakan, yang dideteksi dalam pengujian narkoba.

Jejak metabolit narkoba di rambut bertahan lebih lama ketimbang yang ditinggalkan di air seni atau darah. Berikut adalah daftar lamanya kandungan delapan narkoba populer bertahan di urine, darah, maupun rambut (sumber: Drugs.ie).

Diagram berikut menunjukkan, kandungan narkoba seperti LSD, putau, dan alkohol bertahan di dalam darah hanya 12 jam atau kurang.

Jam (Hours)

Jejak metabolit narkoba di urine atau air seni lebih lama ketimbang dalam darah. Jika di darah jejak metabolit narkoba terlacak hanya dalam hitungan jam, maka di urine, jejaknya bisa bertahan berhari-hari.

Hari (Days)

Uji narkoba menggunakan sampel rambut merupakan yang paling akurat karena jejak kandungan heroin atau alkohol misalnya, yang hanya relatif bertahan sebentar di urine atau darah, bisa bertahan hingga lebih dari 90 hari. Dari kedelapan narkoba yang diukur dalam kedua diagram di atas, hanya LSD yang jejaknya bertahan tiga hari. Sementara, jejak metabolit tujuh narkoba lainnya bertahan di rambut hingga lebih dari 90 hari.

Baca juga:  Legalisasi Ganja di Indonesia Jalan di Tempat?

Sebagai tambahan informasi, pertumbuhan rambut per bulan adalah sekitar 1 cm. Dengan demikian, deteksi konsumsi narkoba selama beberapa bulan terakhir tergantung pada panjang rambut yang dijadikan sampel.

Tes Urine Melanggar Berbagai Hak Asasi Manusia

Di beberapa negara, uji paksa narkoba (mandatory drug testing), terutama terhadap anak sekolah, sudah banyak ditentang. Human Rights Watch berpendapat, kegiatan ini secara serius mengancam keamanan dan hak atas pendidikan para siswa. Pendapat tersebut diungkapkan menanggapi rencana pemerintah Filipina melakukan uji narkoba terhadap seluruh siswa dan pendaftar perguruan tinggi pada Agustus 2017.  

Uji paksa narkoba mengancam hak-hak asasi manusia. Mengambil cairan tubuh, baik urine maupun darah tanpa persetujuan anak, melanggar integritas atas tubuh dan merupakan tindakan sewenang-wenang atas privasi serta merendahkan martabat mereka. Tindakan ini berpotensi menghalangi dan merampas hak siswa untuk bersekolah karena alasan-alasan yang mungkin tidak berhubungan dengan konsumsi narkoba.

Mengeluarkan siswa dari sekolah karena hasil uji narkobanya positif merupakan tindakan semena-mena atas hak pendidikan anak-anak.

American Civil Liberties Union (ACLU), kelompok yang memperjuangkan kebebasan konstitusional di AS, secara khusus menjabarkan di situs resminya, alasan-alasan kenapa tes narkoba terhadap siswa gagal. Mereka berpendapat, kebijakan uji narkoba terhadap siswa selain bersifat mengancam juga kontraproduktif.

Sejumlah argumen ACLU menentang uji paksa narkoba terhadap siswa di antaranya, karena pelanggaran privasi dan mempermalukan mereka di hadapan pejabat sekolah atas penyerahan sampel urinenya. Tes urine juga bukan cara yang efektif memerangi konsumsi narkoba di sekolah, karena banyak zat psikoaktif yang hanya terdeteksi saat konsumennya berada dalam pengaruh saat tes dilakukan. Terlebih, kebijakan ini dapat mendorong para siswa mengonsumsi zat-zat psikoaktif lain yang tidak terdeteksi alat uji dan bisa jadi lebih berbahaya. 

Selain sejumlah argumen tadi, biaya yang tinggi juga jadi alasan kenapa uji narkoba untuk para pelajar banyak ditentang.

Awal 2015, anggaran belanja sekolah-sekolah negeri di Carroll County, Georgia (sekitar 40 km sebelah barat Ibu Kota Atlanta) tercatat sebesar 20 ribu dolar. Tapi alih-alih merenovasi ruang kelas, meningkatkan kapasitas tenaga pengajar, atau membeli komputer maupun buku-buku yang dibutuhkan untuk pendidikan, mereka malah membelanjakan anggaran tersebut untuk uji narkoba. Tiap bulan, 80 siswa dites narkoba dengan anggaran 24 dolar per siswa.

Baca juga:  Orang Biasa (Apalagi Miskin) Dilarang Sakit Covid-19

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), 18 persen sekolah menengah negeri di sana menerapkan kebijakan uji narkoba wajib seperti yang dilakukan Carroll County. Umumnya, uji narkoba hanya dilakukan terhadap atlet, peserta ekstrakurikuler, dan siswa yang berkendara ke sekolah. Tapi kenyataannya berbeda.

