close
WhatsApp Image 2022-03-29 at 10.25.28 AM
Gambar Ilustrasi: @abulatbunga

Pernah dengar dong kredo yang jadi judul tulisan ini? Ya, ketiganya kerap jadi rangkaian frasa untuk menggambarkan hura-hura, kesenangan, party sebagai cerminan kebebasan dan tentunya lekat dengan hedonistik.  

Saya tidak hendak membahas sahih tidaknya tudingan bahwa “sex, drugs, and rock n roll” ini mencerminkan hedonisme, yang secara awam dimaknai sebagai paham kesenangan terhadap kenikmatan hidup duniawi. Buat saya hal tersebut terlalu rumit, sebab saya kudu membongkar dan membolak-balik lagi berbagai buku filsafat. Biar itu jadi urusannya Rocky Gerung aja.

Ini Soal Budaya Tanding alias Counterculture

Kembali ke frasa “sex, drugs, rock n roll” yang jadi kredo kesohor itu. Banyak yang mengira kalau Ian Robins Durylah yang memperkenalkan serta memopulerkan ungkapan tersebut. Dury adalah vokalis Ian Dury and the Blockheads yang ngetop saat punk dan new wave happening di jagat musik rock Inggris pada pengujung 1970-an. Mereka merilis sebuah lagu berjudul “Sex & Drugs & Rock & Roll” pada 1977.

Kala itu Ian Dury memang berhasil memopulerkan kredo fenomenal itu. Sejak itu, banyak acara televisi, buku, film, bahkan sejumlah lagu rock lainnya mencantumkan rangkaian frasa tersebut. Sekarang pun, banyak orang masih mengenal ungkapan ekspresif yang pernah dijadikan judul lagunya Ian Dury and the Blockheads itu. 

Sekali lagi, Ian Dury memang orang yang bisa mencuatkan ungkapan itu hingga fenomenal. Tapi siapa yang sebenarnya pertama kali mengungkapkan kredo itu?

Sejauh ini penggunaan pertama ungkapan itu dapat ditemukan dalam sebuah artikel di majalah LIFE terbitan 1969. Dalam artikel yang ditulis Edward Kern seputar revolusi dan budaya tanding itu terdapat penggalan kalimat, “The counter-culture has its sacraments in sex, drugs and rock.”

Dua tahun kemudian, persisnya 16 Oktober 1971, sebuah majalah Inggris, The Spectator, dalam salah satu artikelnya memenggal kalimat dengan frasa serupa, “Not for nothing is the youth culture characterized by sex, drugs and rock ’n’ roll.”

Nah jika benang merahnya ditarik secara sederhana, kredo “sex, drugs, and rock n roll” memang identik dengan pandangan anak muda yang memberontak, keluar dari tatanan norma kemasyarakatan. Mereka menyatakannya sebagai sebuah budaya tanding. Mereka ingin kebebasan. 

Baca juga:  Konferensi Pers : Pentingnya dukungan program Cityzens Giving terhadap anak jalanan Bandung

Lalu apa itu counterculture alias budaya tanding?

Kasijanto Sastrodinomo menulis di Kompas edisi 24 Desember 2010 antara lain, istilah budaya tanding sebagai terjemahan counter-culture mulai dikenal di Amerika Serikat (AS) pada 1960-an. Saking tenarnya istilah tersebut, Oxford English Dictionary menambahkannya sebagai idiom Inggris sejak awal 1970-an. Kamus tersebut merumuskan counter-culture, atau counterculture sebagai, mode of life deliberately deviating from established social practices. Jadi, budaya tanding mengacu pada gaya hidup yang menyimpang dari praktik sosial yang telah mapan.

Secara sosiologis Sastrodinomo melanjutkan, budaya tanding mencerminkan konflik antargenerasi di AS ketika anak-anak muda menolak nilai, norma, dan perilaku budaya dominan kaum tua yang mereka pandang hegemonik dan memberlakukan kebenaran tunggal. Gerakan itu melibatkan mahasiswa Kiri Baru dan kaum bohemian yang gandrung membaca Hesse, Freud, dan Marx, menikmati musik jazz, lagu folk, dan mengonsumsi narkoba dan mempraktikkan “seks bebas”, tetapi juga menggalang protes politik. Mereka mengembangkan sikap egalitarian dan menolak etos rakus kapitalisme seperti diungkap dalam America’s Uncivil Wars karya Mark Hamilton Lytle (2006).

Muhammad Zaky Nur Fajar dan Jamie Paulus dalam Economica.id edisi 2 Juni 2021 menulis antara lain budaya tanding diperkenalkan pertama kalinya dalam ranah sosiologi oleh Talcott Parsons pada 1951 untuk mendefinisikan budaya menyimpang. Istilah ini makin dikenal pada 1960-an ketika Amerika Serikat mengalami gejolak sosial dengan kemunculan Hippies, sebutan untuk kelompok masyarakat yang mengikuti budaya hippie (Cavan, 1972).

Budaya hippie awalnya dipopulerkan anak-anak muda pinggiran San Fransisco, California akibat kian meningkatnya ketidakpercayaan mereka terhadap pemerintah. Tidak seperti budaya masyarakat AS saat itu, Hippies melakukan berbagai kegiatan subversif.

Ya, selintas kita mengenal Hippies sebagai sekelompok anak muda gondrong, memuja kebebasan, dan bersikap seolah-olah pengangguran dengan bermain gitar saja di pinggir jalan. Ini kebalikan dari norma umum masyarakat yang cenderung terus bekerja demi meraup pundi-pundi kekayaan untuk mencapai impian Amerika.

