close
infografis 2.1
Gambar Ilustrasi: @abulatbunga

WAKTU BACA: 7 menit

Dalam sejarahnya, masyarakat di seluruh dunia telah secara sengaja mengonsumsi zat-zat yang dapat mengubah proses biokimia dan/ atau psikologis (definisi drugs menurut WHO). Tujuannya beragam, mulai dari memperbaiki suasana hati, mengeluarkan atau melepaskan ketegangan psikologis, hingga menyembuhkan penyakit.

Kelompok sosial komunal menggunakan zat tersebut sebagai bagian dari upacara keagamaan atau budaya turun-temurun. Yang lain memanfaatkannya untuk pengobatan dan perawatan penyakit.

Selain untuk konsumsi, tanaman penghasil zat-zat tersebut juga digunakan sebagai bahan baku berbagai keperluan. Henry Ford pada awalnya tidak hanya memanfaatkan minyak dari biji ganja sebagai bahan bakar mobil yang ia bangun. Ia juga menggunakan serat tanaman tersebut untuk badan mobilnya.

Konsumsi narkoba untuk keperluan medis, pengobatan, perawatan penyakit, dan kepentingan kesehatan lainnya adalah yang paling dapat diterima secara moral oleh sebagian besar masyarakat dunia saat ini. Ada jaminan pengawasan petugas-petugas medis terlatih dengan dosis yang dibutuhkan tubuh dan sesuai kebutuhan medisnya.

Pengawasan ketat juga diterapkan bagi narkoba medis dalam proses produksi sehingga mutu bahan baku dan komposisinya terjamin. Pemanfaatan narkoba di bidang kesehatan umumnya dapat diterima terutama karena ditujukan untuk mengurangi atau menghilangkan penderitaan umat manusia.

Berikut khasiat zat-zat yang populer dikonsumsi masyarakat tapi saat ini pemanfaatannya untuk keperluan medis di Indonesia dilarang, karena dianggap berbahaya tanpa adanya kajian ilmiah sebagai landasan kebijakan pelarangannya.

Opioid. Zat ini secara alami terkandung di getah kuncup bunga tanaman opium poppy (Papaver somniferum). Khasiatnya telah dimanfaatkan sebagai makanan, obat anestesi, juga ritual setidaknya sejak zaman Neolitikum lebih dari 5000 SM berdasarkan bukti-bukti arkeologi di wilayah Mediterania.

Bapak Pengobatan Dunia, Hippocrates berhasil menghilangkan efek negatif opium dan memanfaatkannya sebagai pereda nyeri saat perdarahan, penyakit dalam, serta wabah pada 460 M. Tabib Persia terkenal, Ibnu Sina alias Avicenna pun menggambarkan opium sebagai obat bius yang luar biasa ketimbang obat bius lain yang saat itu dianggap efektif dalam The Cannon of Medicine, ensiklopedia kedokteran yang ia susun pada 1025.

Risalah kedokteran India Kuno mengungkap, opium digunakan sebagai obat diare dan disfungsi seksual pada 1200-an. Saat pertama kali diperkenalkan di dunia pengobatan Barat, opium telah dinobatkan sebagai obat serbaguna.

Dalam Opium to Java: Revenue Farming and Chinese Enterprise in Colonial Indonesia, 1860-1910, James R. Rush pun mengungkap, opium yang dikenal sebagai candu dikonsumsi masyarakat Jawa sebagai upaya terakhir mengobati salah satu dari keadaan sakit kepala, demam, menggigil, malaria, sakit perut, diare, disentri, asma, TBC, lemah, letih, lesu, dan gelisah.

Baca juga:  Peringatan Hari Anti-Narkoba 2021: PBB Hapus Stigmatisasi Ganja, Indonesia Lanjut Perangi Narkoba (1)

Pada 1680, seorang apoteker Inggris meramu opium, sherry wine, dan herbal yang kemudian dikenal sebagai laudanum. Saat itu, ramuan ini populer sebagai obat untuk berbagai macam penyakit termasuk alkoholisme. Kelak pada abad ke-19, banyak beredar obat-obatan paten berbahan dasar laudanum. Karena dijual sebagai obat, pemerintah tidak mengenakan cukai sebagaimana minuman beralkohol.