Survei nasional terhadap 1.300 sekolah negeri di AS menemukan, 28 persen dari seluruh distrik yang menerapkan kebijakan tadi malah melakukan uji narkobanya terhadap seluruh siswa.

Program Tes Urine Buang-Buang Uang Negara

Program uji narkoba bagi siswa dengan kriteria tertentu oleh sekolah-sekolah negeri pada 2002 memang pernah diuji dan menjadi keputusan Mahkamah Agung AS. Tapi, sejumlah studi bertahun-tahun pascaputusan tersebut menunjukkan rendahnya efektivitas program ini.

Laporan sebuah kajian pada 2013 yang mempelajari data konsumsi narkoba pelajar selama 14 tahun menemukan bahwa uji narkoba di sekolah menunjukkan rendahnya konsumsi ganja, tapi konsumsi obat-obatan lain yang lebih berbahaya justru meningkat.

Studi perbandingan tingkat konsumsi narkoba di sekolah-sekolah yang tidak dan yang menerapkan program uji narkoba menemukan, efek jera jangka pendek terjadi pada siswa yang diuji tapi tidak memiliki efek apapun pada siswa yang tidak diuji. Studi yang dilaporkan pada 2013 ini juga menemukan tidak adanya efek jangka panjang terhadap konsumsi narkoba maupun keinginan untuk mengonsumsinya di masa yang akan datang.

Bahkan sebuah studi yang dilaporkan pada 2014 menyimpulkan, uji narkoba tidak ada kaitannya dengan perubahan (naik-turunnya) konsumsi narkoba.

Uji paksa narkoba tidak efektif menekan konsumsi maupun peredaran narkoba di masyarakat. Karenanya, program ini dianggap tidak efisien kalau tidak ingin disebut menghambur-hamburkan anggaran. Bahkan uji narkoba di sekolah ditengarai sebagai pungutan liar, karena biayanya tidak terdapat dalam anggaran rutin pendidikan nasional maupun daerah.

Baca juga:  Peringatan Hari Anti-Narkoba 2021: PBB Hapus Stigmatisasi Ganja, Indonesia Lanjut Perangi Narkoba (2)

Dalam sebuah wawancara, Kepala BNN Kota Tangerang, Akhmad F. Hidayanto pernah menampik tudingan tersebut saat lembaga yang dipimpinnya mengusulkan uji narkoba sebagai syarat masuk sekolah pada 2018. Akhmad menepis tuduhan kalau uji narkoba yang biayanya dibebankan kepada orang tua murid itu disebut sebagai pungutan liar.

Alat tes narkoba yang menggunakan sampel urine untuk mendeteksi kandungan enam jenis zat dibanderol antara 60 hingga 120 ribu rupiah di sejumlah toko online. Enam parameter tes itu mendeteksi kandungan morfin (heroin alias putau dan turunan opioid lainnya), ganja, amfetamina, metamfetamina (sabu-sabu, ekstasi), kokaina, dan benzodiazepin (anticemas, antikejang seperti diazepam, alprazolam).

Dalam siaran pers akhir tahun 2019, BNN melaporkan uji narkoba dilakukan terhadap 354.248 orang di seluruh provinsi sepanjang tahun. Yang positif hanya 599 atau 0,16 persen, terdiri dari 40 perempuan dan 559 laki-laki.

Sekarang, mari kita hitung biaya untuk uji narkoba terhadap tiga ratus ribuan orang itu jika satu unit alat tes harganya 90 ribu rupiah (nilai tengah dari 60 dan 120 ribu)!

Hasilnya, biaya yang dikeluarkan untuk uji narkoba menggunakan sampel urine sepanjang 2019 di 34 provinsi adalah Rp31.882.320.000. Ini belum termasuk uji konfirmasi di laboratorium menggunakan sampel jaringan organ tubuh lainnya seperti rambut atau darah.

Sebagian dari kita mungkin tahu kalau urine hanya digunakan untuk pemeriksaan awal atas kandungan narkoba dalam tubuh. Maka biasanya uji jaringan tubuh selain urine, seperti rambut atau darah, dilakukan di laboratorium untuk mengonfirmasi hasil tes postif pada sampel urine.

Uji laboratorium juga dilakukan untuk memastikan bahwa pemilik narkoba yang tertangkap dengan hasil tes urine positif benar-benar merupakan konsumen-bukan-pengedar. Untuk keperluan konfirmasi ini, BNN melayani pemeriksaan sampel rambut dan darah yang berasal dari seluruh penjuru negeri.

Sepanjang 2019, Pusat Laboratorium Narkotika BNN telah menguji 21.670 sampel dengan hasil positif 97,95 persen.

Tags : tes narkobates urineuji narkoba
Patri Handoyo

The author Patri Handoyo

Pencinta kopi dan makhluk hidup. Berkesenian selama hayat masih dikandung badan. Peneliti partikelir dan kontributor di sejumlah kelompok advokasi serta pendidikan alternatif.

Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.