Perilaku Hippies lainnya yang dianggap sangat bertolak belakang dengan norma yang dominan di AS saat itu adalah mengonsumsi obat-obatan, kehidupan “seks bebas”, serta kerap telanjang di depan umum. Mereka juga dikenal sebagai kalangan yang antiperang dengan slogan “love, peace, and freedom”.

Sex, Drugs, Rock n Roll dalam Konteks Lokal

Anak muda di mana pun hampir serupa. Mereka punya energi besar untuk mengubah sesuatu. Mereka cenderung berontak saat ada kekuasaan yang hegemonik. Saat kehidupan seakan mewajibkan semua orang untuk tunduk pada kekuasaan materi yang kapitalistis, mereka melawan. Antikemapanan, begitu buat gampangnya kita sebut.

Baca juga:  Indonesia Tampil Gemilang di Laga Perdana HWC 2019

Sudut pandang kebudayaan juga kerap membuktikan, mereka tidak suka jika diatur dengan nilai dan norma yang berasal dari sistem kekuasaan. Pun di Indonesia.

Di akhir 1960-an atau awal 1970-an, penggunaan narkoba di kalangan anak muda mulai terdata sehingga seolah tampak meningkat. Di era itu, khususnya narkoba sintetis seperti LSD mulai banyak dikonsumsi. Penggunaannya juga sering disandingkan dengan musik cadas atau rock dan perilaku “seks yang bebas”.

Saya kurang sreg sebenarnya dengan istilah “seks bebas” yang kerap diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “free sex”. Entah siapa yang memulai, istilah “free sex” untuk menggambarkan perilaku seks yang tidak aman atau berganti-ganti pasangan ini buat saya terasa aneh. Sangat aneh. Tapi, biarlah ini jadi pembahasan tersendiri lain waktu.

Gaya hidup pada kredo “sex, drugs, rock n roll” pada 1960-an dan 1970-an banyak dikaitkan dengan sejumlah musisi rock Barat. Sebut misalnya The Beatles, Led Zeppelin, The Doors, dan tentu saja The Rolling Stones.

Sejarah mencatat, sejumlah musisi rock Indonesia dianggap merepresentasikan kredo “sex, drugs, and rock n roll”. Kita tahu bagaimana beberapa personel God Bless dicitrakan dengan kehidupan bebasnya pada 1970-an.     

Dalam artikel “Sex, Drugs, Rock n Roll: Era Narkoba Figur Publik Nusantara” di VOI.id, Detha Arya Tifada menulis, kesuksesan album pertama rilisan 1975 berjudul “God Bless” langsung melambungkan nama band itu. Bersamaan dengan itu, ganja dan groupies berseliweran. Perihal seks bebas jangan ditanya. Dan tak cuma God Bless band lokal yang identik dengan narkoba.

Baca juga:  Perwujudan Alexandra Kollontai dalam Diri Eva Dewi

Tentu saja yang tidak luput dari sorotan adalah the Rollies. Membahas the Rollies, Faisal Irfani menulis di Tirto.id lewat artikelnya bertajuk “The Rollies: Legenda di Antara Rock dan Jerat Narkoba”. Ia menyebut, di Indonesia, sepertinya hanya The Rollies yang mampu merepresentasikan kredo “sex, drugs, and rock n roll” secara paripurna. Grup musik ini sudah mengalami segala hal yang identik dengan band rock: perjuangan dari bawah, menjadi bintang papan atas, hidup bergelimang nafsu dunia, hingga jatuh ke lembah keterpurukan.

Salah satu personelnya yang ikonik, Deddy Stanzah, dikenal suka teler dan berantakan. Ia dipecat dari band-nya. Dasar seniman, Stanzah tidak kapok main band dan tetap dengan gaya hidupnya. Dari perjalanannya keluar masuk band, ada satu nama band yang patut disebut, Superkid. Mereka memainkan hard rock, blues, rock n roll, pop, hingga psikedelik.

Jalan hidup Deddy Stanzah memang berliku. Kehidupan rock star ini seakan menjadi praktik sejati dari konsep counterculture di atas. Betapa tidak, Stanzah yang lahir dari keluarga berkecukupan tidak lantas memapankan dirinya dengan kelaziman keluarga kelas atas. Ia ngotot main musik, hidup urakan, dan berpenampilan semaunya.

Ada satu artikel menarik tentang legenda asal Bandung ini, “Deddy Stanzah: Hidup dan Mati untuk Rock N Roll” oleh Nuran Wibisono Tirto.id, 22 Januari 2001.Nuran menulis antara lain Stanzah terlahir dari keluarga kaya. Tapi alih-alih meneruskan bisnis keluarganya, ia malah memutuskan menapaki jalan ingar bingar yang saat itu dekat dengan kepahitan: jalan musik. Di dunia yang dicintainya ini, Stanzah mengorbankan nyaris segalanya. Dari kekayaan sampai kesehatan.

Stanzah adalah seorang mega bintang tapi kelakuannya tak semena-mena seperti banyak mega bintang lain. Dia bahkan rela nombok, atau tak dibayar, untuk manggung. Yang penting naik ke panggung dan gila-gilaan.

Begitulah. Itu semua kisah tentang legenda dalam penggalan waktu di masa silam. Bagaimana dengan “sex, drugs, rock n roll” hari ini? Kalian pasti jauh lebih tahu. Yuk berbagi cerita!

Tags : Deddy StanzahdrugsGod BlessIan Durynarkobarock n rollsexsex drugs rock n roll
Tri Irwanda

The author Tri Irwanda

Praktisi komunikasi. Mulai menekuni isu HIV dan AIDS ketika bekerja di KPA Provinsi Jawa Barat. Punya kebiasaan mendengarkan lagu The Who, “Baba O’Riley”, saat memulai hari dengan secangkir kopi.

Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.