Dengan harga yang lebih murah ketimbang sebotol gin atau wine, laudanum menjadi narkoba favorit kaum pekerja di Eropa dan Amerika. Untuk memenuhi ketagihan opioidnya, mereka tidak mengalami kesulitan finansial karena cukup mengeluarkan lima sen per hari. Banyak istri alkoholik yang merekomendasikan obat ini untuk mengatasi alkoholisme yang kala itu menjadi momok karena jadi penyebab utama kekerasan dan kematian di Amerika.

Dengan lima sen per hari, para alkoholik yang beralih menjadi ketergantungan laudanum lebih dapat mendampingi istri mereka karena menjadi tenang dan lembut dibanding saat mengonsumsi dan ketergantungan alkohol.

Senyawa organik (alkaloid) opium pertama kali diisolasi oleh Parisian Derosne pada 1803 dan dinamai “garam opium”. Di tahun yang sama, ilmuwan Jerman, Friedrich Sertϋrner menemukan bahan aktif dalam opium hasil pelarutan dan penetralisiran dengan zat-zat tertentu. Empat belas tahun kemudian, Sertϋrner menamainya morfin yang terinspirasi oleh dewa mimpi Yunani, Morpheus.  

Temuan ini meyakinkan para ahli kesehatan bahwa opium, sebagai bahan pengobatan, telah dijinakkan dengan sempurna. Morfin disebut-sebut sebagai “Obat dari Tuhan” karena khasiat pereda nyeri, efek jangka panjang, serta minim efek samping sehingga konsumsinya lebih aman.

Perusahaan farmasi Jerman, E. Merck & Co. memulai produksi komersial morfin pada 1827, dua puluh empat tahun setelah bahan aktif dalam opium itu disintesiskan oleh Sertϋrner.

Pada 1843, seorang dokter di Edinburgh, Skotlandia menemukan cara baru konsumsi morfin, yakni menyuntikkannya. Reaksinya lebih cepat dan terbukti tiga kali lebih mujarab dibanding cara konvensional – telan atau isap. Dari temuan inilah opioid (jenis apapun, alami maupun sintetis) dikonsumsi dengan menyuntikkannya ke intravena sampai sekarang. Ini terutama berlaku bagi mereka yang memperolehnya secara ilegal dan ingin berhemat ketimbang mengisap asap hasil pembakarannya atau chasing the dragon.

Opioid digunakan secara luas untuk pertama kalinya dalam Perang Saudara Amerika (1861-1865) dan Perang Prancis-Prusia (1870-1871) untuk meredakan nyeri, lebih tepatnya mematirasakan tentara-tentara yang terluka.

Diacetyl morphine, nama generik heroin yang sebenarnya adalah sebuah merek obat, disintesiskan pertama kali oleh peneliti Inggris, C.R. Wright pada 1874. Perusahaan farmasi Jerman, Bayer-lah yang menamainya Heroin® untuk mulai diproduksi dua puluh satu tahun kemudian dan memasarkannya pada 1898.  

Baca juga:  Caleg Bicara Kesehatan

Bayer melihat potensi komersial heroin ketika banyak ilmuwan sedang mengembangkan pengganti morfin yang tidak adiktif. Heroin pun dikonsumsi secara luas sebagai pereda nyeri dan pengobatan penyakit-penyakit saluran pernapasan. Produksinya sekitar satu ton per tahun dan diekspor ke 23 negara dengan jumlah terbanyak ke AS, negara dengan populasi besar konsumen morfin dan “penggila” obat-obatan paten. Penjualan heroin sedikitnya menyumbang lima persen dari total laba bersih Bayer pada 1902.

Setidaknya 180 penelitian klinis yang melibatkan heroin diterbitkan antara 1899-1905. Mayoritas bernada positif. Atas ratusan riset di berbagai negara tersebut, barulah Asosiasi Medis AS memberikan izin heroin untuk keperluan medis pada 1906. Sayangnya, lantaran akumulasi laporan kasus-kasus “heroinisme” dan persaingan bisnis, Bayer terpaksa menghentikan produksi heroin pada 1913.   

