close
WhatsApp Image 2022-07-07 at 10.30.55 PM

Entah siapa yang memulainya. Obat batuk bernama dekstrometorfan (dextromethorphane atau dekstro) hingga saat ini masih dicari untuk mabuk.

Obat ini terus diproduksi dan diedarkan meskipun Badan POM RI telah menerbitkan keputusan untuk membatalkan izin edar sediaan tunggalnya pada 2013. Yang dimaksud sediaan tunggal adalah sebuah tablet atau sirup mengandung satu zat tertentu saja. Obat batuk yang diberikan izin edar saat ini kandungannya tidak hanya dekstro, tapi juga mengandung guaifenesin dan chlorpeniramine maleate, misalnya.

Dengan dosis tepat, dekstro berkhasiat meredakan batuk, tapi kalau dikonsumsi berlebihan, efek yang ditimbulkan di antaranya halusinasi dan penurunan daya koordinasi tubuh.

Dekstro dijual di apotek tanpa resep dokter. Versi generiknya diecer Rp50 per butir pada 1990-an. Syarat agar berefek pada kesadaran, dekstro wajib diminum minimal 10 butir – atau setidaknya waktu itu supaya pas saja pengeluaran uangnya Rp500. Sebagai perbandingan, saat itu vodka botol gepeng merek Mansion House isi 250 ml seharga Rp5.000.

Tentu berbeda antara mabuk alkohol dan dekstro. Boleh dibilang, efek konsumsi berlebih dekstro tidak karuan. Sebagai halusinogen, efeknya tergantung dari suasana hati. Ada konsumen yang merasa euforia, paranoid, hingga gatal-gatal, tapi lazimnya merasakan jantung berdebar, berkeringat, dan kehilangan koordinasi tubuh sehingga gerakan bagaikan robot. Untungnya, efek tersebut hanya berlangsung antara satu hingga dua jam.

Baca juga:  Jeruji - Satu Barisan (2019)

Yang berbahaya karena tubuh bertoleransi terhadap obat, maka dosis yang dibutuhkan untuk mencapai efek yang sama meningkat dari waktu ke waktu. Gagal napas karena berhentinya kerja organ tubuh bisa terjadi saat zat yang dikonsumsi terlalu banyak.

BNN melaporkan, dekstro adalah narkoba ketiga yang paling banyak dikonsumsi setelah ganja dan sabu pada 2021. Pertanyaannya, dari mana mereka mendapatkan dekstro?

Saya sering mendengar, untuk mendapat efek mabuk, mereka biasanya meminum belasan saset obat batuk yang salah satu kandungannya dekstro. Obat batuk sirup dengan kandungan dekstro bisa dibeli di warung.  

Alasan Badan POM RI membatalkan izin edar 130 jenama dekstrometorfan pada 2013 adalah karena obat ini sering dikonsumsi untuk mabuk. Faktanya hingga saat ini, tetap ditemukan pil dengan kandungan tunggal dekstro. Dalam hal ini, kebijakan pembatalan dan pelarangan produksi dekstro tampaknya tidak efektif untuk mencegah penyalahgunaannya lantaran masyarakat terlanjur mengetahui khasiat memabukkan dan formula pembuatannya.

Pelarangan totalnya pun bakal sama tidak efektifnya. Hal ini sudah terjadi untuk heroin sebagai contoh. Indonesia telah menggolongkan diacetilmorfina, nama generik heroin, sebagai narkotika golongan satu sejak 1997. Narkoba yang berada di golongan ini hanya boleh digunakan untuk keperluan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pelanggarannya diganjar hukuman penjara dan denda. Meskipun demikian, masih ada saja yang mengedarkannya.

Formula pembuatan baik dekstro maupun heroin sudah diketahui banyak orang. Di sisi lain, permintaan obat-obatan ini juga tetap ada. Permintaan tersebut direspons produsen melalui pasar gelap. Hukum pasar ini juga berlaku untuk zat-zat psikoaktif baru macam sinte. Meski baru, tapi sudah banyak orang yang menguasai cara pembuatannya. Adanya pelarangan malah menyuburkan pasar gelapnya.

Baca juga:  Menkes Lebih Digdaya daripada Aparat Bersenjata untuk Tumpas Pasar Gelap Ganja

Bila reaksi pemerintah terhadap penyalahgunaan obat selalu memberlakukan pelarangan dan pemidanaan, maka bisa-bisa semua obat akan beredar di pasar gelap.

Yang perlu diperhatikan dari konsumsi berlebihan dekstrometorfan ini adalah efeknya yang absurd dan kerap tidak menyenangkan. Reaksi Badan POM RI terhadap adanya penyalahgunaan dekstro di masyarakat malah kontraproduktif. Ini terbukti dari laporan BNN bahwa obat ini menjadi narkoba ketiga terpopuler sembilan tahun pascaterbitnya keputusan tersebut.

Waktu harga dekstro masih Rp50 per butir, saya tidak menjadikannya sebagai pilihan utama untuk mabuk. Awalnya, saya pakai sekadar memuaskan rasa penasaran saja. Konsumsi kedua dan seterusnya saya lakukan bila ada teman yang ngajak atau ketika “barang” lainnya seperti ganja atau benzo lagi sulit didapat. Pertimbangan lainnya, ingin menghindari bau alkohol setelah minum.

Bila ada pilihan, saya bahkan akan memilih alkohol lantaran efeknya lebih pasti. Konsumsi dekstro saat suasana hati buruk seringkali membuat saya ketakutan. Pernah suatu waktu, saya merasa berada di dalam air sehingga kesulitan bernapas dan menggerakkan badan waktu mengikuti ujian di kelas ber-AC. Di situasi lainnya, saat efek dekstro bekerja, saya merasakan gatal-gatal di sekujur tubuh.

Boleh jadi, popularitas dekstro saat ini lantaran masyarakat makin sulit memperoleh bahan-bahan lain untuk mabuk, karena biasanya narkoba yang lazim untuk rekreasi di antaranya adalah alkohol dan ganja. Penjualan minuman beralkohol di beberapa daerah kian dibatasi sehingga harganya melambung tinggi. Sementara, konsumsi ganja diancam hukuman pidana.

Baca juga:  Seperti Gay, Heteroseks Ada yang Norak, Ada juga yang Berfaedah

Dengan ketiadaan izin produksi dan peredaran dekstro sediaan tunggal, saat ini tidak ada yang mengawasi mutu dan bahan baku pembuatannya. Produsen bisa semena-mena menentukan bahan baku demi melipatgandakan laba yang malah membahayakan konsumennya.

Masalah penyalahgunaan dekstro tidak bisa hanya dilihat dari sisi peredarannya, tapi juga ketersediaan narkoba lain yang lazim dimanfaatkan untuk rekreasi. Bila produksi dan peredarannya dilarang, namun akses terhadap alkohol dipersulit misalnya, maka niscaya permintaan dekstro akan meningkat.

Survei BNN melaporkan, popularitas dekstro meningkat dari narkoba keempat yang paling banyak dikonsumsi pada 2017 menjadi yang ketiga pada 2021. Ini makin mengukuhkan bukti bahwa keputusan Badan POM untuk menghapus penyalahgunaannya kontraproduktif.


Patri Handoyo

The author Patri Handoyo

Pencinta makhluk hidup. Berkesenian selama hayat masih dikandung badan. Peneliti partikelir dan pelaku pendidikan alternatif.

Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.