Pengembangan opioid dengan efek ketergantungan dan risiko kematian akibat overdosis yang minim, khususnya sebagai pengganti heroin, terus dikembangkan hingga kini. Opioid sintetis pun dibuat sejak 1937 di Jerman untuk memenuhi ketersediaan opioid secara mandiri lantaran embargo sebagai konsekuensi berperang dengan negara-negara Sekutu. Kita tahu, opioid adalah pereda nyeri paling mujarab yang tentu saja dibutuhkan tentara-tentara mereka yang terluka. Struktur kimia obat sintetis bernama metadon ini beda tipis dengan morfin.

Indonesia menguji coba terapi pemeliharaan dosis (rumatan) metadon pada 2003 di RS Ketergantungan Obat Jakarta dan RS Sanglah Bali untuk mengatasi penyuntikan putau alias heroin secara bergantian yang berkontribusi pada lonjakan kasus HIV-AIDS. Lima tahun kemudian, metadon diproduksi di dalam negeri dengan prosedur konsumsi sesuai sistem kesehatan masyarakat RI.

Pada 2008, layanan terapi ini diselenggarakan di 189 puskesmas yang tersebar di sepuluh provinsi. Tidak hanya di puskesmas dan rumah sakit, tapi juga di lapas dan rutan. Tercatat, lebih dari 2.500 pasien mengalihkan ketagihan heroinnya ke metadon, dari memperoleh opioid di pasar gelap ke fasilitas kesehatan umum yang disupervisi secara medis.

Swiss memulai program uji coba peresepan diacetyl morfina alias heroin untuk mereka yang telah berulang kali kambuh di program-program perawatan sebelumnya pada 1994. Program ini menyasar masalah kesehatan pecandu yang disebabkan rendahnya kualitas heroin jalanan dan kebersihan peralatan konsumsinya, menurunkan kriminalitas yang berkaitan dengan narkoba, serta memelihara kualitas hidup pecandu untuk tetap produktif.

Keberhasilan percobaan di Swiss itu membuat kota-kota di Jerman, Belanda, dan Kanada turut melakukan uji coba program serupa.

Meskipun morfin dan alkaloid opioid lainnya adalah eksogen (berasal dari luar tubuh), tapi zat-zat tersebut menunjukkan efek agonis dengan mengikat reseptor opioid endogen (di dalam tubuh). Reseptor opioid pertama kali dijelaskan oleh Beckett dan Casy pada 1954.

Baca juga:  Lima Takhayul Kebijakan Narkoba Indonesia

Sebelas tahun kemudian, keberadaan beberapa jenis reseptor opioid dijabarkan. Selain morfin, senyawa organik opium yang terkandung pada tanaman Papaver somniferum di antaranya, kodein, papaverin, dan thebain. Senyawa yang disebutkan terakhir dikenal sebagai paramorfina, ekstraksinya dapat diubah secara industri menjadi berbagai senyawa, termasuk hidrokodon, hidromorfon, oksikodon, oksimorfon, nalbuphine, nalokson, naltrexone, buprenorfin, dan etorfin.

Oksikodon adalah opioid yang paling banyak dikonsumsi di AS dengan dan tanpa resep. Pada 2015, Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS memperkirakan sekitar 11 juta orang di AS mengonsumsi oksikodon dengan cara non-medis setiap tahunnya. Sekitar 42.800 kunjungan ruang gawat darurat terjadi karena “episode” yang melibatkan oksikodon pada 2007. Obat ini juga turut menyumbang belasan ribu kematian gegara overdosis dan kerusakan lever di negara tersebut.

Otoritas kesehatan AS melaporkan, kasus overdosis terbanyak disebabkan oleh opioid sintetis sejak 2013, terutama fentanil. Obat ini bermanfaat terutama untuk anestesi dan manajemen nyeri termasuk perawatan paliatif pasien-pasien seperti kanker yang sudah tidak dapat tertolong lagi dan tinggal menanti ajal sambil mengurangi nyeri yang menyiksa.

Opioid sintetis lainnya adalah buprenorfin yang izin edarnya diterbitkan BPOM RI pada 2002 untuk mengatasi ketagihan heroin.

Tags : candufentanilheroinlaudanummorfinopioidopium
Redaksi

The author Redaksi

Tim pengelola media dan data Rumah Cemara

Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.